<%@ Language=JavaScript %> Tjan Sie Tek

 

                                 

 

education

 

dictionary

 

 

business

 

quotations

 

sworn

 

translators

 

 

science-

 

tech

         

 

     Ajaran Buddha Gotama:

Di Di antara semua pemberian,

pemberian Ajaran Buddha adalah yang tertinggi.

       

 

Artikel Dhamma

English Section:

Struggling to find happiness while you’re stuck at home? Experts say contentment is enough:

https://www.washingtonpost.com/lifestyle/2020/05/29/if-youre-struggling-with-happiness-experts-say-shoot-being-content-itll-last-longer/

Indonesian:

Kembali ke: http://tjansietek.com/

http://tjansietek.com/translation.html

 

> Bahagianya jadi kalyanana mitta (teman baik)

> Untungnya jadi Buddhis yang baik

> Mimpi Tjan Sie Tek ke Surga & Menikahi Sosok Dewi

 > The Hereafter

>NIBBANAPATISAMYUTTA KATHA-Part 2

>Nibbanapatisamyutta-Part 3

1.Bahagianya jadi kalyanamitta (teman baik)

A. Empat ciri kalyanamitta:

1. Penuh saddha (keyakinan) pada Buddha, Dhamma & Sangha;

2. Penuh moralitas (sila), terutama malu melanggar sila & takut dengan akibatnya;

3. Penuh caga (kedermawanan): suka berdana, menolong orang lain dll; dan

4. Penuh panna (kebijaksanaan), terutama mengerti perbuatan mana yang baik atau buruk, benar atau  salah sesuai dengan Dhamma.

 

 

 

B. Keuntungan kita sebagai kalyanamitta

I. Bagi diri sendiri:

i. Penampilan tenang, teduh dan ramah;

ii. Pikiran positif sehingga tenang;

iii. Dapat terhindar dari penyakit-penyakit yang sering menyerang orang yang tidak baik;

iv. Percaya diri ketika berjumpa dengan siapa pun karena tidak ada rasa bersalah, siap memaafkan orang lain dll;

v.  Tidur nyenyak, bangun dan juga bekerja dengan tenang;

vi. Mampu mengendalikan indranya sehingga setiap perbuatannya sangat terkendali; vii. Perkataan penuh rasa sila, persahabatan dan menyejukkan orang-orang yang ditemuinya;viii. Berasa aman di mana pun karena berasa bersahabat dengan siapa pun; ix. Ramah kepada siapa pun karena tahu keramahan adalah salah satu kebajikan dan berkah utama; x. Dll.

II. Sehubungan dengan orang lain:

i. Pintu rumah dan kantor mereka terbuka bagi kita sehingga terbuka banyak peluang untuk berteman jangka panjang, berbisnis maupun berorganisasi bersama-sama; ii. Mereka menyapa kita dengan ramah ketika melihat kita; iii. Mereka siap menjamu kita dengan penuh percaya, hormat dan ramah-tamah; iv. Mereka merasa nyaman dan aman ketika berada di dekat kita dan ketika berbicara tentang apa pun; v. Siap membantu jika diperlukan; vi.Percaya pada perkataan, usul dan informasi lain dari kita; vii. Mereka senang membicarakan hal-hal yang baik tentang kita dengan teman dan relasi bisnis mereka sehingga nama kita harum di mana-mana; viii. Banyak anggota keluarga, tetangga dan teman kita mememiliki rasa hormat dna kagum pada kita; ix. Orangtua, saudara, saudari, anak, mantu, besan dan teman kita bangga ketika membicarakan kita; x. Jika berbisnis, banyak pabrik, supplier, agen, distributor dll percaya pada kita dan memberikan banyak kemudahan pembayaran, harga dll sehingga bisnis kita tumbuh dengan cepat dan sehat;

xi. Para pegawai akan rajin dan jujur pada kita karena kita adalah teladan mereka;

xii. Jika berorganisasi, banyak anggota yang lain percaya dan aman dengan kehadiran kita;xiii. Di kampus, banyak orang siap menjadi sahabat; xiv. Mereka menganggap kita sebagai orang yang tindakannya sesuai dengan ucapannya; xv.  Nama harum dan tersebar ke mana-mana; xvi. Dan banyak lagi keuntungan lain.

 

III. Sehubungan dengan makhluk lain:

1. Binatang merasa nyaman dan aman ketika berjumpa dengan kita karena kita tidak mengancam     mereka; kita bahkan siap membantu mereka jika perlu;

2. Makhluk-makhluk lain yang baik akan suka berdekatan dengan kita dan bahkan siap menolong     ketika diperlukan.

 

IV. Ketika menjelang wafat

1. Pikiran tenang menjelang wafat sehingga dapat lahir kembali di alam bahagia, bahkan surga;

2. Pikiran yang penuh saddha, sila, caga dan panna itu akan terbawa ke alam yang baru sehingga     menjadi warga baru yang terhormat di mana pun.

 

C. Bagi Dhamma

1. Semakin banyak orang menjadi Buddhis yang baik; 2. Dhamma dihargai oleh golongan lain

 

D. Cara mantap untuk menjadi Sotapanna (makhluk suci tingkat pertama) 

1. Karena ke-4 ciri kalyanamitta di atas, jika saddha dominan, dapat menjadi saddhanusarin (cula sotapanna atau sotapanna kecil); 

2. Jika panna dominan, dapat menjadi dhammnusarin (cula sotapanna atau sotapanna kecil) 

3. Jika tidak mencapai tingkat kesucian yang lebih tinggi, cula sotapanna akan menjadi sotapanna penuh menjelang wafat; 

4. Sotapanna selamat dari kelahiran kembali di alam-alam rendah (neraka, binatang, peta, asura) dan pasti menuju Nibbana paling banyak sesudah 7 kelahiran kembali; 

5. Jika lahir kembali di alam manusia, akan ada di keluarga yang luhur dan terhormat; jika di surga, akan menjadi dewa atau dewi yang berkedudukan tinggi.

 

Semoga bermanfaat. Silakan share dengan semua teman.

Terima kasih banyak.

 

Kembali ke Artikel Dhamma

2. Untungnya menjadi Buddhis yang baik

A.  Ciri-ciri Buddhis yang baik:

1.   Senang berdana misalnya tersenyum, memberikan petunjukjalan, menawarkan air minum, makanan ringan, memberikan bantuan tenaga, barang,uang dll secara bijaksana kepada yang memerlukannya;

2.    MenerapkanPancasila, yaitu menghindarkan diri dari: 1. membunuh makhluk hidup, 2.mengambil yang tidak diberikan, 3. berbuat  zinah, 4. berbohong dan 5. makan atau minum barang yang dapat melemahkan kesadaran, dan juga secara aktif, misalnya menyelamatkan makhluk hidup dari sakit, ancaman kematian; menasihati atau menganjurkan orang lain agar tidak mencuri, tidak berzinah, tidak berbohong dll; dan

3.   Bermeditasi dan mengajak orang lain bermeditasi.

 

B.  Keuntungan:

1.   Pikiran tenang dan positif terhadap orang lain;

2.   Wajah tenang, bersih dan cerah;

3.   Tatap mata teduh dan bersahabat sehingga membuat sejuk orang yang ditatapnya;

4.   Jujur sehingga perkataannya dipercaya oleh banyak orang;

5.   Tutur katanya tenang, menyejukkan dan ramah sehingga menyenangkan dan menyamankan para pendengarnya;

6.   Dipercaya oleh banyak orang. Misalnya: a. dalam bisnis,relasi akan memberikan kredit barang, uang dll, membicarakan yang baik-baik dengan banyak orang lain sehingga namanya harum, cepat sukses, punya banyakrelasi dan teman; b. Di tempat kerja: perusahaan akan terlindung dari pencurian, korupsi; atasan atau pemilik usaha akan memberikan banyak kepercayaan, memuji; relasi akan semakin banyak sehingga perusahaan bertambah untung (dan semoga gaji atau bonus bertambah);

7.   Terhindar dari banyak penyakit yang terkait dengan stress, makanan dan minumany ang berlebihan dan tidak sesuai

8.   Anggota keluarga yang lain: ibu, bapak, anak, suami atauisteri dan masyarakat di sekitarnya akan merasa lebih nyaman dan tenang ketikaia hadir, tidak ada pertentangan yang kasar, perkelahian, permusuhan dll;

9.   Nama pribadi maupun keluarga semakin harum dan dijadikan teladan oleh banyak keluarga yang lain.

10.Jika berkunjung ke tempat orang lain, umumnya ia akandisambut dengan ramah dan hormat

11.Tidur nyenyak karena tidak ada perasaan bersalah, iri hati, dendam, membenci dll

12.Dll.

