Belajar Penerjemahan 7: Koreksi Terjemahan & Penjelasan Buku Dhamma 

oleh

Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah1978 Resmi & Bersumpah

                                           Aslinya dalam Bahasa Inggeris oleh Ahli Dhamma dari Malaysia

 

Asli Inggeris

Terjemahan oleh orang lain

Terjemahan oleh Tjan Sie Tek

He was born a prince who seemed to have everything. He had a

luxurious upbringing and His family was of pure descent on both

sides. He was the heir to the throne, extremely handsome, inspiring

trust, stately and gifted with great beauty of complexion and a fine

presence. At sixteen He married His cousin named Yasodhara. She

was majestic, serene and full of dignity and grace.

 

 

 

 

 

 

Despite all this, Prince Siddhartha felt trapped amidst the luxury

like a bird in a golden cage.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

During His visits outside the palace,

He saw what was known as the ‘Four Sights’, that is, an old man, a

sick man, a dead man, and a holy recluse.

Ia terlahir sebagai  seorang pangeran yang memiliki segalanya. Ia dibesarkan dengan kemewahan oleh keluarga-Nya yang kedua belah pihak merupakan keturunan ningrat murni. Ia adalah pewaris takhta, sangat tampan, mapan, agung, terberkahi dengan keindahan kulit yang luar biasa, dan penampakan yang rupawan. Pada usia 16 tahun, Ia menikahi sepupu-nya yang bernama Yasodharā, seorang yang juga anggun, tenang, dan bermartabat tinggi.

 

 

Di samping semua ini, ia merasa terjebak di tengah-tengah kemewahan seperti seekor burung dalam sangkar emas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selama kunjungan-Nya ke luar lingkungan istana, Ia menyaksikan hal yang disebut “Empat Penampakan”, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati, dan petapa.

Ia dilahirkan sebagai  seorang pangeran yang kelihatanmemiliki1 segalanya. Ia dibesarkan dengan kemewahan oleh keluarga-nya yang kedua belah pihak merupakan keturunan (ksatria2 )murni. Ia adalah pewaris takhta, sangat tampan, sehingga menimbulkan kepercayaan3, agung, terberkahi dengan keindahan kulit wajah4 yang amat indah, dan penampakan yang rupawan. Pada usia 16 tahun, Ia menikahi sepupu-nya yang bernama Yasodharā, seorang yang penuh kemuliaan5, tenang dan penuh keagungan serta martabat6.

5) majestic= penuh kemuliaan/keagungan/kebesaran (berbeda dari “anggun” yang hanya berarti “apik dan tampan”)

 

 

 

Walaupun7semua itu8, ia merasa terjebak di tengah-tengah kemewahan seperti seekor burung dalam sangkar emas.

8) this= itu

a. Dalam anafora bahasa Inggeris, kata penunjuk “this” adalah sebuah acuan endoforis (endophoric reference) yang dipakai oleh penulis atau penutur yang bersangkutan untuk menunjuk sesuatu yang sudah disebutkan olehnya sendiri, yaitu “kemurnian keturunan, ketampanan dll yang dimiliki oleh Pangeran Siddhartha dan keagungan, kecantikan serta lain-lain yang dimiliki oleh isteri-Nya,” sedangkan menurut anafora bahasa Indonesia secara linguistis, kata penunjuk “itu” adalah acuan endoforis yang dipakai baik oleh penulis atau penulis yang bersangkutan ataupun oleh lawan tuturnya atau pembaca naskahnya (B.K. Purwo, 1984:111).

 

Catatan:

i)Dalam anafora linguistis bahasa Inggeris, kata “this” hanya dapat dipakai jika perkataan “kemurnian keturunan, ketampanan dll yang dimiliki oleh Pangeran Siddhartha dan keagungan, kecantikan serta lain-lain yang dimiliki oleh isteri-Nyadan “this” diucapkan atau ditulis oleh orang yang sama, sebagai orang pertama.

 

ii) Kata “this”  dapat diubah menjadi “that” jika diucapkan oleh lawan tuturnya atau pembaca naskahnya langsung sesudah penutur atau penulis yang bersangkutan selesai menulis atau mengucapkan “kemurnian keturunan, ketampanan dll yang dimiliki oleh Pangeran Siddhartha dan keagungan, kecantikan serta lain-lain yang dimilik oleh isteri-Nya.”

iii) Namun, kata “this” tetap ditulis sebagai “this” dan diterjemahkan menjadi “ini” jika penutur atau penulisnya memakainya secara bergantian dengan lawan tuturnya. Contoh lain: dalam sebuah perjanjian bahasa Inggeris, kata majemuk “this Agreement (Perjanjian ini)” dipakai oleh para pihak yang bersangkutan untuk menunjuk pada perjanjian yang dibahas atau ditanda-tangani oleh mereka sendiri.

 

b. Dalam deiksis bahasa Inggeris:

kata penunjuk “this (ini)” dipakai untuk menunjuk sesuatu yang ada dalam jangkauan penuturnya atau dekat dalam jarak atau waktu, misalnya “this book (buku ini),” “this Friday,” atau yang sama-sama diketahui atau dipahami oleh penutur dan pendengarnya sebagai tempat keberadaan penutur, misalnya “this city (kota ini).”

