Kunci Sukses Bisnis Orang Jepang (1)

 

No Misu

 

Terbaik Kedua tidak cukup baik.

 

Jepang menganggap kebangkitannya menjadi adikuasa berasal dari berbagai faktor internal dan eksternal. Namun, bukan masalah berapa banyak bantuan yang diperoleh orang Jepang dari teknologi luar negeri, pasar-pasar Amerika dan Eropa yang besar sekali, kaya dan terbuka serta berbagai perang Amerika di Korea dan Vietnam, tidak akan ada Jepang yang adikuasa jika tidak karena sejumlah faktor budaya yang telah benar-benar menjadikan orang Jepang sebagai salah satu bangsa yang unggul.

     Satu dari berbagai faktor budaya yang menjadi salah satu pilar utama dalam bangunan ekonomi yang dibangun oleh orang Jepang adalah obsesi mereka pada mutu. Dari sekitar abad ke-5 dan ke-6, ketika Jepang mulai pertama kali mengimpor teknologi keterampilan tangan dan para artisan (perajin tangan yang terampil) dari Korea dan Tiongkok, orang Jepang semakin terpapar pada berbagai seni dan keterampilan yang dibuat oleh para ahli. Orang Jepang juga menerapkan dan menguraikan panjang-lebar tradisi Tiongkok kuno dalam menggunakan pendekatan guru-pemagang (master-apprentice; seorang pemagang bekerja di bawah bimbingan seorang guru) untuk melatih para artisan dan craftsmen (para seniman dengan keahlian teknik). Anak laki-laki, kadang-kadang dari usia tujuh atau delapan tahun, secara rutin dijadikan pemagang kepada para artisan dan craftsmen yang ahli  selama 10 hingga 30 tahun. Sistem itu, yang diteruskan dari generasi ke generasi, menghasilkan banyak sekali tukang kayu, pengukir, pelukis, pembuat tembikar yang ahli dan banyak artisan lainnya, sehingga secara bertahap menaikkan tingkat mutu segala sesuatu yang diproduksi di Jepang dan mengilhami orang biasa Jepang dengan apa-apa yang mungkin benar-benar telah menjadi standar-standar mutu yang tertinggi di dunia.

     Ketika Jepang diindustrialisasikan (dijadikan negeri industri secara besar-besaran) antara tahun 1870 dan 1895 serta negeri itu mulai menghasilkan produk-produk Barat, yang biasanya di bawah arahan para importir luar negeri, mereka tidak dapat menerapkan berbagai standar mutu tradisional mereka karena produk-produk tersebut masih baru bagi orang Jepang dan dibuat dengan perlengkapan yang tidak dikenal serta diproduksi secara massal.

     Fenomena itu terulang setelah berakhirnya Perang Dunia II, namun kali itu dengan akhir yang berbeda. Pada akhir tahun 1940-an dan awal tahun 1950-an, para insinyur Jepang, bekerja sama dengan para penguasa pendudukan Amerika, memutuskan untuk memperkenalkan metode pengendalian mutu terbaru ke Jepang.

     Pada tahun 1950, ahli kendali statistik dari Amerika W. Edward Deming diundang untuk memberi kuliah di Jepang. Ia disusul di tahun 1954 oleh J.M. Juran, yang juga seorang ahli kendali mutu dari Amerika. Sepanjang dekade berikutnya orang Jepang menyatukan berbagai metode pengendalian mutu yang mereka pelajari dari kedua orang ahli Amerika tersebut dengan pendekatan tradisi guru-pemagang untuk pelatihan dan obsesi mereka pada kerapian, presisi dan mutu, untuk merekayasa dan menghasilkan sederetan produk bermutu tinggi yang menggemparkan dunia.

 

 

Diterjemahkan oleh Bayu, Yanto dkk. & disunting oleh Tjan Sie Tek, Kantor Penerjemah Tersumpah & Resmi Tjan Sie Tek, dari Japanís Cultural Code Words