 

Apabila puluhan ribu, ratusan ribu atau jutaan Buddhis berbuat demikian,dunia akan lebih aman, tenteram dan damai, penuh kasih sayang, saling memaafkandll.

 

Buddha Dhamma semakin dihormati oleh orang lain dan akan lebih cepat berkembang. Inilah salah satu berkah yang terbesar bagi para pelakunya dan makhluk lain.

 

Semoga bermanfaat. Silakan share dengan semua teman.

Terima kasih.

Kembali ke Artikel Dhamma.

 

3. Sotapanna: 4 Prasyarat & 4 Ciri

A. Ada empat prasyarat atau faktor untuk menjadi Sotapanna (sotapattiyanga):

1. Bergaul dgn orang baik,

2. Mendengarkan (atau membaca buku) Dhamma,

3. Merenungkan Dhamma dengan bijaksana/mendalam, &

4. Hidup benar2 sesuai dengan Dhamma.

 

B. Empat ciri Sotapanna (sotapanassa angani):

1. Keyakinan yg teguh pada Buddha,

2. Keyakinan yg teguh pada Dhamma,

3. Keyakinan yg teguh pada Sangha; &

4. Sila atau moralitas yg sempurna, yaitu:

i.yg sangat dihargai oleh para suciwan/wati,ii. tidak terputus, tanpa cacat, konsisten, iii. yg membebaskan (dari samsara), iv.yg dipuji oleh orang bijak, v. tanpa penyimpangan dari standar, & vi. yg mendorong/menimbulkan/mendatangkan konsentrasi pikiran.

 

(Digha Nikaya 33; Samyutta Nikaya LV, 5).

 

 

Semoga bermanfaat.

Silakan share dengan semua teman.

Terima kasih.

 

Kembali ke Artikel Dhamma

4.Akibat gagal memimpin krn Serakah, Benci & Bodoh Batin (SBB)

Pemimpin organisasi: usaha, sekolah, universitas, cetiya, vihara, sekolah minggu, kursus dll:

A. Contoh-contoh pemimpin yang gagalkarena SBB:

1.      Memilih orang-orang yang ABS padahal tidak mampu mengelola organisasi;

2.      Mengikuti nasihat orang-orang yang penuh SBB;

3.      Hanya memikirkan kepentingan dan kemauan pribadi dan kroninya;

4.      Melupakan visi dan misi luhur para pendiri organisasinya;

5.      Memecah belah orang-orang yang tidak menyukainya;

6.      Mengganjal, menjegal dan bahkan melempar keluar orang-orang baik yang tidak ABS kepada dirinya;

7.      Wajah dan tatapan matanya menunjukkan kuatnya cengkeraman SBB dalam dirinya sehingga hanya Mara dkk yang mau berteman dengan dirinya;

8.      Ucapan dan perbuatannya yang penuh SBB menakutkan banyak orang yang tidak berdaya dan memendam dendam;

9.      Banyak orang memalingkan muka ketika melihatnya karena kehadirannya merupakan tanda buruk;

10.   Tidak pernah turun tangan mengurus organisasinya, hanya mengandalkan orang lain.

11. dll

 

B. Akibat-akibatnya:

a. Bagi organisasinya sendiri:

 

1. Hancur nama harum organisasinya sendiri baik secara perlahan-lahan ataupun cepat;

2. Suasana tegang, penuh emosi, dendam,benci, marah, sakit hati dll;

3. Semakin banyak anggota yang baik pergi ke organisasi lain;

4. Menimbulkan banyak gossip negative yang merugikan organisasinya sendiri;

5. Bagi organisasi sosial, kehilangan banyak donatur yang sebenarnya punya potensi besar untuk mengajak donatur lain untuk berdana dll;

6. Juga kehilangan banyak pendukung,teman, relasi yang penting dll;

7. Organisasinya sendiri mungkin dijegal, dimusuhi dan dijauhkan oleh organisasi-organisasi lain yang para pemimpinnya memusuhinya;

8. Masyarakat yang ada di sekitar lokasi organisasinya pun ikut-ikutan stress karena malu dan bahkan marah punya warga yang buruk dan punya banyak musuh;

9. Banyak anggota yang tidak sejalan dengan dirinya menjadi stress, marah, malu dll sehingga dia menciptakan banyak karma buruk bagi dirinya sendiri;

10. Sedikit orang yang datang keorganisasinya;

11. Organisasinya tidak berkembang seperti organisasi yang lain;

12. dll

 

b. Bagi diri, keluarga, tetangga dan temannya:

1. Namanya sendiri tercemar sebagai pemimpin yang gagal dan buruk;

2. Banyak pintu tertutup bagi dirinyakarena punya banyak musuh dan tidak disukai oleh banyak orang;

3. Anggota keluarganya: isteri, anak,papa, mama, adik, ipar dll merasa malu sekali dengan tingkah lakunya;

4. Teman-temannya juga malu sekali ketika mendengar orang-orang lain membicarakan kejelekannya dan memusuhinya;

5. Hubungan sosial, keluarga dan bisnis anggota keluarganya menjadi tidak baik sehingga kemajuan mereka dalam banyak bidang ikut terhambat;

6. dll

 

c. Bagi dirinya pribadi berdasarkan Hukum Karmayang bertangan besi dan tidak pandang bulu:

 

1.      Segala macam bahaya selalu ada didekatnya dan siap menerkamnya karena dia telah menciptakan kondisi yang cocok untuk matangnya  akibat perbuatan-perbuatan buruknya di masa sekarang maupun yang lalu;

2.      Akibat-akibatnya akan jauh berlipat ganda jika ia mendorong, mengajak, membujuk, mengijinkan dan menganjurkan orang-oranglain untuk mengikuti sifat dan kelakuannya yang buruk dan membantu perbuatannya;

3.      Ketika dia wafat, banyak orang mensukurinya dan bahkan merasa lega karena bebas dari dirinya;

4.      Pintu alam-alam rendah (neraka, peta,binatang, asura) terbuka lebar untuk “menyantapnya” & menyiksanya tanpa ampun karena memang tidak ada pengampunan;

5.      dll

 

Semoga bermanfaat. Silakan share dengan semua teman.

Kembali ke Artikel Dhamma.

