lijusu news

 

 

education

 

careers

 

 economy

 

health

 

 finance

 

interviews

 

 news

 

science-

tech

 

bimbingan

usaha

peluang

usaha 

IQ tinggi bukan jaminan sukses

oleh Indra S.T. & Bayu S., 1 April 2019

1. IQ      1. IQ tinggi penting tetapi bukan segala-galanya.

kare        Potensi dan keberadaan sesungguhnya kecerdasan lain milik seseorang umumnya tidak terdeteksi oleh tes IQ, misalnya:

i.            Kecerdasan emosional (EI: EQ));

ii.           Kecerdasan spiritual (SI; SpQ),

iii.         Kecerdasan kasih-sayang (LI; LQ);

iv.         Kecerdasan social (ScI; ScQ);

v.          Kecerdasan kebahagiaan (HI; HQ);

vi.         Pengalaman;

vii.       Pengetahuan praktis;;

viii.      Kreativitas;

ix.         Imajinasi;

x.          Dll.

2. IQ tinggi bukan jaminan sukses

Majalah National Geographic (May 2017, hal. 42) melaporkan bahwa bersama-sama dengan timnya, Lewis Terman (psikolog di Universitas Stanford dan pelopor tes IQ Stanford-Binet bersama-sama dengan Alfred Binet) melakukan penelitian dari tahun 1920-an sd 1960-an dan memberitakan hasil-hasilnya melalui serangkaian laporan dengan judul Genetic Studies of Genius:

(i)    Mengikuti perjalanan hidup lebih dari 1.500 orang anak sekolah di California dengan IQ 140 ke atas (tergolong jenius atau hampir jenius);

(ii)   Sebagian dari anak-anak itu menjadi anggota Himpunan Ahli Ilmu Pengetahuan Nasional (NAS) AS, politisi, dokter, professor, dan musisi;

(iii)  Terman dkk mencatat ribuan makalah akademis dan buku yang para jenius itu terbitkan, 350 buah paten yang mereka dapatkan dan sekitar 400 buah cerpen yang mereka tulis;

(iv)  Temuan-temuan:

-        Pertama-tama, beberapa puluh orang keluar dari perguruan tinggi;

-        sejumlah lainnya harus berjuang keras untuk sukses;

-        Dll.

(v)  Sejumlah anak sekolah lain, yang ikut tes IQ tetapi tidak dimasukkan ke program penelitian itu karena IQ mereka tidak cukup, ternyata tumbuh dewasa dan menjadi termasyur di bidang-bidang mereka. Yang paling terkenal di antaranya adalah Luis Alvarez dan William Shockley, yang dua-duanya mendapatkan Hadiah-Hadiah Nobel dalam bidang fisika.  

3. Kecerdasan Emosional (EI; EQ) lebih penting daripada IQ untuk sukses dalam hidup seseorang

 

Daniel Coleman Ph.D., seorang lulusan Universitas Harvard dan penulis buku terkenal Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional; yang lebih dikenals ebagai EQ) (1995), menulis di halaman xii buku itu  bahwa banyak orang dengan IQ tinggi gagal dalam hidup mereka sedangkan orang dengan IQ sedang-sedang saja bisa sukses. Karena itu, dia melakukan penelitian yang mendalam tentang apa factor-faktor sukses dan kegagalan mereka masing-masing. Dengan bantuan hasil-hasil penelitian para ahli ilmu sel syaraf  (neuroscientist) dengan bantun teknologi pembuatan gambar  cara-cara kerja otak manusia dengan menggunakan pembiasan suara secara magnetis (magnetic resonance imaging; MRI), dia mengemukakan teori kecerdasan emosi (EI; EQ) melalui bukunya yang berjudul Emotional Intelligence (1994, 1995) yang terjual jutaan eksemplar dalam waktu singkat.

Dia mendefinisikan EQ sebagai kemampuan kendali diri, semangat dan ketekunan serta kemampuan untuk memotivasi diri. Keterampilan-keterampilan itu bisa diajarkan kepada anak sehingga memberi mereka kesempatan yang lebih baik untuk memakai potensi intelektuan apa pun yang mungkin mereka miliki secara lotere genetis.  

      3.1 Salah satu Manfaat EQ

Dia berkata bahwa seorang salesman yang menerapkan EQ-nya dalam berbicara dan menyajikan produk atau jasa yang dijualnya akan lebih sukses daripada salesman lain yang hanya mengandalkan IQ-nya walaupun tinggi karena sang pembeli lebih percaya pada perkataan salesman yang pertama, misalnya jujur, berempati, erus-terang, ramah, informative, sabar dll.

Menurut catatan penulis, salah satu contoh orang yang memiliki EQ tinggi adalah Presiden Xi Jinping di China yang terkenal mampu stabil dalam emosinya walaupun dalam keadaan tertekan, menderita dll.

Orang-orang yang demikian cocok sebagai juru runding, pemimpin regu, negeri dll.

4.  Kecerdasan Sosial (SI; ScQ)

Daniel Coleman juga meneliti lagi fakta-fakta ilmiah lain, yaitu tingkah laku dan sikap kita berpengaruh pada orang yang kita temui atau ajak bicara, dan menerbitkan buku Social Intelligence (Kecerdasan Sosial) (2006, 2007). Dia memperluas definisi social intelligence yang dibuat oleh psikolog Edward Thorndike pada 1920 dari “kemampuan untuk memahami dan mengelola pria dan wanita” menjadi “kemampuan atau kecerdasan tentang hubungan antar-manusia dan juga dalam hubungan itu.” (2007: 11).

