Belajar Penerjemahan 4

CONTOH KOREKSI

oleh Tjan Sie Tek, Penerjemah Resmi & Bersumpah1978

TERJEMAHAN BAHASA INGGERIS KE BAHASA INDONESIA

SEBUAH BUKU DHAMMA oleh Sayadaw U. Pandita (1992)

 

Asli Inggeris

Terjemahan oleh orang lain

Terjemahan oleh Tjan Sie Tek

1.    Basic Morality and Meditation Instructions

 

We do not practice meditation to gain admiration from anyone. Rather, we practice to contribute to peace in the world. We try to follow the teachings of the Buddha, and take the instructions of trustworthy teachers, in hopes that we too can reach the Buddha’s state of purity. Having realized this purity within ourselves, we can inspire others and share this Dhamma, this truth.

 

 

 

1.Moralitas Dasar dan Instruksi Meditasi

 

Kita berlatih meditasi bukan untuk dikagumi orang. Tetapi kita berlatih untuk berperan serta membangun perdamaian dunia. Kita berusaha mengikuti Ajaran Buddha, dan menjalankan petunjuk guru terpercaya, dengan harapan kita juga dapat mencapai kesucian seperti yang telah dicapai oleh Buddha. Setelah memahami kesucian ini dalam diri sendiri, kita dapat memberikan inspirasi dan berbagi Dhamma, Kebenaran ini.

           

1.       Petunjuk Dasar tentang Moralitas dan Meditasi

 

 

Kita tidak berlatih meditasi untuk mendapatkan kekaguman dari siapa pun. Yang lebih baik adalah kita berlatih untuk memperkuat perdamaian di dunia. Kita mencoba mengikuti ajaran-ajaran Sang Buddha dan menerima petunjuk para guru yang dapat dipercaya, dengan harapan bahwa kita akan dapat mencapai kemurnian Sang Buddha. Setelah mencapai kemurnian itu dalam diri kita, kita dapat mengilhami orang lain dan berbagi Dhamma ini, yaitu kebenaran ini.

The Buddha’s teachings can be summed up in three parts: silā, morality; samādhi, concentration; and pañña, intuitive wisdom.

Ajaran Buddha dapat diintisarikan dalam tiga bagian: sīla (moralitas), samādhi (konsentrasi), dan paññā (kebijaksanaan intuitif).

Ajaran Sang Buddha dapat diringkas menjadi tiga bagian: sīla, moralitas; samādhi, meditasi; dan pañña, kebijaksanaan yang mengilhami.

Sila is spoken of first because it is the foundation for the other two. Its importance cannot be overstressed. Without sila, no further practices can be undertaken. For lay people the basic level of sila consists of five precepts or training rules: refraining from taking life, refraining from taking what is not given, refraining from sexual misconduct, refraining from lying, and refraining from taking intoxicating substances. These observances foster a basic purity that makes it easy to progress along the path of practice.

Sila dibahas terlebih dahulu karena merupakan dasar bagi dua lainnya. Pentingnya sila tidak dapat diabaikan. Tanpa sila, latihan selanjutnya tidak dapat dilakukan. Sila bagi umat awam, terdiri dari lima aturan: menghindari pembunuhan makhluk hidup, menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan, menghindari hubungan seks yang tidak pada tempatnya (asusila), menghindari kebohongan, dan menghindari pengkonsumsian bahan-bahan yang memabukkan. Ketaatan pelaksanaan ini membangun landasan kemurnian yang memudahkan pencapaian kemajuan dalam praktik.

Sila dibahas lebih dahulu karena merupakan dasar untuk kedua bagian yang lain itu. Pentingnya sila tidak dapat diragukan. Tanpa sila, latihan-latihan selanjutnya tidak dapat dilakukan. Untuk orang awam, tingkat dasar sila terdiri atas lima buah ketentuan atau aturan latihan: menahan diri dari pembunuhan, menahan diri dari mengambil apa yang tidak diberikan, menahan diri dari perbuatan asusila, menahan diri dari berbohong, dan menahan diri dari konsumsi zat yang memabukkan.

Pelaksanaan-pelaksanaan tersebut membantu pertumbuhan kemurnian dasar yang akan memudahkan kemajuan selama berlatih.