5. Akibat Serakah, Benci & Bodoh Batin (SBB)

SBB adalah tiga akar kejahatan. Jika seseorang membiarkan SBB menguasai pikirannya sehingga ia berbuat jahat melalui pikiran, perkataan dan jasmani, akibatnya:

 

A.Sebagai manusia, ia:

  1. melepaskan peluang yang teramat besar dan teramat sulit untuk lahir kembali sebagai manusia maupun menentukan nasib sendiri;
  2. membiarkan SBB mengotori dan bahkan meracuni pikirannya;
  3. menjadikan dirinya sebagai mainan dan budak lingkaran kelahiran dan kematian (samsara) sehingga,  jika tidak ada perbuatan baik yang besar (garuka kusala kamma), ia dapat lahir kembali sebagai: a) manusia, ia akan mengalami banyak ancaman dan bahaya yang tidak terkirakan: sakit berat, mati mendadak, miskin sekali, bodoh sekali, cacat jasmani maupun pikiran sesuai dengan karmanya; b) peta, ia akan mengalami kelaparan, kehausan dll terus-menerus sesuai dengan karmanya; c) binatang, akan hidup dalam kekurangan, ketakutan, terancam oleh binatang yang lebih kuat, berebut makanan dan minuman, terkena udara panas maupun dingin dll sesuai dengan karmanya; atau d) penghuni neraka, akan disiksa secara kejam yang tidak terkirakan selama masa hidupnya di neraka yang demikian panjang, sesuai dengan karmanya;
  4. menyerahkan masa depannya kepada tangan besi Hukum Karma, yang tidak memandang status sosial, ekonomi, keturunan, maupun pendidikan pelakunya;
  5. dll

 B. Dalam kehidupan sosial, keluarga, bisnis, sekolah, atau universitas:

Ia akan:

  1. menciptakan banyak sekali musuh dan orang yang tidak menyukainya;
  2. menghilangkan banyak sekali peluang untuk terhormat di masyarakat;
  3. memecah-belah keluarga sendiri dan keluarga besarnya sehingga mereka dan ia sendiri pun menderita stress sehingga mudah terkena penyakit-penyakit berat, misalnya darah tinggi, jantung, ancaman stroke dsb;
  4. juga menghilangkan banyak sekali peluang untuk mendapatkan lebih banyak untung dan tumbuhnya bisnis karena banyak relasi tidak suka, tidak percaya dan bahkan membencinya;
  5. kehilangan banyak teman sekolah & teman kuliah yang berpotensi menjadi mitra bisnis atau mitra kerja yang berguna sekali di masa depan;
  6. dll.

 C. Secara penampilan, pergaulan umum dsb:

  1.  Wajahnya terlihat kecut, asam, kejam, judes, tegang, tidak enak dipandang dll;
  2. Karena banyak orang memusuhi dan tidak menyukainya serta perasaan bersalah sendiri, ke mana pun ia pergi, ia tidak merasa PD, malu, kecut, dll;
  3. Banyak orang menjauh dari dirinya sehingga ia akan kesepian dan akhirnya akan ditemani oleh orang-orang yang berkarakter sama dengan dirinya dan siap memakan dirinya jika lengah atau ada peluang;
  4. Dapat sering bermimpi buruk dan menyeramkan;
  5. dll

 

Semoga bermanfaat. Silakan share dengan semua teman.

Kembali ke Artikel Dhamma.

6. Asātarūpa-Jātaka (Jātaka 100) (the English version follows)

(Penderitaan datang dengan menyamar sebagai kesenangan dan berkah & kesulitan datang untuk ematahkan semangat para pemalas)

 
Ringkasan jātaka ini: 
Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Kundadhānavana dekat kota Kundiya mengenai Suppavāsā, seorang upāsika, yang merupakan putri Raja Koliya. Pada saat itu, ia telah mengandung seorang anak selama tujuh tahun dan sudah memasuki hari ketujuh penderitaan persalinannya dan rasa nyerinya berat sekali. Walaupun semua penderitaan berat itu, ia berpikir sebagai berikut, “Sang Bhagavā (Sang Buddha), Yang Tercerahkan Sempurna, membabarkan Dhamma dengan tujuan agar penderitaan ini dapat berakhir; Orang-orang pilihan Sang Bhagavā hidup demikian bajik sehingga penderitaan ini dapat berakhir; Nibbāna adalah tempat membahagiakan di mana penderitaan ini benar-benar berakhir.” Ketiga pikiran itu merupakan penghiburan baginya selama dalam penderitaan hebatnya itu. Kemudian, ia menyuruh suaminya menemui Sang Bhagavā untuk memberitahukan keadaannya dan menyampaikan salam atas namanya.

Pesannya disampaikan kepada Sang Bhagavā, yang bersabda, “Semoga Suppavāsā, putri Raja Koliya, tumbuh kuat dan sehat lagi serta melahirkan seorang bayi yang sehat.” Langsung setelah kata-kata Sang Bhagavā, Suppavāsā menjadi sehat dan kuat dan melahirkan seorang bayi yang sehat. 

Saat kembali dan mendapati istrinya telah melahirkan dengan selamat, sang suami amat takjub pada kekuatan luhur Sang Buddha. Karena anaknya telah lahir, Suppavāsā sangat ingin mempersembahkan hadiah selama tujuh hari kepada Sańgha dengan Sang Buddha sebagai pemimpin mereka dan menyuruh suaminya lagi untuk mengundang mereka. 
Kebetulan pada saat itu Sańgha yang dipimpin oleh Sang Buddha telah menerima undangan upāsaka (umat pria) yang menyokong YA Mahā Moggallāna; tetapi, Sang Guru, yang ingin memenuhi niat berdana Suppavāsā, mengirimkan utusan kepada sang thera untuk menjelaskan hal tersebut dan bersama Sangha menerima perjamuan Suppavāsā selama tujuh hari. 

Pada hari ketujuh ia mendandani bayi kecilnya, yang bernama Sīvali dan memyuruhnya membungkuk di depan Sang Buddha dan Sańgha. Saat bayi itu dibawa menghadap YA Sāriputta pada waktu yang semestinya, YA Sāriputta dengan penuh keramahan menyapa bayi itu, “Nah, Sīvali, apakah kamu baik-baik?” “Bagaimana bisa begitu, Bhante?” kata sang bayi, “Selama tujuh tahun yang panjang saya harus berkubang dalam darah.”
Lalu, dengan gembira Suppavāsā berseru, “Anakku, yang baru berusia tujuh hari, benar-benar sedang berbincang-bincang mengenai agama dengan YA Sāriputta, Panglima Dhamma?”

“Maukah engkau memiliki anak lagi yang seperti ini?” tanya Sang Guru. “Mau, Bhante,” jawab Suppavāsā, “tujuh lagi, jika saya bisa mendapatkan anak yang seperti dia.” Dengan perkataan yang khidmat Sang Guru berterima kasih atas perjamuan Suppavāsā dan pergi.

Pada usia tujuh tahun Sīvali kecil menerima Dhamma dengan sepenuh hati dan meninggalkan keduniawian untuk masuk Sańgha (sebagai samanera); pada usia dua puluh tahun beliau diterima menjadi bhikkhu. Beliau bersifat bajik dan mendapatkan mahkota kebajikan berupa pencapaian sebagai Arahat dan bumi pun bersorak keras karena gembira. 

(Angutarra Nikaya I.24 mencatat bahwa Sang Buddha menganugerahi YA Sīvali gelar sebagai yang terbaik di antara para penerima persembahan.)

Setelah mengakhiri jātaka ini, Sang Guru, sebagai Buddha, mengulangi syair ini:

”Dengan menyamar sebagai kesenangan dan berkah, datanglah dukkha

Dan kesulitan datang untuk mematahkan semangat para pemalas.”

(Diterjemahkan oleh Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah Resmi & Bersumpah, dari The Jātaka, translated by Robert Chalmers from the Pāli into English)

English version of Asātarūpa-Jātaka (Jātaka 100):
(Sorrow comes in the disguise of joy and blessings, and trouble, to overwhelm sluggards’ hearts) 

This story was told by the Master while at Kuṇḍadhānavana near the city of Kuṇḍiya about Suppavāsā, a lay-sister, who was daughter to King Koliya. For at that time, she, who had carried a child seven years in her womb, was in the seventh day of her throes, and her pains were grievous. In spite of all her agony, she thought as follows: “All-Enlightened is the Blessed One who preaches the Truth to the end that such suffering may cease; righteous are the Elect of the Blessed One who so walk that such suffering may cease; blessed is Nibbāna wherein such suffering doth cease.” These three thoughts were her consolation in her pangs. And she sent her husband to the Buddha to tell her state and bear a greeting for her.

