lijusu news

 

education

 

careers

 

 economy

 

health

 

 finance

 

interviews

 

 news

 

science-

tech

 

bimbingan

usaha

peluang usaha 

 
 

Kolom: Bayu S.

Penerjemah Inggeris-Indonesia, pemerhati psikologi

Kecerdasan seseorang kadang-kadang tidak terlihat selama usia dini

Oleh Bayu S., 8 Maret 2019

1. Belajar dari Sukses Bisnis Orang Jepang

tentang Pentingnya Factor Budaya

04-01-2018, dari kompasiana.com/tjan sie tek, oleh Bayu & Yanto, suntingan  Tjan Sie Tek*

No Misu

Terbaik Kedua tidak cukup baik

Jepang menganggap kebangkitannya menjadi adikuasa berasal dari berbagai faktor internal dan eksternal. Namun, berapa banyak pun bantuan yang diperoleh orang Jepang dari teknologi luar negeri, pasar-pasar Amerika dan Eropa yang besar sekali, kaya dan terbuka serta berbagai perang Amerika di Korea dan Vietnam, tidak akan ada Jepang yang adikuasa jika tidak karena sejumlah faktor budaya yang telah benar-benar menjadikan orang Jepang sebagai salah satu bangsa yang unggul.

Satu dari berbagai faktor budaya yang menjadi salah satu pilar utama dalam bangunan ekonomi yang dibangun oleh orang Jepang adalah obsesi mereka pada mutu. Dari sekitar abad ke-5 dan ke-6, ketika Jepang mulai pertama kali mengimpor teknologi keterampilan tangan dan para artisan (perajin tangan yang terampil) dari Korea dan Tiongkok, orang Jepang semakin terpapar pada berbagai seni dan keterampilan yang dibuat oleh para ahli. 

Orang Jepang juga menerapkan dan menguraikan panjang-lebar tradisi Tiongkok kuno dalam menggunakan pendekatan guru-pemagang (master-apprentice; seorang pemagang bekerja di bawah bimbingan seorang guru) untuk melatih para artisan dan craftsmen(para seniman dengan keahlian teknik). Anak laki-laki, kadang-kadang dari usia tujuh atau delapan tahun, secara rutin dijadikan pemagang kepada para artisan dan craftsmen yang ahli selama 10 hingga 30 tahun. 

Sistem itu, yang diteruskan dari generasi ke generasi, menghasilkan banyak sekali tukang kayu, pengukir, pelukis, pembuat tembikar yang ahli dan banyak artisan lainnya, sehingga secara bertahap menaikkan tingkat mutu segala sesuatu yang diproduksi di Jepang dan mengilhami orang biasa Jepang dengan apa-apa yang mungkin benar-benar telah menjadi standar-standar mutu yang tertinggi di dunia.

Ketika Jepang diindustrialisasikan antara tahun 1870 dan 1895 serta negeri itu mulai menghasilkan produk-produk Barat, yang biasanya di bawah arahan para importir luar negeri, mereka tidak dapat menerapkan berbagai standar mutu tradisional mereka karena produk-produk tersebut masih baru bagi orang Jepang dan dibuat dengan perlengkapan yang tidak dikenal serta diproduksi secara massal.

Fenomena itu terulang setelah berakhirnya Perang Dunia II, namun kali itu dengan akhir yang berbeda. Pada akhir tahun 1940-an dan awal tahun 1950-an, para insinyur Jepang, bekerja sama dengan para penguasa pendudukan Amerika, memutuskan untuk memperkenalkan metode pengendalian mutu terbaru ke Jepang.

Pada tahun 1950, ahli kendali statistik dari Amerika W. Edward Deming diundang untuk memberi kuliah di Jepang. Ia disusul di tahun 1954 oleh J.M. Juran, yang juga seorang ahli kendali mutu dari Amerika. 

Sepanjang dekade berikutnya orang Jepang menyatukan berbagai metode pengendalian mutu yang mereka pelajari dari kedua orang ahli Amerika tersebut dengan pendekatan tradisi guru-pemagang untuk pelatihan dan obsesi mereka pada kerapian, presisi dan mutu, untuk merekayasa dan menghasilkan sederetan produk bermutu tinggi yang menggemparkan dunia.

