lijusu news

 

education

 careers

 

 economy

 health

 

 finance

 interviews

 

 news

 science-tech

 

 

Belajar Penerjemahan 13 Inggeris-Indonesia: Manfaat Olahraga dalam belajar Bahasa Kedua atau Asing

diterjemahkan dari The New York Times 22 Agustus 2017 oleh Tjan & Bayu Sugiharto

 

1. Learning a second language as an adult is difficult. But the process may be eased if you exercise while learning.

Orang dewasa sulit belajar bahasa kedua atau asing. Tetapi prosesnya bisa dipermudah jika anda berolahraga saat belajar.

2. A new study reports that working out during a language class amplifies people’s ability to memorize, retain and understand new vocabulary. The findings provide more evidence that to engage our minds, we should move our bodies.

Sebuah penelitian baru melaporkan bahwa berolahraga selama pelajaran bahasa memperkuat kemampuan orang untuk mengingat, memelihara dan mengerti kosa kata baru. Temuan-temuan itu memberikan lebih banyak bukti bahwa untuk mengaktifkan  pikiran kita, kita sebaiknya menggerakkan badan kita.

3. In recent years, a wealth of studies in both animals and people have shown that we learn differently if we also exercise. Lab rodents given access to running wheels create and maintain memories better than animals that are sedentary, for instance.

Selama tahun-tahun belakangan ini, banyak sekali penelitian baik tentang binatang maupun orang telah menunjukkan bahwa kita belajar secara berbeda jika kita juga berolahraga. Sebagai contoh, tikus-tikus di laboratorium yang boleh memakai roda berputar terbukti menimbulkan dan mempertahankan ingatan lebih baik daripada binatang-binatang yang hanya diam.

4. And students consistently perform better on academic tests if they participate in some kind of physical activity during the school day.

Para pelajar juga terus-menerus berkinerja lebih baik pada tes akademis jika mereka ikut serta dalam semacam aktivitas fisik saat hari sekolah.

 5. Many scientists suspect that exercise alters the biology of the brain in ways that make it more malleable and receptive to new information, a process that scientists refer to as plasticity.

Banyak ilmuwan menduga bahwa olahraga mengubah biologi otak dengan cara-cara yang membuat otak lebih lentur dan dapat menerima informasi baru, yaitu sebuah proses yang disebut para peneliti sebagai kelenturan.

6. But many questions have remained unanswered about movement and learning, including whether exercise is most beneficial before, during or after instruction and how much and what types of exercise might be best.

Tetapi, banyak pertanyaan tetap tidak terjawab tentang gerakan dan pembelajaran, yang mencakup apakah olahraga paling bermanfaat sebelum, selama atau sesudah pengajaran dan seberapa banyak serta jenis-jenis olahraga apa yang mungkin terbaik.

7. So for the new study, which was published recently in PLOS One, researchers in China and Italy decided to home in on language learning and the adult brain.

Jadi, untuk penelitian baru itu, yang telah diterbitkan baru-baru ini di PLOS One, para peneliti di China dan Italia memutuskan untuk berfokus pada pembelajaran bahasa dan otak orang dewasa.

8. Language learning is interesting. As young children, almost all of us picked up our first language easily. We didn’t have to be formally taught; we simply absorbed words and concepts.

Belajar bahasa menarik. Ketika masih muda, hampir semua dari kita menangkap bahasa pertama kita dengan mudah. Kita tidak harus diajari secara resmi; kita sekedar menyerap kata dan konsep.

9. But by early adulthood, the brain generally begins to lose some of its innate language capability. It displays less plasticity in areas of the brain related to language. As a result, for most of us, it becomes harder to learn a second language after childhood.

Tetapi, pada awal masa dewasa, otak secara umum mulai kehilangan beberapa kemampuan bahasa bawaannya. Otak menunjukkan berkurangnya kelenturan di bagian-bagiannya yang berkaitan dengan bahasa. Sebagai salah satu akibatnya, untuk sebagian besar dari kita, otak menjadi lebih sulit untuk belajar bahasa kedua setelah masa kanak-kanak.