Her message was given to the Blessed One, who said, “May Suppavāsā, daughter of the king of the Koliyas, grow strong and well again, and bear a healthy child.” And at the word of the Blessed One, Suppavāsā, daughter of the king of the Koliyas, became well and strong, and bore a healthy child. 

Finding on his return that his wife had been safely delivered, the husband marvelled greatly at the exalted powers of the Buddha. Now that her child was born, Suppavāsā was eager to show bounty for seven days to the Brotherhood with the Buddha at its head, and sent her husband back to invite them. 

Now it chanced that at the time the Brotherhood with the Buddha at its head had received an invitation from the layman who supported the Elder Moggallāna the Great; but the Master, wishing to gratify Suppavāsā’s charitable desires, sent to the Elder to explain the matter, and with the Brotherhood accepted for seven days the hospitality of Suppavāsā. 

On the seventh day she dressed up her little boy, whose name was Sīvali, and made him bow before the Buddha and the Brotherhood. And when he was brought in due course to the Venerable Sāriputta, the Elder in all kindness greeted the infant, saying, “Well, Sīvali, is all well with you?” “How could it be, sir?” said the infant. “Seven long years have I had to wallow in blood.”

Then in joy Suppavāsā exclaimed, “My child, only seven days old, is actually discoursing on religion with the apostle Sāriputta, the Captain of the Faith?”

“Would you like another such a child?” asked the Master. “Yes, sir,” said Suppavāsā, “seven more, if I could have them like him.” In solemn phrase the Master gave thanks for Suppavāsā’s hospitality and departed. 

At seven years of age the child Sīvali gave his heart to the faith and forsook the world to join the Brotherhood; at twenty he was admitted a full Brother. Righteous was he and won the crown of righteousness which is Arahatship, and the earth shouted aloud for joy.

(Angutarra Nikaya 1.24 records that the Buddha granted him the title the best among the recipients of gifts.)

His story ended, the Master, as Buddha, repeated these verses:
"In disguise of joy and blessings, sorrow comes
And trouble, the sluggards’ hearts to overwhelm."

Silakan share dengan semua teman.

Kembali ke Artikel Dhamma
 

7.Bahaya Usia Tua, Sakit & Mati

A.Usia tua & Sakit

  1. Dimulai dengan merosotnya ketampanan atau kecantikan kita secara perlahan-lahan sehingga penampilan kita semakin tidak enak untuk dilihat oleh orang lain: rambut putih, botak, gigi tonggos, jalan bungkuk, wajah peyot, kulit keriput;
  2. Ketika berkaca, kita sadar bahwa masa kemudaan kita sudah lewat dan harus siap-siap menghadapi segala akibat dari proses penuaan & karma masing-masing;
  3. Organ tubuh, misalnya mata, kuping, gigi, jantung, otak, kita lemah dan akhirnya rusak;
  4. Tubuh kita tidak mau mengikuti keinginan kita sebagaimana ketika masih muda. Contoh: tidak mampu berlari cepat dan jauh, meloncat dll; gigi kita tidak mampu lagi menggigit makanan yang keras dll.
  5. Satu per satu gigi kita rontok (good bye) dan akhirnya kita ompong;
  6. Berjalan pun harus dibantu tongkat atau dipegangi anak atau cucu jika mereka bersedia;
  7. Banyak teman kita bahkan sudah mendahului kita sehingga kita dapat kesepian;
  8. Banyak di antara kita tidak mampu lagi mengerti jalan pikiran keturunan kita (anak, cucu, cicit dll)  dan sulit saling berkomunikasi karena pikiran kita berjalan lambat, loyo, cepat lupa, telat mikir, ketinggalan informasi, gaptek dll.
  9. Beberapa orangtua bahkan harus tinggal di rumah jompo dll karena tidak diurus lagi oleh keturunannya atau tidak sanggup tinggal bersama-sama lagi.
  10. Beberapa lagi bahkan harus berpisah dengan harta kesayangannya karena diambil oleh keturunannya sendiri dengan paksa, bujuk-rayu maupun cara lain.
  11. Pasangan hidup pun kadang-kadang mendahului kita sehingga kita kehilangan teman sehidup-semati tempat kita biasa curhat;
  12. Banyak yang harus terbaring sakit, lemah dan tidak berdayadi kamar tidur, bahkan tidak bisa mandi sendiri, buang air besar dan kecil sendiri, makan dan minum sendiri, sehingga menyusahkan banyak orang lain, sampai wafat.
  13. Banyak juga yang menimbulkan penderitaan kepada banyak keturunannya karena harus keluar-masuk rumah sakit dengan biaya tinggi, bahkan harus menjual rumah, toko, mobil dll.
  14. Banyak yang sakit parah sekali sehingga para profesor pun tidak mampu menyembuhkannya dan harus pasrah sampai wafat terjadi dalam keadaan pailit, nyeri, sakit, ketakutan dll.
  15. Dll

B. Mati

  1. Kematian tidak berarti urusan selesai jika kita bukan Arahat.
  2. Kita harus menghadapi kematian dengan sendirian. Kematian tidak bisa disogok dengan uang ataupun emas berlian.
  3. Tidak satu pun harta dan anggota keluarga kita bisa mendampingi atau menyelamatkan kita dari kematian.
  4. Kematian bersifat kejam, bengis dan tidak diskriminasi, bagaikan gunung batu raksasa yang menghancurkan apa pun yang dilaluinya: semua orang, baik raja, presiden, menteri, orang kaya, miskin dsb, akan dilindasnya.
  5. Kita harus menanggung semua akibat perbuatan kita sendiri yang dilakukan melalui pikiran, perkataan dan tubuh, berikut bunganya yang amat-amat jauh di atas bunga deposito bank maupun rentenir yang paling kejam.
  6. Kalau hidup sering melanggar sila dan tidak ada perbuatan baik besar yang mampu menyelamatkan, harus siap menderita akibatnya di alam rendah, terutama neraka di mana penyiksaan yang sangat-sangat lama, sangat-sangat berat dan tidak terbayangkan, siap menunggu. Contoh: di rendam di logam cair yang panas sekali; ditusuk tombak dari dubur sampai kepala secara perlahan-lahan sehingga sakitnya tidak terkirakan; ditembus anak panah lewat kuping kiri dan keluar lewat kuping kanan dll; haus dan lapar sampai berakhirnya masa hidup di sana yang bisa sangat lama, lama sekali, bisa ribuan tahun, puluhan ribu tahun, atau jutaan tahun dst, yang bergantung pada karma masing-masing.
  7. Jika meninggal dalam keadaan nyeri, sakit, marah, menyesal, berkeluh-kesah, ketakutan, pikun, setengah pikun, setengah sadar atau tidak sadar, dapat lahir kembali di alam rendah: peta, binatang, neraka. Inilah yang paling berbahaya karena sangat mungkin akan lahir kembali di alam rendah.
  8. Setelah meninggal: i. Jika jazadnya dikubur, tubuhnya akan rusak, melumer, dimakan ulat, belatung dll; atau ii. Jika dikremasi, tubuhnya akan menjadi abu dll.

Untunglah ada Buddha Dhamma yang telah menunjukkan pintu menuju keadaan tanpa usia tua, sakit dan kematian. Sebagai contoh, silakan pelajari sutta-sutta 13, 14, 129, 130, 135, & 136 Majjhima Nikaya dan buka sendiri pintu itu dengan mempraktikkannya dalam hidup masing-masing yang sangat singkat ini.