Dasar-dasar pemikirannya adalah temuan-temuan para ahli ilmu sel syaraf  social (social neuroscientist) yang semuanya menunjukkan pemahaman ilmiah yang lebih tajam tentang dinamika sel syaraf dalam hubungan di antara manusia, yang antara lain (2007:9):

(i)      sel kumparan, yaitu sebuah kelompok neuron (sell sel syaraf) yang baru ditemukan, yang bertindak paling cepat tentang apa pun sehingga membimbing keputusan-keputusan social yang mendadak untuk kita—dan telah terbukti lebih banyak jumlahnya di dalam otak manusia daripada yang ada di spesies lain mana pun;

(ii)      berbagai macam sel otak, yaitu sel sel syaraf cermin, yang merasakan gerakan yang akan dilakukan oleh seseorang dan perasaan-perasaan orang itu serta secara seketika menyiapkan dirinya untuk meniru gerakan itu dan melakukan tindakan perasaan bersama-sama dengan sel-sel sel syaraf itu;

(iii)     ketika mata seorang wanita yang dianggap menarik oleh seorang pria memandang langsung pada pria itu, otak pria itu akan mengeluarkan dopamine, yaitu zat kimia yang mendorng timbulnya rasa senang, tetapi otaknya tidak berbuat demikian ketika wanita itu memandang ke tempat atau orang lain.

4        Kecerdasan seseorang kadang-kadang tidak terlihat pada usia dini

4.1     Charles Darwin dan bukti salah satu kelemahan tes IQ

Di bagian Pendahuluan buku  “The Origin of Species” (1859), James Wallace, ilmuwan besar Inggeris yang juga teman baik Charles Robert Darwin, yang lebih dikenal sebagai Charles Darwin, menulis bahwa Charles Darwin pada masa mudanya tidak menunjukkan kemungkinan bahwa ia akan menjadi ilmuwan yang revolusioner nantinya. Di SMU Shrewbury, Inggeris, dia secara relatif tidak berbeda dari murid-murid lainnya. Lalu, dia dikirim oleh ayahnya, yang seorang dokter kaya raya,  ke Universitas Edinburg untuk belajar ilmu kedokteran. Tetapi, kemajuan akademisnya tidak seperti yang diharapkan oleh ayahnya karena ia terlihat “mengambang” sehingga dua tahun kemudian ayahnya memindahkannya ke Universitas Cambridge untuk belajar teologi Gereja Inggeris. Tetapi, pada saat itu Charles Darwin kelihatan lebih melakat pada olahraga lapangan daripada kuliah teologinya.

Namun, selama di Universitas Edinburg, Charles Darwin adalah anggota The Plinian Society (Himpunan Plinia) yang dipimpin oleh para mahasiswa/-i. Di himpunan yang sering mengadakan debat yang radikal tentang materialism (falsafah bahwa benda atau materi adalah realita satu-satunya), dia sangat dipengaruhi oleh Robert Grant, seorang pemikir aliran evolusi dan ahli hewan laut tanpa tulang belakang (invertebrate), yang Charles Darwin dampingi selama kunjungan-kunjungan lapangan dan meniru kegiatan Robert Grant melalui penelitian maupun pengamatan coba-coba awal tentang spons.

Catatan: Himpunan itu akhirnya tutup pada tahun 1841 (www.en.wikipedia.org/wiki/Plinian_Society).

Majalah National Geographic (May 2017:42) juga melaporkan bahwa Charles Darwin ingat bahwa dia dipandang “sebagai bocah yang sangat biasa, agak di bawah standar umum kecerdasan.” Tetapi, ketika dewasa, dia menyelesaikan misteri tentang bagaimana keaneka-ragaman makhluk hidup yang indah ini terjadi. 

Jadi, terobosan-terobosan ilmiah seperti teori evolusi Darwin melalui seleksi alamiah tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya kreativitis, yaitu salah satu jenis kejeniusan yang tidak dapat diukur oleh tes IQ buatan Lewis Terman itu.

4.2     Albert Einstein tidak bisa bicara dengan lancar sampai umur 9 tahun

Di halaman 27 buku tentang Albert Einstein: The Life and Times (1971, 1984), Ronald W. Clark menulis bahwa Einstein tidak memperlihatkan adanya kejeniusan yang “tertidur.” Contoh: dia belum bisa bicara lancar bahkan sampai usia 9 tahun!!! Orangtuanya takut bahwa dia adalah anak di bawah normal.

Di halaman yang sama, Clark juga menulis bahwa Leonardo da Vinci, Hans Christian Andersen, Einstein dan Bohr adalah pria-pria super yang telah melewati hambatan penyakit disleksia (penyakit/gangguan perkembangan seseorang yang dapat menyebabkan kesulitan belajar dalam satu bidang atau lebih bidang baca, tulis atau numerasi).”

Di keluarga Einstein, ada legenda sebagai berikut: Hermann Einstein, ayah Albert Einstein, pernah bertanya kepada kepala sekolah putranya tentang profesi apa yang sebaiknya dijalani oleh Albert Einstein, jawaban kepala sekolah itu adalah hanyalah,” Tidak ada artinya; dia tidak akan pernah sukses dalam hal apa pun.” (IST&BS)

Artikel-artikel sejenis:

Otak kita pembelajar

oleh Tjan Sie Tek

Konsentrasi pikiran (meditasi) terbukti mengubah arsitek dan sifat kita

oleh Tjan Sie Tek