10. To see what effects exercise might have on this process, the researchers first recruited 40 college-age Chinese men and women who were trying to learn English. The students had some facility with this second language but were far from proficient.

Untuk melihat hasil-hasil apa yang mungkin olahraga timbulkan pada proses itu, para peneliti pertama-tama merekrut 40 orang pria dan wanita China umur kuliahan yang sedang mencoba belajar bahasa Inggris. Para pelajar itu telah menunjukkan sejumlah kemudahan dalam berbahasa Inggeris tetapi jauh dari pandai.

11. The researchers then divided the students into two groups. Those in one group would continue to learn English as they had before, primarily while seated in rote vocabulary-memorization sessions.

Lalu, para peneliti itu membagi para pelajar tersebut menjadi 2 kelompok. Para pelajar  di salah satu kelompok terus belajar bahasa Inggris sebagaimana yang telah mereka lakukan sebelumnya, terutama sambil duduk dalam acara-acara penghafalan  kosa kata.

12. The others would supplement these sessions with exercise

Para pelajar lainnya menambahi acara-acara itu dengan olahraga.

13. Specifically, the students would ride exercise bikes at a gentle pace (about 60 percent of their maximum aerobic capacity) beginning 20 minutes before the start of the lessons and continuing throughout the 15 minutes or so of instruction.

Secara khusus, para pelajar kelompok kedua mengendarai sepeda-sepeda olahraga dengan putaran yang lambat (sekitar 60% dari kapasitas aerobik maksimal) yang dimulai 20 menit sebelum acara-cara itu dan berlanjut selama +15 menit berlangsungnya acara.

14. Both groups learned their new vocabulary by watching words projected onto large screens, together with comparable pictures, such as “apple” and a Red Delicious. They were shown 40 words per session, with the sequence repeated several times.

Kedua kelompok belajar kosa kata baru mereka dengan melihat kata-kata yang ditampilkan ke layar-layar besar, bersama dengan gambar-gambar yang bersesuaian, misalnya “apple” dan sebuah Red Delicious. Mereka diperlihatkan 40 kata setiap acara, dengan urutannya diulang beberapa kali.

15. Afterwards, the students all rested briefly and then completed a vocabulary quiz, using computer keys to note as quickly as possible whether a word was with its correct picture. They also responded to sentences using the new words, marking whether the sentences were accurate or, in the case of “The apple is a dentist,” nonsensical. Most linguists feel that understanding sentences shows greater mastery of a new language than does simple vocabulary improvement.

Setelah itu, semua pelajar beristirahat sebentar dan lalu mengisi sebuah teka-teki kosa kata dengan menggunakan tombol-tombol komputer untuk mencatat secepat mungkin apakah sebuah kata muncul bersama dengan gambarnya yang tepat. Mereka juga menjawab kalimat-kalimat dengan menggunakan kata-kata baru dengan menandai apakah kalimat-kalimat itu tepat atau, seperti dalam kalimat “Apel itu adalah dokter gigi,”sebagai tidak masuk akal . Sebagian besar ahli bahasa merasa bahwa memahami kalimat menunjukkan penguasaan yang lebih besar atas sebuah bahasa baru daripada sekedar peningkatan kosa kata.

16. The students completed eight vocabulary sessions over the course of two months.

Para pelajar menyelesaikan delapan acara kosa kata selama dua bulan.

17. And at the end of each lesson, the students who had ridden bikes performed better on the subsequent vocabulary tests than did the students who sat still.

Pada akhir setiap acara, para pelajar yang mengendarai sepeda ternyata berkinerja lebih baik pada uji-uji kosa kata sesudah setiap pelajaran daripada para pelajar yang duduk diam.

18. They also became more proficient at recognizing proper sentences than the sedentary students, although that difference did not emerge until after several weeks of instruction.

Mereka juga menjadi lebih pandai dalam mengenali kalimat-kalimat yang benar daripada para pelajar yang duduk diam meskipun perbedaan itu tidak muncul sampai beberapa minggu setelah pengajaran.