 

Semoga bermanfaat. Silakan share dengan semua teman.

Kembali ke Artikel Dhamma.

8. Dana kita sekarang akan menjadi harta kita plus buahnya di hari mendatang

Samyutta Nikaya 1.41

Aditta Sutta [(Rumah) yang sedang Terbakar]

Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Buddha berdiam di Vihara Anāthapindika, Hutan Jeta,

Savatthi. Lalu, ketika malam sudah sangat larut, sesosok dewa dengan sinar menakjubkan yang menerangi

seluruh Hutan Jeta, mendekati Sang Buddha. Setelah dekat, ia menghormat kepada Sang Buddha, berdiri di satu

sisi dan mengucapkan syair-syair ini di hadapan Sang Buddha:

“Ketika rumah sedang terbakar
 

Kapal yang diselamatkan
 

Adalah kapal yang akan berguna,
 

Bukan kapal yang tertinggal terbakar di dalamnya.”

“Karena itu, ketika dunia ini sedang terbakar
 

Oleh penuaan dan kematian,
 

Seseorang sebaiknya menyelamatkan (kekayaannya) dengan memberi;
 

Apa yang diberikan akan terselamatkan dengan baik.”

“Apa yang diberikan akan menghasilkan buah,
 

Tetapi, yang tidak diberikan tidaklah demikian:
 

Para pencuri atau raja akan membawanya pergi;
 

Barang itu akan terbakar oleh api atau hilang.”

“Lalu, akhirnya
 

Seseorang akan meninggalkan tubuhnya
 

Berikut harta-bendanya.
 

Setelah mengerti hal ini, orang yang bijak
 

Sebaiknya menikmati harta-bendanya dan juga memberi.
 

Setelah memberi dan menikmati sesuai dengan kemampuannya,
 

Secara tanpa cela ia akan lahir kembali di surga.

 

Diterjemahkan oleh Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah Resmi & Bersumpah, dari The Connected Discourses of the

Buddha, A Translation of the Samyutta Nikaya by Bhikkhu Bodhi 

Semoga bermanfaat.

9. Dhammapada 161

May 12, 2013 at 8:45 PM

Attan'ava katam papam
 

Attajam attasambhavam
 

Abhimantahati dummedham
 

Vajiram v'asmamayam manim.

The evil, done by oneself,
 

self-begotten, self-produced,
 

crushes the witless one,
 

as the diamond grinds the hardest gem.

Kejahatan, yang dilakukan sendiri,
 

dilahirkan sendiri, diciptakan sendiri,
 

menghancurkan si bodoh,
 

seperti berlian menggilas permata yang paling keras.

 

Kita tahu bahwa sulit dan lama sekali untuk menjadi manusia. Tetapi, sebagian besar manusia mengabaikan fakta

ini dan, melalui kejahatannya sendiri, baik lewat pikiran, tindakan maupun perkataan, terus-menerus mengikis

derajatnya sendiri sebagai manusia sehingga tidak layak menjadi manusia lagi dan terlahir kembali sebagai peta,

binatang atau penghuni neraka.

Sang Buddha mengajarkan kita untuk mengikis lobha, dosa dan moha sehingga kita bisa terlahir kembali sebagai

manusia yang lebih mulia dan bahagia, atau di surga. Jika LDM tercabut dengan akar-akarnya dari pikiran kita, kita

akan mewujudkan Nibbana dalam hidup ini, yaitu tujuan tertinggi ajaran Sang Buddha.  

10.Dhammapada Bab VIII No. 115

May 9, 2013 at 8:54 PM

"Daripada hidup selama 100 tahun tanpa memahami Buddha Dhamma(Ajaran Buddha), lebih baik hidup 1 hari

memahami Buddha Dhamma."

 

Bila kita tidak mempraktekkan Buddha Dhamma, hidup kitaseperti sia-sia dan tidak berarti. Karena dengan

mempraktekkannya, kita akan hidupberbahagia dalam kehidupan sekarang maupun nanti.

11. Dhammapada Bab XIII No 178

May 9, 2013 at 9:07 PM

"Lebih baik daripada menjadi raja, lebih baik daripada menjadi dewa, lebih baik daripada menjadi penguasa dunia,

adalah mencapai tingkat Arahat."

Dengan mencapai tingkat Arahat, kita akan mencapai Nibbana dimana kita akan lepas dari Samsara (siklus lahir

dan hidup kembali).

12. Dhammapada Bab XIII No 178

May 9, 2013 at 9:07 PM

"Lebih baik daripada menjadi raja, lebih baik daripada menjadi dewa, lebih baik daripada menjadi penguasa dunia, adalah mencapai tingkat Arahat."

Dengan mencapai tingkat Arahat, kita akan mencapai Nibbana dimana kita akan lepas dari Samsara (siklus lahir dan hidup kembali).

13. Enaknya jadi orang bijak

August 31, 2013 at 4:00 PM

                                           Dhammapada 82

 

Just as a lake, deep, clear and still

even so, on hearing the Dhamma,

the wise become exceedingly peaceful.

 

Bagaikan danau yang dalam, jernih dan tenang,

demikianlah setelah mendengarkan Dhamma,

orang bijak menjadi amat damai.

 

                                          Dhammapada 83

 

 The good renounce everything

and do not speak hankering after esires.

touched by sorrow or happiness,

the wise become neither elated or depressed.

 

Orang bijak melepaskan segalanya

dan tidak bicara dengan pikiran sangat mengejar nafsu indrawi.

Ketika mengalami kesedihan atau kebahagiaan,

orang bijak tidak menjadi sangat gembira atau murung. 

14. Pengalaman Pribadi 1: Kebaikan berbuah diskon khusus, rekomendasi khusus dll

A. Dapet diskon khusus waktu service laptop

Dua minggu lalu, pemilik tempat service laptop bilang:" Saya mau berteman dengan anda. Waktu pertama kali saya perhatikan,

saya yakin anda orang baik dan saya karena itu saya kasih diskon besar. Kalau ada waktu, tolong jawab pertanyaan saya:"

Mengapa anda bisa tetap sebagai orang baik di Jakarta yang sangar ini?"

 

Jawab:" Sang Buddha berkata bahwa kebaikan pasti berbuah kebaikan. Contoh: Bapak sendiri sudah kasih diskon besar ke saya."

B. Dapet rekomendasi yang super istimewa  

Beberapa bulan lalu, para pejabat tinggi bilang:" Kami kasih rekomendasi yang super istimewa dan satu-satunya di Indonesia ini

kepada anda karena kami suka dengan kejujuran dan keramahan anda. Kalau bos-bos anda yang datang, kami akan tolak."

Tidak sepeser pun uang berpindah tangan padahal rekomendasi itu sangat istimewa, diproses hampir 5 bulan karena harus

disetujui oleh banyak instansi dan rekomendasi itu satu-satunya  di negeri ini selama hampir 25 tahun terakhir ini untuk bisnis yang

bersangkutan.

C. Pemarah dan pembenci menjadi ramah dan pemaaf setelah dinasihati plus diberi contoh nyata oleh orang yang tulus  

Seseorang yang terkenal pemarah dan pembenci serta kaya berkata:" Karena melihat kejujuran anda dan mendapat nasihat anda

yang kelihatan begitu tulus dan tanpa tujuan apa pun, mulai sekarang saya akan jadi orang yang sabar dan pemaaf. Padahal saya

ini pemarah dan gampang benci orang lain selama hampir 25 tahun ini."

Sekarang ia hidup harmonis dengan keluarga besarnya. 

D. Mantan big boss mau kasih peluang bisnis besar karena percaya 10.000%

Dia bilang:" Karena kamu demikian jujur dan bersih, saya percaya 10.000% padamu dan saya tawarkan peluang bisnis ini

kepadamu supaya kita tetap berteman seumur hidup walaupun kamu sudah mundur dari perusahaan kita."