 

c.kata penunjuk “that (itu)” dipakai untuk menunjuk sesuatu yang ada di luar jangkauan penuturnya atau jauh dalam jarak atau waktu, misalnya “that room (ruangan itu),” “that Friday (Jumat itu).”

 

Selama kunjungan-kunjungan-Nya ke luar lingkungan istana, Ia menyaksikan hal yang disebut sebagai “Empat Penampakan”, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati, dan petapa suci9.

… He renounced His position,

wealth, promise of prestige and power, and a life filled with love

and hope in exchange for the difficult search for Truth ….

.

 

… Ia menolak posisi, kekayaan, janji kemuliaan, kekuasaan, dan hidup yang penuh cinta dan kesenangan untuk pencarian kebenaran ….

… Iamenolak posisi, kekayaan dan harapan-Nya untuk mendapatkan gengsi serta kekuasaan10 dan hidup yang penuh cinta serta harapan11 dan menukarnya dengan12sulitnya pencarian13Kebenaran ….

For six long years, He laboured to find this Truth.

Sepanjangenam tahun, Ia berjuang untuk mencari Kebenaran.

Selama enam tahun yang berisiko besar14, Ia berjuang kerassekali15 untuk menemukan Kebenaran itu16.

 

14) Kata “long” memiliki banyak arti atau definisi.

Untuk konteks ini, arti yang tepat adalah “berisiko besar atau dengan risiko besar.” Lihat definisi ke-7 atau ke-12 kata “long” di Kamus Webster’s Encyclopedic Dictionary dan Oxford English Dictionary.

15) “labour” menunjukkan kegiatan atau kerja produktif yang berat, baik fisik, misalnya melelahkan yang ditandai oleh penuh keringat, kepanasan, kedinginan, kelaparan, atau kehausan, yang biasanya dialami oleh buruh kasar di pabrik, pelabuhan, pembangunan jalan dll, maupun mental, misalnya sulit, berisiko besar. Lihat definisi ke-6 kata labour di Kamus Webster’s Encyclopedic Dictionary, Oxford English Dictionary dll.

 

 

Jadi, kata kerja “labour” tidak cukup diterjemahkan menjadi “berjuang” saja.

 

‘Twas not through hatred of children sweet,

 

 

‘Twas not through hatred of His lovely wife,

Thriller of hearts – not that He loved them less,

 

But Buddhahood more, that He renounced them all.

 

 

 

Bukanlah karena kebencian akan manisnya anak-anak;

 

Bukanlah karena kebencian akan isteri-Nya yang jelita;

Bukanlah karena Ia kurang mencintai mereka;

Namun karena sifat Kebuddhaan,

Ia tinggalkan mereka semua.

 

Catatan 17): Terjemahan ini membuang banyak kata yang tertera di asli Inggerisnya sehingga menyimpang dari maksud penulis aslinya.

‘Tidak karena kebencian terhadap anak-anak yang manis,

 

‘Tidak karena kebencian terhadap isteri-Nya yang jelita,

Yang merupakan para penggetar hati – juga tidak karena ia kurang mencintai mereka,

 

Melainkan lebih karena ke-Buddha-an-lah Ia meninggalkan mereka semua.

 

Catatan 17):

Terjemahan oleh Tjan jauh lebih lengkap dan jelas, sesuai dengan maksud penulis asli puisi di atas.

Light of the World

 

‘Understood are the things to be understood,

 

Cultivated are the things to be cultivated,

 

 

Eradicated are the things to be eradicated,

 

Therefore, Brahmin, I am the Buddha.”

               (Sutta Nipata)

 

Cahaya Dunia

 

Pemahaman adalah hal yang untuk dipahami18,

 

Latihan adalah hal yang untuk dilatih19;

 

 

Yang dikikis adalah hal yang untuk dikikis20,

Karena itu Brahmin, Saya adalah Buddha.

                                                            (Sutta Nipata).

 

Catatan: Penerjemah ini tidak punya pengetahuan tata bahasa Inggeris yang cukup untuk menerjemahkan puisi di atas.

 

Cahaya Dunia

 

Telah dipahami hal-hal yang harus dipahami18,

 

Telah ditumbuh-kembangkan hal-hal yang harus ditumbuh-kembangkan19,

 

Telah dikikis hal-hal yang harus dikikis20,

Karena itu, Brahmana, Aku adalah Buddha.’

                      (Sutta Nipata)

                                              

Catatan 18, 19, 20:

Penerjemah yang profesional dan bertanggung jawab wajib menguasai penuh tata Bahasa Inggeris dan arti kata Inggeris pada tingkat sangat lanjut (very advanced). Tidak boleh menerjemahkan buku yang penting dan disebarluaskan sambal belajar. Perlu editor yang mumpuni dan ahlinya dalam dua bidang ini: Bahasa Inggeris tingkat sangat lanjut dan juga konteks naskah aslinya.

 

 

Semoga bermanfaat.