education

 dictionary

 

 

business

quotations

 

sworn

translators

 

 

science-

tech

IQ tinggi tidak jamin sukses kepemimpinan

Ada anggapan bahwa pemimpin yang ideal memiliki IQ yang tinggi dan kecerdasan tingkat pucuk. Tetapi, sains membuktikan yang sebaliknya.

       A. Orang yang ber-IQ di atas 120 dianggap bukan pemimpin yang berhasil atau ideal

Prof. Dean K. Simonton, Jurusan Psikologi Universitas California di Davis, AS., berteori bahwa setelah tingkat kecerdasan tertentu, kecerdasan yang lebih tinggi akan menimbulkan penurunan keefektivan/-ketepat-hasilan kepemimpinan. Alasannya sederhana, yaitu orang-orang yang ber-IQ tinggi cenderung perfeksionis, atau ingin segalanya sempurna. Mereka tidak dapat menyerahkan tugas kepada bawahan mereka. Mereka tidak mau menerima hasil apa pun yang tidak sempurna. Mereka cenderung mengalami persoalan komunikasi dengan orang-orang yang ber-IQ lebih rendah.

Untuk mencari tahu kebenaran teori kepemimpnan tersebut, Prof. John Antonakis, Universitas Lausanne, Perancis, Prof. Robert. J. House, sekarang almarhum, dari Fakultas Manajemen Wharton, Universitas Pennsylvania,  dan Dean K. Simonton melakukan penelitian bersama.

Mereka menulis artikel yang merupakan hasil penelitian bersama itu, diterbitkan pada Maret 2017 oleh Jurnal Psikologi Terapan, dengan judul “Can Supersmart Leaders suffer from too much of a good thing?: The Curvilinear Effect of Intelligence on Perceived Leadership Behavior (“Mungkinkah orang yang super cerdas menderita karena luar biasa cerdas?: Dampak Kurvilinear (atau huruf U terbalik) dari Kecerdasan terhadap Perilaku Kepemimpinan menurut Persepsi).

Penelitian mereka berdasarkan data yang dikumpulkan dari 379 orang manajer menengah di sejumlah perusahaan Eropa dalam berbagai industri. Para peneliti itu menelusuri para manajer tersebut selama 6 tahun. Tingkat-tingkat IQ para manajer itu diukur secara berkala selama masa tersebut. Mereka juga diberi sejumlah tes kepribadian. Lalu, para peneliti menanyai para bawahan mereka tentang keefektivan para pemimpin mereka itu.

Setiap manajer diberi suatu peringkat oleh minimum 8 orang di antara rekan mereka yang setingkat. Para peneliti menerapkan Daftar Tanya Kepemimpinan dengan Banyak Faktor (MLQ) untuk mengukur mutu kepemimpinan para manajer tersebut. Daftar tanya itu juga minta para bawahan mereka memeringkat para manajer masing-masing berdasarkan 2 gaya kepemimpinan, yaitu transformasional (bersifat mengubah) dan instrumental (berperan penting).  

Ringkasan temuan mereka:

a.   Kecerdasan penting tetapi hanya sampai tingkat tertentu.

b.   Orang-orang yang terlalu cerdas dibandingkan dengan kelompok yang mereka pimpin dapat membatasi keefektivan kepemimpinan mereka.

c.   Ketika tingkat IQ melebihi 120, keefektivan kepemimpinan turun.

d.   Para pemimpin itu mungkin mengalami keterbatasan karena mereka (a) nengajukan “solusi-solusi yang lebih canggih terhadap masalah dan mungkin jauh sulit untuk dipahami” (Simonton, 1985:536); (b) memakai cara yang rumit untuk komunikasi lisan dan kecanggihan ekspresif (menggunakan perasaan) yang juga dapat merongrong pengaruh mereka” (Simonton, 1985: 536); dan (c) mereka tampak terlalu “menggunakan otak” sehingga menjadikan mereka kurang cocok untuk kelompok yang mereka pimpin (bandingkan dengan Hogg, 2001).

Bagian (c) itu penting untuk ditekankan karena para pemimpin sebaiknya cocok untuk kelompok yang sedang mereka pimpin. Jika mereka terlalu cerdas, mereka secara pergaulan dapat terlihat tersendiri atau terlalu terpisah dari kelompok yang sedang mereka pimpin.

Catatan: dalam hal ini, kita sedang membahas peringkat-peringkat kepemimpinan menurut persepsi, atau tidak objektif.

B. Keterbatasan tes IQ (dikutip dari IQ tinggi bukan jaminan sukses)

Potensi dan keberadaan sesungguhnya kecerdasan lain milik seseorang umumnya tidak terdeteksi oleh tes IQ, misalnya:

i.            Kecerdasan emosional (EI: EQ));

ii.           Kecerdasan spiritual (SI; SpQ),

iii.         Kecerdasan kasih-sayang (LI; LQ);

iv.         Kecerdasan social (ScI; ScQ);

v.          Kecerdasan kebahagiaan (HI; HQ);

vi.         Pengalaman;

vii.       Pengetahuan praktis;;

viii.      Kreativitas;

ix.         Imajinasi;

x.          Dll.

 

Baca juga IQ tinggi bukan jaminan sukses