19. Perhaps most interesting, the gains in vocabulary and comprehension lingered longest for the cyclists. When the researchers asked the students to return to the lab for a final round of testing a month after the lessons — without practicing in the meantime — the cyclists remembered words and understood them in sentences more accurately than did the students who had not moved.

20. “The results suggest that physical activity during learning improves that learning,” says Simone Sulpizio, a professor of psychology and linguistics at the University Vita-Salute San Raffaele in Milan, Italy, and a study co-author.

19. Mungkin yang paling menarik adalah bahwa peningkatan dalam kosa kata dan pemahaman ternyata bertahan paling lama untuk para pesepeda. Saat para peneliti minta para pelajar itu kembali ke laboratorium untuk tahap akhir pengujian satu bulan setelah acara-acara di atas— tetapi tanpa berlatih selama masa satu bulan itu -- para pesepeda ternyata mengingat kata-kata yang bersangkutan dan mengerti kata-kata itu  dalam kalimat-kalimat dengan lebih tepat daripada para pelajar yang tidak bergerak.

20. “Hasil-hasil itu mengesankan bahwa aktivitas fisik selama belajar meningkatkan pembelajaran itu, “ kata Simone Sulpizio, seorang profesor psikologi dan linguistik di Universitas Vita-Salute dan Raffaela di Milan, Italia, sekaligus sebagai penulis bersama laporan penelitian itu.

21. These improvements extend beyond simply aiding in memorization, she added. The exercise also deepened language learners’ grasp of how to use their newly acquired words.

22. This study involved college students performing relatively light exercise, though, and cannot tell us whether other people completing other types of exercise would achieve the same results.

21. Peningkatan-peningkatan mutu itu lebih daripada sekedar membantu penghafalan, tambahnya. Olahraga itu juga telah memperdalam pengertian para pelajar bahasa tentang cara memakai kata-kata mereka yang baru diperoleh.

22. Walapun demikian, penelitian itu melibatkan para pelajar universitas yang yang melakukan olahraga ringan dan tidak bisa memberitahu kita apakah orang lain yang menyelesaikan jenis-jenis olahraga lainnya akan mencapai hasil yang sama.

23. It also offers no clues about what is occurring inside the brain that might be contributing to the benefits of the exercise. But many past studies have shown that exercise prompts the release of multiple neurochemicals in the brain that increase the number of new brain cells and the connections between neurons, Dr. Sulpizio says. These effects improve the brain’s plasticity and augment the ability to learn.

24. From a real-world standpoint, the study’s implications might seem at first to be impractical. Few classrooms are equipped with stationary bicycles. But specialized equipment is probably unnecessary, Dr. Sulpizio says.

25. “We are not suggesting that schools or teachers buy lots of bicycles,” she says. “A simpler take-home message may be that instruction should be flanked by physical activity. Sitting for hours and hours without moving is not the best way to learn.”

23. Penelitian itu juga tidak memberikan petunjuk apa pun tentang apa yang terjadi di dalam otak yang mungkin berperan serta dalam manfaat-manfaat olahraga itu. Tetapi, banyak penelitian di masa lalu telah menunjukkan bahwa olahraga mendorong pelepasan banyak zat kimia syaraf di dalam otak yang meningkatkan jumlah sel otak yang baru dan hubungan-hubungan di antara neuron, kata Dr. Sulpizio. Hasil-hasil itu itu meningkatkan kelenturan otak dan menambah kemampuan untuk belajar.

24. Dari sudut pandang secara dunia nyata, hasil-hasil penelitian itu mungkin pertama-tama terlihat tidak dapat diterapkan. Sedikit ruang kelas dilengkapi sepeda diam. Tetapi, peralatan yang dibuat khusus mungkin tidak perlu, kata Dr Sulpizio.

25. “Kami tidak menyarankan agar sekolah atau guru membeli banyak sepeda,” katanya. “Sebuah pesan yang lebih sederhana untuk diingat mungkin adalah bahwa pengajaran sebaiknya dibantu oleh aktivitas fisik. Duduk berjam-jam tanpa bergerak bukan cara yang terbaik untuk belajar.”