CPO & Turunannya adalah Industri Kini & Masa Depan Indonesia

revised on November 27, 2016

Kita perlu bangga bahwa sudah beberapa tahun ini Indonesia adalah penghasil dan eksportir terbesar CPO di dunia. CPO adalah penghasil besar devisa kita (sekitar USD 18 miliar pada 2014). Saat ini harga CPO lumayan (sekitar USD 660/ton). Perkebunan sawit yang besar dan punya pabrik CPO masih bisa untung karena biaya produksinya di bawah USD 350/ton CPO. Tetapi, para petani kecil, terutama yang nonplasma, tidak mendapatkan harga yang cukup untuk memelihara pohon sawit mereka (min. Rp 1.250 per kg). Jika keadaan ini berlanjut sd akhir tahun ini, dikhawatirkan banyak petani sawit akan ganti usaha dan kedudukan kita sebagai eksportir CPO terbesar di dunia akan terancam. Inilah saatnya untuk pemerintah hadir, terutama melalui pembelian lebih banyak CPO untuk pembuatan biosolar (B15 & B20).

 

Energi Alkoho/hal dari Kebun Sawit 2 kali Energi Alkohol/ha Kebun Tebu, 10 kali Kedelai/ha

Pada 1983 James A. Duke, Ph.D., salah seorang profesional terkenal di Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), ditugaskan oleh Pusat Energi Pertanian Bagian Utara USDA untuk menyusun laporan perbandingan yang netral tentang 200 jenis tanaman penghasil energy terbarukan yang tumbuh di negeri-negeri berkembang (CRC Handbook of Agricultural Energy Potential of Developing Countries, 1987). Di buku Secrets of the Soil (1998), dia memuji kelapa sawit sebagai salah satu sumber energy terbarukan organic yang paling produktif.  Berdasarkan produksi /ha, salah satu varitasnya dapat menghasilkan  energy alcohol sebanyak 2 kali energy  yang dihasilkan pohon tebu, atau 10 kali energi yang dihasilkan oleh kedelai. Sawit dapat tumbuh di tanah terdegradasi, tadah hujan, rawa dsb yang biasanya sulit ditumbuhi oleh tanaman ekonomi lainnya. Juga kebal terhadap air asin walaupun terkena pasang surut 2 kali sehari.

10 juta ha Kebun Sawit menyerap 250 juta ton CO2/tahun

Selain itu, untuk melakukan fotosintesa, pohon sawit dapat menyerap 25 metrik ton CO2 /ha/ tahun sehingga 10 juta ha kebun sawit akan menyerap 250 juta MT CO2/tahun dari udara sekitarnya, kontribusi luar biasa besar dalam penyerapan CO2 untuk memenuhi komitmen Indonesia dalam mengurangi pemanasan sedunia. Proses fotosintesa juga diketahui menghasilkan produk tambahan berupa  O2 yang menyejukkan lingkungan.

Tingkatkan Produksi TBS Sawit dengan Teknologi yang ramah lingkungan

Untuk meningkatkan produksi TBS sawit per ha secara intensif dan berkelanjutan, penting sekali memakai teknologi yang ramah lingkungan, misalnya dengan menyuburkan atau menyehatkan tanahnya secara alami sehingga produksi bisa naik sd 40%. Tanah yang subur dan sehat membantu menyerap banyak air hujan, mengurangi erosi dan pencucian (leaching), menurunkan suhu udara dan mencegah kebakaran. Pohon-pohon yang tumbuh di atasnya lebih tahan terhadap musim panas. Teknologi ini sudah lama tersedia di mana-mana di negeri kita.

 

Semoga bermanfaat.