Belajar Penerjemahan 6: Contoh Pemerkuatan Karakter Buddhis

Model Buddhist Character Building

27 April 2017

 

 

To apologize (khamati) is to express one's recognition of and sorrow for1 having hurt another. Sometimes we break one or another of the Precepts in a way that hurts or offends others. One way2 we can make amends3 for this is to express our contrition to the person we have hurt. Giving4 a sincere apology, without reservation or self-justification, is one of the higher5 forms of generosity.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

By doing so we help heal any anger or resentment the other person may feel, we ease the way for them to practise forgiveness and we make possible the mending of a ruptured relationship. On our part, giving a sincere, unreserved and timely apology soothes any self-reproach we might feel and helps us become more open about and objective towards the negative side of our character, which is an important part of character building6.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

If apologizing can be difficult, it is also true that pardoning a transgression is just as difficult. This is why the Buddha said that it is incumbent on a person who has done wrong to apologize, just as it is incumbent on the person who has been wronged to accept an apology and then respond with forgiveness (Vin.I,54). The person who has done wrong has an obligation to make the first move and say he or she is sorry. After that, the person who has been wronged is obliged to accept the apology and then forgive. There were several incidents where the Buddha said things that deeply upset people; proclaiming the truth sometimes involves breaking cherished idols. He never apologized for doing this because his concern was always the best interests of the person involved. For us though, with our imperfections, our egos and our lack of mindfulness, apologizing is one way we can heal some of the hurt we may have caused.

 

Minta maaf (khamati) adalah mengungkapkan pengakuan dan kesedihan seseorang karena1 telah menyakiti orang lain. Terkadang kita melanggar satu atau beberapa di antara Pancasila Buddhis (aturan moral dasar Buddhis) dengan cara yang menyakiti atau melukai hati  orang lain. Salah satu cara2 untuk kita bisa membayar kerugian3 untuk hal itu adalah dengan mengungkapkan penyesalan kita kepada orang yang telah kita sakiti. Mengucapkan4 permintaan maaf yang tulus, tanpa keberatan atau pembenaran pribadi, adalah salah satu bentuk caga (kemurahan hati) yang tinggi5.

1)      for: (i) untuk, demi (seseorang atau sesuatu); (ii) selama (waktu, masa); (iii) karena (sebab); (iv) atas nama (seseorang, sebuah perusahaan dll);

2)      one way: salah satu cara, bukan suatu cata atau satu cara karena one way tidak berarti cara atau jalan satu-satunya. Jika kita ingin berkata “cara atau jalan satu-satunya” dalam bahasa Inggeris, kita berkata “the only way,” atau “the sole way,” atau “the single way”;

3)      make: (i) membuat (memproduksi); (ii) menjadikan (menyebabkan); (iii) melakukan (pembayaran; make a payment); (iv) membayar (kerugian; make amendments)

4)      amend: mengubah (peraturan, akta notaris, undang-unadang dll); amendment= perubahan; amends (bentuk jamak)= (i) kerugian (ganti rugi; indemnification; compensation); (ii) tindakan yang dilakukan untuk menebus kesalahan; (iii) uang yang dibayar untuk menebus kesalahan; make amends= membayar kerugian;

5)      higher=  (i) comparative degree (tingkat lebih) dari kata sifat “high”= lebih tinggi, dengan syarat ada sesuatu yang telah disebutkan sebagai tinggi; (ii) tinggi (tanpa ada sesuatu yang telah disebutkan sebagai tinggi). Contoh: higher education= pendidikan tinggi

 

 

Dengan berbuat demikian, kita membantu menyembuhkan kemarahan atau kebencian yang mungkin dirasakan orang lain, kita mempermudah jalan mereka untuk memaafkan dan kita dapat memperbaiki hubungan yang telah pecah. Pada sisi kita, mengucapkan permintaan maaf yang tulus, terus-terang dan tepat waktu akan menyejukkan setiap celaan terhadap diri sendiri yang mungkin kita rasakan dan membantu kita menjadi lebih terbuka dan objektif terhadap sisi negatif karakter kita, yang merupakan bagian penting dari pemerkuatan karakter6.

6)      Build= (i) membangun (sesuatu yang belum ada, misalnya rumah, gedung); (ii) mengembangkan (sesuatu yang sudah ada sehingga tumbuh besar, secara horizontal maupun vertical; misalnya, mengembangkan usaha; sekarang istilah “business development” lebih sering dipakai); (iii) memperkuat: menjadikan lebih kuat sesuatu yang sudah kuat, misalnya, olahraga akan memperkuat otot; build character= memperkuat karakter yang sudah kuat. Catatan: jika kita menerjemahkan perkataan “character building” sebagai “pembangunan karakter,” itu berarti bahwa kita menganggap karakter orang yang bersangkutan belum ada.   

 

Jika minta maaf dapat terasa sulit,  juga benar bahwa mengampuni pelanggaran sama sulitnya. Itulah sebabnya Sang Buddha berkata bahwa wajib bagi seseorang yang telah melakukan kesalahan untuk minta maaf, sama wajibnya bagi orang orang yang telah disakiti hatinya untuk menerima permintaan maaf dan kemudian memaafkan (Vin.I, 54). Orang yang telah melakukan kesalahan memiliki kewajiban untuk bergerak lebih dahulu dan berkata bahwa dia menyesal. Setelah itu, orang yang telah disakiti hatinya wajib menerima permintaan maaf tersebut lalu memaafkan. Ada beberapa kejadian di mana Sang Buddha mengatakan hal-hal yang sangat membuat orang kesal; Menyebutkan kebenaran terkadang perlu mematahkan pujaan hati seseorang . Beliau  tidak pernah minta maaf karena melakukan hal itu  karena perhatian-Nya adalah selalu kepentingan terbaik orang yang bersangkutan. Namun, bagi kita, dengan ketidaksempurnaan kita, ego kita dan kurangnya mindfulness (perhatian penuh), minta maaf adalah salah satu cara untuk kita dapat menyembuhkan beberapa di antara luka hati yang mungkin telah kita timbulkan.

 

Diterjemahkan oleh Mazaya Fadhila, M.Si. (Kand.), dan disunting oleh Tjan Sie Tek, M.Si., dari Buddhism A to Z oleh Bhikkhu S. Dhammika.