Net Interest Margin (NIM) Perbankan Indonesia Tertinggi No. 49 di Dunia, di atas yang AS dan China

oleh Tjan Sie Tek & Selda A. Indri, 24 Agustus 2021

1. Latar Belakang

Suku bunga kredit didasarkan pada berbagai macam faktor:

(1) Makro: antara lain:

 (i) laju inflasi yang sedang berjalan dan yang diperkirakan (yang bergantung pada hukum penawaran dan permintaan barang dan jasa, umumnya dikendalikan melalui kebijakan moneter dan/atau fiskal);

(ii) likuiditas perbankan (semakin banyak tabungan, akan semakin likuid pasokan dana pihak ketigha (DPK);

iii) permodalan perbankan (semakin tinggi modal inti dan CAR, semakin mungkin bagi bank untuk bersaing dalam suku bunga kredit;

(iv) persaingan di antara bank untuk mendapatkan nasabah, kadang-kadang melalui takeover nasabah, terutama nasabah yang bonafid.

 (2) Mikro: antara lain

(i) kelayakan kredit nasabah yang didasarkan pada reputasi,

(ii) barang jaminan,

(iii) laba bruto dan bersih (semakin tinggi laba nasabah, semakin mungkin bank memberikan kredit jika nasabah memenuhi persyaratn lainnya);

(iv) prospek bisnis;

(v)  jenis usaha (tradisional, sedang mundur/maju, akan maju dll),

(vi) ada tidaknya penjamin pribadi dan/atau perusahaan (ini bisa lebih penting daripada barang jaminan sekalipun),

(vii) pangsa pasar produk atau jasa (semakin besar pangsa pasar produk atau jasa nasabah, semakin mungkin bank memberikan kredit jika nasabah memenuhi persyaratan lainnya),

(viii) kebutuhan nasabah sendiri (semakin urgent bagi nasabah untuk mendapatkan kredit, semakin bank mungkin akan tawarkan suku bunga yang lebih tinggi dan persyaratan yang lebih berat daripada keadaan normal),

(ix) biaya dana (cost of fund) bank (semakin rendah biaya dana sebuah bank, semakin mampu bank itu untuk memberikan kredit dengan bunga yang bersaing jika persyaratan lainnya sama dengan bank-bank yang lain dan dipenuhi oleh nasabah)

2. NIM Perbankan AS

  3 NIM Perbankan China

 

4. NIM Perbankan Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di dunia (secara historis 2 X NIM Perbankan AS, 2,3 X NIM Perbankan China)

Catatan: Karena pandemi Covid-19, NIM perbankan Indonesia turun dari di atas 5%. NIM pada posisi Mei 2021 sebesar 4,66 persen, lebih tinggi dari posisi Desember 2020 sebesar 4,45 persen.

5. NIM perbankan China selama 2020 secara rata-rata 2,1% (di bawah NIM perbankan AS yang sekitar 2,6%) karena perbankan China menurunkan suku bunga kredit rata-rata sebesar 0,39% untuk kredit baru selama 2020, yang juga dilakukan oleh perbankan AS (lihat grafik di atas), guna membantu para nasabah menanggulangi dampak pandemi Covid-19. Selain itu, atas kebijakan pemerintah China, perbankan China mengijinkan para nasabah menunda pembayaran pokok utang plus bunganya sd akhir 2021 dan pemerintah menyediakan 40% dari pokok kredit kepada pengusaha kecil. Untuk 2021, NIM perbankan China mulai naik sedikit  (www.spglobal.com - 28 Maret 2021: China's largest bank says asset quality pressure growing, but still manageable) sehingga diperkirakan akan mencapai 2,4% yang merupakan rata-rata sejak 2016. Sebagai perbandingan, NIM perbankan AS selalau di atas 3%. Lihat grafik-grafik di atas.

6. NIM Perbankan Indonesia: Ke-49 Tertinggi dari 179 Negeri di Dunia per akhir 2017

6.1 Peringkat 1-54

  6.2 Peringkat 26-54

   

  

   6.3 Peringkat 88-119 Tertinggi di Dunia

   6.4 Peringkat 145-173

   

  6.5 Peringkat 174-179

   

 

(TST & GAI)