A BASIC SENSE OF HUMANITY

 

Sila is not a set of commandments handed down by the Buddha, and it need not be confined to Buddhist teachings. It actually derives from a basic sense of humanity. For example, suppose we have a spurt of anger and want to harm another being. If we put ourselves in that other being’s shoes, and honestly contemplate the action we have been planning, we will quickly answer,” No, I wouldn’t want this done to me, that would be cruel and unjust.” If we feel this way about some action that we plan, we can be quite sure that the action is unwholesome.

 

RASA KEMANUSIAAN MENDASAR

 

Sila bukanlah sekumpulan perintah yang diturunkan oleh Buddha, dan terbatas pada Ajaran Buddha saja. Sila sebenarnya berasal dari rasa kemanusiaan mendasar. Misalnya, ketika kita dikuasai kemarahan dan ingin mencelakakan makhluk lain. Jika kita menempatkan diri kita di tempatnya, dan secara jujur merenungkan tindakan yang kita rencanakan, kita akan segera menjawab, “Tidak, saya tidak ingin hal itu dilakukan pada saya. Itu kejam dan tidak adil.” Jika kita merasa begitu pada tindakan yang kita rencanakan, kita yakin bahwa tindakan tersebut tidak baik.

SALAH SATU RASA DASAR TENTANG KEMANUSIAAN

 

Sila bukan seperangkat perintah yang diwariskan oleh Sang Buddha dan sila tidak perlu terbatas pada ajaran-ajaran Buddha. Sila sebenarnya berasal dari rasa dasar tentang kemanusiaan. Misalnya, anggap kita sedang mengalami dorongan kemarahan yang tiba-tiba dan ingin mencelakakan makhluk lain. Jika kita menganggap diri sebagai makhluk lain tersebut, dan dengan jujur merenungi tindakan yang telah kita rencanakan, kita akan dengan cepat menjawab,”Tidak, saya tidak ingin hal itu dilakukan kepada diri saya. Hal itu kejam dan tidak adil.” Jika kita merasa begitu tentang suatu tindakan yang kita rencanakan, kita akan dapat sangat yakin bahwa tindakan tersebut tidak menyenangkan.   

 

In this way, morality can be looked upon as a manifestation of our sense of oneness with other beings. We know what it feels like to be harmed, and out of loving care and consideration we undertake to avoid harming others. We should remain committed to truthful speech and void words that abuse, deceive or slander. As we practice refraining from angry actions and angry speech, then this gross and unwholesome mental state may gradually cease to arise, or at least it will become weaker and less frequent.

 

Dengan cara ini, moral dapat dilihat sebagai perwujudan rasa kebersamaan kita dengan makhluk lain. Kita tahu bagaimana rasanya dilukai. Karena kepedulian dan pertimbangan tersebut, kita bertekad tidak mencelakakan makhluk lain. Kita juga harus bertekad tetap berbicara benar dan menghindari ucapan-ucapan kasar, menipu atau memfitnah. Ketika kita berlatih menahan diri dari tindakan dan ucapan yang disertai kemarahan, maka keadaan mental yang kotor serta tidak baik ini secara berangsur-angsur lenyap, atau paling tidak menjadi lemah dan jarang muncul.

 

Dengan demikian, moralitas dapat dipandang sebagai perwujudan rasa kesatuan kita dengan makhluk yang lain. Kita tahu bagaimana rasanya dicelakakan dan karena kepedulian dan pertimbangan yang penuh kasih-sayang, kita berjanji akan menghindarkan tindakan yang mencelakakan makhluk lainKita sebaiknya tetap berjanji akan berbicara benar dan menghindarkan kata-kata yang memaki, menipu atau memfitnah. Selama kita berlatih menahan diri dari tindakan amarah dan perkataan amarah, keadaan mental yang kasar dan tidak menyenangkan itu dapat berangsur-angsur berhenti timbul, atau paling tidak akan menjadi lebih lemah dan jarang.

Of course, anger is not the only reason we harm other beings. Greed might make us try to grab something in an illegal or unethical way. Or our sexual desire can attach itself to another person’s partner. Here again, if consider how much we could hurt someone, we will try to refrain from such succumbing to lustful desire.