E. Dipercaya sebagai pemimpin misi 

Dalam banyak rapat, banyak peserta bilang:" Kami ingin dipimpin oleh anda karena anda orang baik dan jujur. Misi kita pasti akan

tercapai."

F. Jadi ketua kelas berkali-kali di 3 sekolah yang berbeda

Dari SD sd SMU  di tiga sekolah yang berbeda: negeri, Buddhis dan Katolik, selalu dipilih jadi ketua kelas sampai akhirnya

menolak karena jenuh dan ingin kasih kesempatan kepada orang lain. 

Teman-teman bilang:" Kamu orang jujur, baik hati dan rajin. Kami perlu orang seperti kamu sebagai ketua kelas."

G. Dapet bayaran 100% di muka dari customer baru tanpa diminta

Minggu lalu seorang customer yang baru pertama kali datang langsung memesan barang. Lalu, dia transfer bayaran 100% di muka

tanpa diminta. Ternyata transfernya bahkan lebih Rp 1 jt. Kelebihan itu langsung dikembalikan oleh kami pada hari itu juga. Kemudian,

sang customer menelepon:" Anda ini orang yang luar biasa jujur. Jarang ada orang seperti anda. Pantesan saya langsung percaya

pada anda." 

H. Dapet DP luar biasa besar dari customer baru 

Sang direktur berkata:" Komisaris saya tidak mau kasih DP yang sangat besar ini ke anda tanpa jaminan karena kami semua baru

kenal anda. Sayalah yang menjamin bahwa kalau anda kabur, saya yang harus kembalikan DP ini. Saya berani menanggung risiko

ini karena saya yakin anda orang jujur dan tidak akan kabur."

Sekarang keduanya berteman akrab secara keluarga.

I. Banyak lagi buah dari perbuatan baik.

Semoga bermanfaat. Silakan share dengan semua teman.

 

15. Manfaat pikiran yang baik

 A. Contoh-contoh pikiran yang baik       

1.         Ingin menawarkan gagasan, tenaga, barang dan uang secara bijaksana dan tulus kepada seseorang yang terlihat

memerlukannya;

2.          Ingin menabung uang atau mengumpulkan barang agar siap diberikan kepada orang lain yang memerlukannya,

misalnya yang sedang tertimpa banjir, kebakaran dll

3.         Prihatin dengan keadaan orang-orang yang kurang beruntung, misalnya orang jompo yang tidak punya sanak

keluarga. Lalu, aktif mengajak orang-orang lain untuk ikut membantu orang tersebut.

4.         Berencana berdana makanan & minuman kepada yatim-piatu; mengajak orang lain untuk berbuat yang sama;

mengijinkan dan menganjurkan orang lain untuk berbuat yang sama;

5.         Memaafkan orang-orang lain yang sudah bersalah kepadanya dan selalu siap memaafkan siapa pun yang akan

bersalah kepadanya;

6.         Ingin memberikan dana kepada bhikkhu sangha, tekun menerapkan sila dan bermeditasi, lalu membagi buahnya

dengan makhluk-makhluk lain yang membutuhkannya.

7.         Memperhatikan apakah ada di antara orang-orang di rumah, kantor, sekolah atau kampus memerlukan bantuan;

8.         Ketika ingin tidur, selalu dengan tulus dan serius mengucapkan: Semoga semua makhluk bahagia;

9.         Selalu mencari ide untuk dapat membantu orang lain, baik secara sendirian maupun bersama-sama dengan orang lain;

16. Dll

 

B. Manfaat

1.         Pikiran tenang & bahagia karena merasa sudah hidup sesuai dengan Dhamma, tidak ada rasa bersalah, berkurangnya

keserakahan, kebencian dan kebodohan batin;

2.         Wajah enak dilihat;

3.         Perkataan ramah dan menyejukkan para pendengarnya;

4.         Sorot mata teduh dan bersahabat;

5.         Pikiran menjadi semakin sehat, jernih, dan bijak;

6.         Cenderung akan dapat lebih cepat menangkap makna ceramah Dhamma yang sedang didengarkan atau buku Dhamma

             yang sedang dibaca;

7.         Mudah tidur nyenyak dan bangun pagi dalam keadaan segar;  

8.         Banyak orang menghormatinya & ingin berteman maupun berbisnis dengannya;

9.         Nama pribadi semakin harum;

10. Keluarga bangga dengan perilakunya;

11. Keluarga harmonis, bahagia dan menjadi teladan bagi tetangga, teman dll

12. Dalam bisnis, semakin banyak relasi dan langganan;

13. Di kantor, banyak orang merasa nyaman dan beruntung punya kolega yang baik ini;

14. Di sekolah dan kampus, punya banyak teman dan suasana penuh persahabatan;

15. Jika ingin ikut sebuah organisasi, pintu terbuka sangat lebar;

16. Dll

 

17. Mengorbankan binatang adalah karma buruk

                                                              Matakabhatta Jataka (Jataka 18)

Pada suatu hari ketika Sang Buddha sedang berdiam di Jetavana, beberapa orang bhikkhu bertanya kepada beliau apakah ada

manfaat dalam mengorbankan kambing, domba dan hewan-hewan lain sebagai persembahan untuk  sanak-keluarga yang telah

meninggal.

 

“Tidak, para bhikkhu,” jawab Sang Buddha.” Tidak satu pun kebaikan pernah muncul dari pembunuhan, walaupun ketika

pembunuhan itu adalah untuk memberikan Makanan Besar bagi Orang Wafat.” Kemudian beliau menceritakan kisah lampau ini.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta sedang memerintah di Baranasi, seorang brahmana memutuskan akan memberikan Makanan

Besar untuk Orang Wafat dan membeli seekor kambing untuk dikorbankan. “Anak-anakku,” katanya kepada para muridnya,”

bawa turun kambing ini ke sungai, mandikan dia, sikat tubuhnya, gantungkan sekalung bunga di sekitar lehernya, beri dia

sejumlah butir padi untuk dimakan, dan bawa dia kembali ke sini.”

 

“Ya, Pak,” jawab mereka dan menuntun kambing itu ke sungai.

 

Ketika mereka sedang merapikannya, si kambing mulai tertawa dengan suara seperti sebuah pot yang jatuh hancur. Kemudian,

dengan sama anehnya, si kambing mulai menangis keras.

 

Para murid yang masih muda itu terkesima dengan perilaku itu.” Mengapa kamu tadi tiba-tiba tertawa,” tanya mereka kepada si

kambing,” dan mengapa kamu sekarang menangis demikian keras?”

 

“Ulangi pertanyaanmu ketika kita kembali kepada gurumu,” jawab si kambing.

 

Para murid itu dengan tergesa-gesa membawa kambing itu kembali kepada guru mereka dan memberitahunya tentang apa yang

telah terjadi di sungai. Mendengar cerita itu,  si guru menanya si kambing mengapa ia telah tertawa dan mengapa menangis.

 

“Dahulu kala, brahmana, “si kambing mengawali ceritanya, “saya adalah seorang brahmana yang mengajarkan Weda-Weda

seperti anda. Saya juga telah mengorbankan seekor kambing sebagai persembahan di sebuah Pesta untuk Orang Wafat. Karena

membunuh satu ekor kambing itu, saya telah mengalami kepala saya dipotong 499 kali. Saya tertawa keras ketika saya

menyadari bahwa ini adalah kelahiran terakhir saya sebagai seekor binatang yang dikorbankan. Hari ini saya akan dibebaskan

dari penderitaan saya. Sebaliknya, saya menangis ketika saya menyadari bahwa karena membunuh saya, anda pun dapat pasti

kehilangan kepala anda 500 kali. Karena kasihan kepada anda-lah saya telah menangis.”