* dari Japan's Cultural Code Words

2. Peran Besar Buddhisme Zen dalam Sukses Bisnis Jepang

04-01-2018,dari kompasiana.com/tjan sie tek oleh Mikael & Bayu, suntingan Tjan Sie Tek*

San Ma no I

Tiga Pintu menuju Sukses

Salah satu pelajaran terpenting yang orang Jepang dapatkan dari Buddhisme Zen (jhana), terutama yang disebarluaskan di Jepang oleh Eisai (1141-1215) dan bahkan oleh Dogen (1200-1253) yang lebih terkenal, yang merupakan pendiri sekte Soto, adalah pentingnya jiwa dalam semua upaya manusia. 

Orang Jepang mendengar bahwa ada unsur kerohanian dalam segala bentuk pencapaian dan semakin besar pencapaian yang diperoleh, semakin besarlah keterlibatan jiwa di dalamnya.

Kelas pejuang samurai Jepang, yang bangkit sekitar abad ke-11 dan ke-12, menjadi penyokong besar aliran Buddhisme Zen karena aliran atau mazhab Buddhisme itu mengajarkan gaya hidup ketat yang digabungkan dengan dedikasi yang hampir kerasukan untuk berlatih gaya hidup dan seni. Karena kehidupan para samurai bergantung pada keterampilan yang luar biasa dalam seni bela diri dan akhirnya juga pada tingkat keterampilan yang sama-sama luar biasa dalam etiket sosial yang ketat, Zen menjadi tuntunan kerohanian sekaligus pedoman latihan mereka.

Para samurai adalah kelas penguasa Jepang dari sekitar tahun 1185 hingga 1868. Meskipun mereka hanya terdiri dari sepuluh persen populasi, mereka menentukan standar-standar dalam setiap segi kehidupan setiap orang Jepang: dalam bahasa dan kesusasteraan, estetika, seni, kerajinan tangan, perilaku sehari-hari dan dalam moralitas.

Para samurai juga mengilhami kebudayaan Jepang dengan sifat bela diri kuat yang mempersiapkan orang Jepang untuk melakukan segala sesuatu dalam urutan yang tepat dan teratur serta dan membenci kelemahan atau kegagalan apa pun. Hingga hari ini tidak ada bidang hidup orang Jepang yang tidak dipengaruhi oleh warisan Zen dan masih ada unsur Zen dalam karakter setiap orang Jepang. 

Zen masih merupakan inti semua seni bela diri di mana Jepang termasyur, dari aikido ke karate hingga kendo; dan aturan-aturan Zen yang berlaku untuk mempelajari seni-seni bela diri itu diajarkan sebagai garis pedoman untuk sukses dalam bisnis.

Nobuharu Yagyu, iemoto atau kepala sekolah ke-21 dari Sekolah Kendo Yagyu, menjelaskan bahwa rahasia untuk mencapai keterampilan dalam kendo adalah semangat yang berasal dari pengulangan san ma no I, atau "tiga latihan". Tiga latihan tersebut adalah menerima ajaran yang benar, mendedikasikan diri pada ajaran tersebut dan menerapkan akal budi kita sendiri pada apa yang pernah dipelajari dari berbagai ajaran tersebut.

Satu di antara aspek menyerap dan menggunakan ajaran yang benar tersebut adalah mengosongkan pikiran dari hal-hal yang lain, berupaya untuk bebas tuntas dari kemelekatan dan membuka pikiran sepenuhnya untuk menerima seutuhnya dan secara tepat apa pun situasi yang dialami.

Yagyu berkata bahwa penting sekali  seseorang memelihara ken, yaitu "pandangan," dan kan (sati), "pandangan terang," untuk melihat atau merasakan kenyataan dan dapat menafsirkan niat-niat seorang lawan -- yang mencakup gerakan yang sekecil apa pun atau bahkan tiada gerakan sekali pun. Itu salah satu pelajaran yang berlaku  bagi semua perilaku manusia, bukan hanya kendo.

Sebagaimana yang semua ahli dengar, begitu mencapai suatu tingkat tinggi keterampilan dalam seni atau keahlian apa pun, latihan dan praktik harus berlanjut untuk memelihara keterampilan itu, yaitu salah satu ciri filosofi kaizen bangsa Jepang.  Filosofi itu beranggapan bahwa seseorang tidak pernah benar-benar menguasai apa pun dan, karena itu, harus terus-menerus berjuang untuk meningkatkan mutu.

 Ada pepatah yang terkenal  dalam bahasa Jepang yang mengungkapkan kepercayaan terus-menerus pada peningkatan mutu yang berkesinambungan: "Hari ini aku harus mengalahkan diriku yang kemarin."

*Dari Japan's Cultural Code Words