Tentu saja kemarahan bukan satu-satunya alasan kita menyakiti makhluk lain. Keserakahan juga dapat membuat kita mengambil sesuatu secara tidak sah atau tercela. Atau nafsu seks kita melekat pada pasangan orang lain. Kembali di sini, jika kita mempertimbangkan, seberapa besar kita dapat melukai seseorang, kita akan berusaha keras menahan diri agar tidak tenggelam dalam nafsu keserakahan.

Tentu saja kemarahan bukan satu-satunya alasan kita untuk mencelakakan makhluk lain. Keserakahan mungkin menjadikan kita mencoba merebut sesuatu secara tidak sah atau tidak etis. Atau nafsu seks kita dapat mempengaruhi pasangan orang lain. Jadi, sekali lagi, jika kita mempertimbangkan betapa banyak kita dapat menyakiti seseorang, kita akan mencoba menahan diri agar tidak takluk pada nafsu birahi.  

Even in small amounts, intoxicating substances can make us less sensitive, more easily swayed by gross motivations of anger  and greed. Some people defend the use of drugs or alcohol, saying that these substances are not so bad.

 

On the

contrary, they are very dangerous; they can lead even a goodhearted person into forgetfulness. Like accomplices to a crime, intoxicants open the door to a host of problems, from juts talking nonsense, to inexplicable bursts of rage, to negligence that could be fatal to oneself or others. Indeed, any intoxicated person is unpredictable. Abstaining from intoxicants is therefore a way of protecting all the other precepts.

Bahkan dalam jumlah kecil, bahan-bahan memabukkan membuat kesadaran kita menurun, mudah dipengaruhi oleh motivasi kasar kemarahan dan keserakahan. Beberapa orang yang membela penggunaan obat-obatan dan alkohol berpendapat bahwa hal tersebut tidak begitu buruk. Sesungguhnya, benda-benda itu sangat berbahaya, mereka bahkan membuat orang baik hati menjadi lalai. Seperti kaki tangan kejahatan, bahan-bahan yang memabukkan membuka pintu berbagai macam permasalahan, mulai omong kosong, sampai pada kemarahan yang tidak dapat dilukiskan, bahkan kelalaian fatal bagi diri sendiri dan orang lain. Memang orang yang sudah mabuk tidak dapat diduga tindakannya. Oleh karena itu, menghindari bahan-bahan memabukkan merupakan jalan untuk melindungi sila yang lain.

               

Walaupun dalam jumlah sedikit, zat yang memabukkan dapat menjadikan kita kurang peka, lebih mudah dikuasai oleh dorongan kasar untuk marah dan serakah. Beberapa orang membela konsumsi obat keras atau alkohol, sehingga berkata bahwa zat-zat itu tidak begitu buruk.

Sebaliknya, zat-zat itu sangat berbahaya dan bahkan dapat menjadikan orang baik lengah. Seperti kaki-tangan dalam kejahatan, zat pemabuk mengundang masuk banyak sekali masalah, dari sekedar cuap-cuap tanpa arti, sampai ledakan kemarahan yang tidak dapat dijelaskan, juga kelalaian yang dapat mematikan diri sendiri atau orang lain. Memang, setiap orang mabuk tidak dapat diduga tindakannya. Karena itu, menahan diri dari zat pemabuk adalah salah satu cara untuk melindungi semua sila yang lain tersebut.

For those whose devotion makes them wish to undertake further discipline, there are also sets of eight and ten precepts for lay people, ten precepts for nuns, and the Vinaya or 227 rules for monks. There is more information about these forms of sīla in the Glossary.

Bagi mereka yang karena keyakinannya berkeinginan mengambil disiplin lebih tinggi, tersedia juga kelompok delapan dan sepuluh sila untuk umat awam, sepuluh sila untuk wiharawati Buddhis dan Vinaya atau 227 aturan kedisiplinan untuk para bhikkhu. Terdapat informasi tambahan berkenaan dengan bentuk-bentuk sila ini di lembar lampiran tentang Kelompok Dhamma Bertingkat.

Bagi orang-orang yang keyakinannya menjadikan mereka ingin melaksanakan disiplin lebih lanjut, juga ada kelompok delapan dan sepuluh sila untuk orang awam, sepuluh sila untuk wiharawati Buddhis, dan Vinaya atau 227 sila untuk bhikkhu. Ada lebih banyak informasi tentang bentuk-bentuk sila itu di Daftar Istilah.

 

Semoga bermanfaat.