“Baiklah, kambing, “ kata si brahmana, dalam hal ini, saya tidak akan membunuh kamu.”

 

“Brahmana!” seru si kambing. “baik anda membunuh saya ataupun tidak, saya tidak dapat selamat dari kematian hari ini.”

 

“Jangan khawatir,” si brahmana menyakinkan si kambing. “saya akan menjagamu.”

 

“Kamu tidak paham,“ kata si kambing kepadanya. “Perlindunganmu lemah. Daya akibat dari perbuatan jahat saya sangat kuat.”

 

Si brahmana melepaskan ikatan si kambing dan  berkata kepada para muridnya, “jangan biarkan siapa pun melukai kambing ini.

Mereka dengan patuh mengikuti binatang itu untuk melindunginya.

 

Setelah si kambing dibebaskan, ia mulai merumput. Ia mengulur lehernya untuk mencapai daun-daun yang ada di sebuah semak

yang tumbuh dekat bagian atas sebuah batu besar. Pada saat itu juga sebuah ledakan petir menghantam batu itu sehingga

memotong putus sekeping batu tajam yang terbang menembus udara dan dengan rapi memotong putus kepala si kambing.

Sejumlah orang berkumpul di sekitar kambing yang mati itu dan mulai berbicara dengan heboh tentang kejadian yang

menakjubkan itu.

Sesosok dewa pohon telah mengamati segala sesuatunya mulai dari dibelinya si kambing sampai kematiannya yang dramatis dan,

setelah menarik pelajaran dari kejadian itu, menasihati kerumunan orang tersebut; “jika orang hanya tahu bahwa hukuman akan

berupa kelahiran kembali ke dalam alam duka, mereka akan berhenti membunuh. Nasib yang mengerikan menunggu si

pembunuh. “melalui penjelasan tentang hukum karma itu, sang dewa menanamkan rasa takut neraka ke dalam benak para

pendengarnya. Orang-orang itu demikian ketakutan sehingga mereka benar-benar menanggalkan praktik pengorbanan hewan.

Dewa itu juga mengajari orang-orang tersebut tentang Sila dan mendesak mereka untuk melakukan kebaikan.

Akhirnya sang dewa meninggal dunia untuk berkelana menurut ganjarannya. Selama beberapa generasi setelah itu, orang-orang

tetap setia pada Sila dan menghabiskan masa hidup mereka dalam perbuatan amal dan kusala kamma sehingga banyak di

antaranya lahir kembali di surga.

Sang Buddha mengakhiri pelajarannya dan menerangkan Kelahiran itu dengan bersabda, “ Pada saat itu saya adalah sang dewa.”

 

                                      Matakabhatta Jataka (Jataka 18), English version

One day, while the Buddha was staying in Jetavana, some bhikkhus asked him if there was any benefit in sacrificing goats, sheep,

and other animals as offerings for departed relatives.

"No, bhikkhus," replied the Buddha. "No good ever comes from taking life, not even when it is for the purpose of providing a

Feast for the Dead." Then he told this story of the past.

Long, long ago, when Brahmadatta was reigning in Baranasi, a brahman decided to offer a Feast for the Dead and bought a goat

to sacrifice. "My boys," he said to his students, "take this goat down to the river, bathe it, brush it, hang a garland around its

neck, give it some grain to eat, and bring it back."

"Yes, sir," they replied and led the goat to the river.

While they were grooming it, the goat started to laugh with a sound like a pot smashing. Then, just as strangely, it started to weep

loudly.

The young students were amazed at this behavior. "Why did you suddenly laugh," they asked the goat, "and why do you now cry

so loudly?"

"Repeat your question when we get back to your teacher," the goat answered.

The students hurriedly took the goat back to their master and told him what had happened at the river. Hearing the story, the

master himself asked the goat why it had laughed and why it had wept.

"In times past, brahman," the goat began, "I was a brahman who taught the Vedas like you. I, too, sacrificed a goat as an offering

for a Feast for the Dead. Because of killing that single goat, I have had my head cut off 499 times. I laughed aloud when I

realized that this is my last birth as an animal to be sacrificed. Today I will be freed from my misery. On the other hand, I cried

when I realized that, because of killing me, you, too, may be doomed to lose your head five hundred times. It was out of pity for

you that I cried."

"Well, goat," said the brahman, "in that case, I am not going to kill you."

"Brahman!" exclaimed the goat. "Whether or not you kill me, I cannot escape death today."

"Don't worry," the brahman assured the goat. "I will guard you."

"You don't understand," the goat told him. "Your protection is weak. The force of my evil deed is very strong."

The brahman untied the goat and said to his students, "Don't allow anyone to harm this goat." They obediently followed the

animal to protect it.

After the goat was freed, it began to graze. It stretched out its neck to reach the leaves on a bush growing near the top of a large

rock. At that very instant a lightning bolt hit the rock, breaking off a sharp piece of stone which flew through the air and neatly

cut off the goat's head. A crowd of people gathered around the dead goat and began to talk excitedly about the amazing accident.

A tree deva had observed everything from the goat's purchase to its dramatic death, and drawing a lesson from the incident,

admonished the crowd: "If people only knew that the penalty would be rebirth into sorrow, they would cease from taking life. A

horrible doom awaits one who slays." With this explanation of the law of kamma the deva instilled in his listeners the fear of hell.

The people were so frightened that they completely gave up the practice of animal sacrifices. The deva further instructed the

people in the Precepts and urged them to do good.

Eventually, that deva passed away to fare according to his deserts. For several generations after that, people remained faithful to

the Precepts and spent their lives in charity and meritorious works, so that many were reborn in the heavens.

 

18. Murid Sang Bodhisatta pun mampu menghidupkan kembali yang sudah mati

[dari Sañjiva-Jātaka(Jātaka 150)]

Di jaman dahulu ketika Brahmadatta sedang memerintah di Benares, Sang Bodhisatta (Calon Buddha) terlahir di dalam keluarga

seorang brahmana yang kaya. Setelah dewasa, beliau pergi belajar di Takkasilā, tempat beliau menerima pendidikan yang

lengkap.

 

Setelah kembali ke Benares, sebagai seorang guru, beliau menikmati kemasyuran sedunia dan memiliki lima ratus orang

brahmana sebagai murid. Di antara mereka ada seorang yang bernama Sañjiva yang diajari oleh Sang Bodhisatta mantra untuk

menghidupkan kembali yang sudah mati. Tetapi, walaupun orang muda itu telah diajari mantra tersebut, ia tidak diajari mantra

lawannya. Karena bangga dengan kekuatan barunya, iapergi bersama-sama dengan teman-teman seperguruannya ke hutan untuk

mengumpulkan kayu dan di sana mereka menemukan seekor harimau yang sudah mati.

 

“Sekarang lihat aku akan menghidupkan kembali harimau ini,” katanya.

“Kamu tidak bisa,” kata mereka.

“Perhatikan dan kalian akan melihatku melakukannya,” katanya.

“Baiklah, jika kamu bisa, lakukanlah,” kata mereka dan dengan seketika memanjat sebuah pohon. 

 

Lalu Sañjiva mengucapkan mantranya dan memukul harimau itu dengan sebatang tongkat gembala.Bangkitlah si harimau dan

secepat kilat menerkam Sañjiva dan menggigit tenggorokannya sehingga menewaskannya dengan seketika. Jatuh matilah si

harimau dan demikian juga Sañjiva jatuh mati di tempatyang sama. Jadi, di sana kedua-duanya berbaring mati berdampingan.

