Membeli Kebun Sawit: Yang perlu diperhatikan

Informasi Ringkas:
1. Kelas Lahan:

A: Lokasi dekat (di bawah 20 km) dari jalan besar yang ber-aspal tebal, provinsi
atau nasional; kontur lahan hampir semuanya rata; jalan-jalan di dalam kebun
keras, bagus, tertata dan terpelihara dengan baik; tersedia sungai yang cukup
besar, berair bersih dan air tersebut sepanjang tahun terbukti cukup untuk
kebutuhan pembibitan, perumahan pegawai serta operasi kebun maupun pabrik kelapa
sawit.

B: Lokasi cukup jauh (20-30 km) dari jalan besar yang ber-aspal tebal, provinsi
atau nasional; kontur sebagian (+/- 50%) lahan rata dan sebagian lagi
bergelombang, sebagian (+/- 50%) berawa dengan kedalaman maksimal 1 m;
jalan-jalan di dalam kebun cukup keras, lumayan bagus, cukup tertata dan cukup
terpelihara; tersedia sungai kecil dengan air cukup bersih dan
sepanjang tahun terbukti cukup untuk pembibitan, berair cukup bersih dan harus
cukup untuk kebutuhan pembibitan, perumahan pegawai serta operasi pabrik kelapa
sawit.

C: Lokasi jauh (30-50 km) dari jalan besar yang ber-aspal tebal, provinsi atau
nasional; kontur sebagian besar (>50%) lahan bergelombang atau berbukit-bukit
kecil, sebagian besar (> 50%) berawa dengan kedalaman lebih dari 1 meter;
sebagian besar (>50%) jalan-jalan di dalam kebun tidak keras, tidak bagus, tidak
cukup tertata dan tidak cukup terpelihara; tersedia sungai kecil yang airnya
terbukti hampir-hampir tidak cukup untuk kebutuhan pembibitan, perumahan pegawai
dan kegiatan operasi kebun maupun pabrik kelapa sawit.

D. Lokasi sangat jauh (di atas 50 km) dari jalan besar besar yang ber-aspal
tebal, provinsi atau nasional; kontur hampir seluruh ( >70%) lahan bergelombang
dan berbukit-bukit cukup besar, hampir seluruhnya (>80%) berawa dengan kedalaman
lebih dari 1 m; hampir seluruh (>80%) jalan-jalan di dalam kebun lunak, tidak
bagus, tidak tertata dan tidak terpelihara.


2. Merek bibit dan jumlah pohon per hektar

A: Minimum bermerek Lonsum, Socfin, Marihat, SJ yang terbaik atau merek lain
yang setara, atau bahkan yang lebih baik, misalnya Bahlias, yang harus
benar-benar dibuktikan dengan sertifikat dan berasal dari sumber/agen yang resmi
dari setiap pemilik merek/perusahaan pembiak; rata-rata 129 pokok per hektar;
daun dan batangnya terlihat sehat, misalnya hijau (cukup) tua (lebih baik
berkonsultasi atau mengkaryakan para ahlinya); terpelihara, terpupuk secara
benar dan konsisten/menurut rotasi; memiliki riwayat pohon dan blok yang
lengkap; sebagian besar pohonnya berusia di bawah 10 tahun.

B. Bibit merek lain yang tidak setara dengan yang di atas; kurang dari 129 pokok
per hektar; daun dan batangnya terlihat kurang sehat; tidak terpelihara dan
tidak terpupuk secara benar serta tidak konsisten/menurut rotasi; tidak memiliki
riwayat pohon dan blok yang lengkap. Sebagian besar pohonnya berusia di atas 10
tahun.

Masalah-Masalah Umum Berinvestasi di Kebun Sawit

1. Sebagian besar investor yang berminat bisnis ini (di atas 90%) bukan
profesional bisnis ini sehingga tidak mengetahui secara persis masalah di
lapangan, misalnya status lahan apakah bersengketa dll, mutu pohon dan buahnya,
jenis pupuk yang tepat pada tahap pembibitan, TBM, TM, panen, administratif,
peraturan dll. Pengelolaan kebun sawit membutuhkan tim ahli berbagai bidang
misalnya ahli pembukaan lahan, penyiapan infrastruktur dan fasilitas,
pembibitan, pupuk, panen dll. Jadi, jangan andalkan satu atau dua orang ahli
saja sebelum membeli kebun. Teliti sebelum membeli. Juga, sebagian besar kebun
sawit memiliki plasma sehingga penelitian lapangan harus lebih dalam tentang
sertifikat, perjanjian dengan pihak inti, utang bank, mutu pohon, keadaan
infrastruktur dll.

2. Beberapa orang investor membeli kebun yang lahannya dalam sengketa baik
dengan penduduk pemilik, perusahaan kebun tetangga maupun pihak lain, walaupun
lahan tersebut dan kebunnya telah memiliki sertifikat maupun perijinan yang
diperlukan. Investor yang ingin membeli lahan kosong dengan hanya memiliki ijin
bupati setempat dll harus lebih hati-hati karena banyak lahan "tidur" ketika
tidak ada investor yang membelinya. Lalu, lahan itu "bergejolak" ketika investor
membelinya.

3. Sekarang ini hampir 98% pemilik kebun yang Kelas A tidak ingin menjualnya
karena sedang untung besar. kalau perlu dana, setiap bank segera memberikannya.
Jadi, harganya tentu mahal sekali apalagi harga CPO sedang tinggi. Contoh:
Sekitar sebulan lalu, ketika harga CPO melebihi USD 1,000 per ton, harga kebun
sawit naik hampir 50% daripada harga sebelumnya.

4. Jadi, kebun yang sedang ditawarkan untuk dijual sekarang ini biasanya Kelas B
dan di bawahnya sehingga investor harus benar-benar teliti. Caranya:
Berpahit-pahit dahulu daripada menangis kemudian. Perencanaan yang matang sama
dengan telah menang perang sebagian. Tahap-tahapnya: Sediakan dana yang cukup
sesuai target, bentuk tim ahli berbagai bidang yang jujur, benar-benar
berpengalaman di lapangan, tahu segala macam peraturan dan persyaratan yang
mengikat bisnis ini, cari lahan dan teliti segala sesuatunya dengan mendalam
sebelum membeli.

Kendala umum: pemilik lahan yang bersangkutan biasanya ingin cepat-cepat
bertransaksi, baik dengan cara memberikan batas waktu yang pendek sekali,
peringatan dll. Jangan terpengaruh. Luas kebun sawit biasanya ribuan bahkan
puluhan ribu hektar dan seringkali berada di beberapa desa atau kecamatan,
kabupaten dll. Jadi, tidak wajar kalau calon penjual memaksa transaksi segera.