 

Brahmana-brahmana muda yang lain mengambil kayu mereka, kembali kepada Sang Guru dan menyampaikankisah tersebut

kepada beliau.”Murid-murid tersayangku,” kata beliau,”Perhatikanlah dalam kejadian ini bagaimana karena menunjukkan

sokongan kepada orang bejat danmemberikan penghormatan yang tidak semestinya, ia telah menimbulkan semua bencana ini

kepada dirinya,” dan setelah berkata demikian beliau mengucapkan syair ini:”

 

Bertemanlah dengan penjahat, bantu dia ketika dia membutuhkannya,

Dan, seperti harimau yang Sañjiva hidupkan kembali itu,

Ia akan langsung melahap anda sebagai imbalan jerih-payah anda.”

 

Demikianlah pelajaran Sang Bodhisatta kepada brahmana-brahmana itu.

 

(Diterjemahkan ringkas oleh  Tjan SieTek, M.Sc., Penerjemah Resmi & Bersumpah,dariTHE JᾹTAKA OR STORIES OF THE

BUDDHA'S FORMER BIRTHS, TRANSLATED FROM THE PᾹLI BY VARIOUS HANDS, UNDER THE EDITORSHIP OF

PROFESSOR E. B. COWELL, VOL. I, TRANSLATED BY ROBERT CHALMERS, B.A., OF ORIEL COLLEGE, OXFORD,

CAMBRIDGE,AT THE UNIVERSITY PRESS,1895)

 

Kembali ke Artikel Dhamma

[from Sañjiva-Jātaka (Jātaka 150)]

 

Once on a time when Brahmadatta was reigning in Benares, the Bodhisatta was born into the family of a wealthy brahmin.

Arriving at years of discretion, he went to study at Takkasilã, where he received a complete education. 

 

Upon return to Benares as a teacher, he enjoyed world-wide fame and had five hundred young brahmins as pupils. Among these

was one named Sañjìva, to whom the Bodhisatta taught the spell for raising the dead to life.But though the young man was taught

this, he was not taught the counter charm. Proud of his new power, he went with his fellow-pupils to the forestwood-gathering,

and there came on a dead tiger.

 

“Now see me bring the tiger to life again,” said he.

 

“You can’t,” said they.

 

“You look and you will see me do it.”

 

“Well, if you can, do so,” said they and climbed up a tree forthwith.

 

Then Sañjìva repeated his charm and struck the dead tiger with a potsherd.Up started the tiger and quick as lightning sprang at

Sañjìva and bit him onthe throat, killing him outright. Dead fell the tiger then and there, and dead fell Sañjìva too at the same

spot. Sothere the two lay dead side by side.

 

The young brahmins took their wood and went back to their master to whomthey told the story. ”My dear pupils,” said he, “mark

herein how by reason of showing favour to the sinful and paying honour where it was not due,  he has brought all this calamity

upon himself.” And so saying he uttered this stanza:--     

 

Befriend a villain, aid him in his need,

And like that tiger which Sañjìva raised

To life, he straight devours you for your pains.

 

Such was the Boddhisatta’s lesson to the young brahmins.

Kembali ke Artikel Dhamma

19. Peringatan Sang Buddha tentang akan hilangnya Dhamma

Samyutta Nikaya XX.7

Ani Sutta

(Kotbah tentang Pasak)

 

Ketika berdiam di Savatthi, ” Para bhikkhu, suatu ketika di jaman dahulu orang-orang Dasaraha mempunyai sebuah tambur besar

yang diberi nama “Si Pengundang.” Setiap kali Si Pengundang sobek,  orang-orang Dasaraha menyisipkan penyumbat/pasak ke

dalamnya sehingga suatu ketika badan kayu asli Si Pengundang hilang dan hanya sekumpulan pasaklah yang tertinggal.

 

“Dengan cara yang sama, dalam perjalanan waktu mendatang akan ada bhikkhu-bhikkhu yang tidak mau mendengarkan ketika

ceramah-ceramah yang merupakan perkataan Sang Tathagata (Buddha) – yang arti-artinya sangat dalam, transcendental (di luar

pengertian dan pengetahuan manusia biasa), terkait dengan kehampaan – sedang diucapkan. Mereka tidak mau mendengarkan,

tidak mau memusatkan batin mereka untuk memahaminya, tidak mau memandang ajaran-ajaran tersebut sebagai patut dipahami

atau dikuasai. Tetapi, mereka akan mendengarkan ketika ceramah-ceramah yang merupakan karya sastra – yaitu karya para

pujangga, elok dalam hal suara, elok dalam hal retorika (kepandaian bicara), karya orang luar, perkataan para murid –

diucapkan. Mereka akan mendengarkan dan memusatkan batin mereka untuk memahaminya. Mereka akan menganggap ajaran-

ajaran yang demikian sebagai patut dipahami & dikuasai.

 

“Dengan cara demikianlah ceramah-ceramah yang merupakan perkataan Sang Tathagata – yang arti-artinya sangat dalam,

transcendental, terkait dengan kehampaan – akan hilang.

 

“Beginilah anda sekalian seharusnya melatih diri:” Kami akan mendengarkan ketika ceramah-ceramah yang merupakan

perkataan Sang Tathagata -   yang arti-artinya sangat dalam, transcendental, terkait dengan kehampaan – sedang diucapkan.

Kami akan mendengarkan, akan memusatkan batin kami untuk memahaminya, akan menganggap ajaran-ajaran tersebut sebagai

patut dipahami & dikuasai.” “Itulah cara anda sekalian seharusnya berlatih diri.”

 

Samyutta Nikaya XX.7

Ani Sutta

The Peg

Staying at Savatthi. "Monks, there once was a time when the Dasarahas had a large drum called 'Summoner.' Whenever

Summoner was split, the Dasarahas inserted another peg in it, until the time came when Summoner's original wooden body had

disappeared and only a conglomeration of pegs remained.

"In the same way, in the course of the future there will be monks who won't listen when discourses that are words of the

Tathagata -- deep, deep in their meaning, transcendent, connected with emptiness -- are being recited. They won't lend ear, won't

et their hearts on knowing them, won't regard these teachings as worth grasping or mastering. But they will listen when

discourses that are literary works -- the works of poets, elegant in sound, elegant in rhetoric, the work of outsiders, words of

disciples -- are recited. They will lend ear and set their hearts on knowing them. They will regard these teachings as worth

grasping & mastering.

"In this way the disappearance of the discourses that are words of the Tathagata -- deep, deep in their meaning, transcendent,

connected with emptiness -- will come about.

"Thus you should train yourselves: 'We will listen when discourses that are words of the Tathagata -- deep, deep in their

meaning, transcendent, connected with emptiness -- are being recited. We will lend ear, will set our hearts on knowing them, will

regard these teachings as worth grasping & mastering.' That's how you should train yourselves."

20. Sayang sekali kalau gagal hidup sebagai manusia

Sayang sekali kalau kita hidup sukses secara materi, ekonomi, politik atau sosial, tapi lahir kembali di alam rendah karena

berbuat buruk melalui pikiran, perkataan dan jasmani padahal sangatsulit dan sangat lama untuk bisa kembali jadi manusia. 

Kembali ke Artikel Dhamma

21. Usia Tua (Old Age)

October 6, 2013 at 10:11 PM

Dhammapada 147: 

Behold this beautiful body,

A mass of sores, a bone-gathering,

Diseased and full of hankerings,

With no lasting, no persisting.

 

Lihatlah tubuh yang dikatakan indah ini,

yang penuh luka, terbentuk dari rangkaian tulang,

berpenyakitan dan penuh keinginan yang sangat,

benar-benar tidak tahan lama.

 

Dhammapada 156:

Having led neither a good life,

Nor acquired riches while young,

They lie about like broken bows,

sighing about the past.

 

Karena selagi muda tidak menempuh kehidupan 

suci atau mengumpulkan kekayaan, (begitu usia tua tiba)

mereka niscaya tergeletak seperti busur panah yang lapuk,

sambil berkeluh kesah tentang masa lampau.

 

Kembali ke Artikel Dhamma