BELAJAR PENERJEMAHAN 8: KOREKSI & PENJELASAN BUKU ABHIDHAMMA

Oleh Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah1978 Resmi & Bersumpah

                                                              

FOREWORD

KATA PENDAHULUAN

KATA PENDAHULUAN

The prophecy that an able person would soon appear to contribute to the world of knowledge in the field of Buddhist

Psycho-ethical-philosophy, which we commonly appreciate as Buddha Abhidhamma, has now come true.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The prophecy was made by my revered old teacher, Bhaddanta Narada Mahathera (Aggamahapandita) who was well-known as he original Patthana Master. He made the prophecy in 1952 while I was studying Yamaka and Patthana Treatises under his guidance. He assigned me and my colleague translator, Professor T.N., to translate his writings on Abhidhamma. The task was never fully accomplished as I was occupied with teaching at the Pali and Abhidhamma Department of the University of Yangon and later transferred to the International Institute of Advanced Buddhistic Studies at Kaba-Aye as Head of Research Department.

 Thereupon my disappointed old teacher, Bhaddanta Narada Mahathera, with full expectation, prophesied that pretty soon an able scholar will emerge to accomplish the noble task of presenting Abhidhamma in English to the world. So now appears a novel and authentic treatise entitled The Essence of BUDDHA ABHIDHAMMA-- by Dr. M..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dr. M. is a man of science for he was trained in the University of Illinois, U.S.A for his master degree and doctorate degree in chemistry and then he served his country for several years as Professor of Chemistry. He is also a man of arts as he has written several illustrative books on education as well as on Buddhism and his books are widely read by the public. So his approach to Abhidhamma is very scientific as well as artistic.

 Dr. M. has been conducting long courses as well as short intensive courses on Abhidhamma in many towns throughout Myamnar. His Abhidhamma-classes draw the attention of large crowds as his unique ability to compare8 Abhidhamma with science as well as with western philosophy makes the subject very interesting and stimulating9.

 

He emphasized the fact that the teachings  of Lord Buddha in Abhidhamma are very scientific and that Abhidhamma goes much deeper than natural sciences10 encompassing a much wider11 field.

 

As I was trained at the Harvard Divinity School and Harvard Graduate School of Arts and Sciences three decades ago, and has engaged myself as a research scholar in the field of historical, philosophical and religious sciences for many years, I heartily agree with Dr. M. in regarding Abhidhamma13 as the Ultimate Science—the science of the Ultimate Truths.

 

Culture, Philosophy, History and many other common mundane subjects14 can be studied thoroughly through the media of natural and human sciences15. But the divine elements in religious studies16 can be probed and realized only by means of Divine Sciences17. However, the ultimate supramundane things which are beyond divinity18 can be realized only through the Ultimate Science19. So Abhidhamma or Ultimate Science surpasses all other historical, philosophical and religious sciences20.

 

 

 

Terjemahan oleh orang lain:

Sebuah ramalan mengatakan bahwa seseorang yang piawai akan segera hadir untuk berkontribusi bagi dunia ilmu pengetahuan didalam ranah Buddhist, Psycho-ethical-philosophy, yang mana secara umum kita mengenalnya sebagai Buddha Abhidhamma, sekarang telah menjadi kenyataan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Ramalan yang dinyatakan oleh guru senior saya yang terhormat, Bhaddanta Nārada Mahāthera (Aggamahāpandita) seseorang yang sangat dikenal sebagai  Master Patthana yang sejati.  Ia membuat ramalan pada tahun 1952 ketika saya masih belajar  risalah Yamaka dan Patthana dibawah bimbingan beliau. Beliau menugaskan saya dan teman sejawat saya, sesama penterjemah, Prof. T.N., untuk menterjemahkan tulisannya dibidang Abhidhamma. Tugas tersebut tidak pernah terselesaikan dengan sempurna oleh karena saya ditugaskan mengajar di  departemen bahasa Pali dan Abhidhamma  University of Yangon dan kemudian dipindahkan ke International Institute of Advanced Buddhistic Studies  di Kaba-Aye sebagai kepala  departemen research.

 

 

 Oleh karena guru senior ku yang kecewa, Bhaddanta Narada Mahathera, dengan penuh pengharapan, meramalkan bahwa  seorang putra yang baik akan datang untuk menunaikan tugas mulia ini untuk mempersembahkan Abhidhamma dalam bahasa Inggris ke dunia ini. Jadi, kini terbit  tulisan dan risalah asli yang berjudul ‘”The Essence of Buddha Abhidhamma – by Dr M.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Dr. M. adalah seorang ilmuan yang dididik di Universitas Illinois,  U.S.A., untuk mengambil gelar master dan doktor dalam bidang kimia dan kemudian  mengabdi untuk negaranya selama beberapa tahun sebagai professor dibidang ilmu kimia. Beliau juga adalah seorang seniman yang telah menulis beberapa buah buku ilustratif tentang pendidikan dan agama Buddha, yang juga banyak dibaca oleh kalangan luas. Jadi, pendekatannya dibidang Abhidhamma sangatlah saintifik dan juga artistic.

 

Dr. M. telah mengadakan kursus panjang maupun kursus intensif yang singkat tentang Abhidhamma di banyak kota di seluruh Myanmar. Kursus Abhidhamma beliau mendapat perhatian yang besar dari banyak kalangan karena kemampuan unik beliau dalam menyandingkan8 Abhidhamma dengan ilmu pengetahuan serta filosofi Barat sehingga membuat subjek tersebut sangat menarik dan menggoda rasa ingin tahu9.

 

 

 

 Beliau menekankan pada fakta bahwa Ajaran dari Sang Buddha didalam Abhidhamma sangatlah saintifik dan Abhidhamma itu jauh lebih mendalam dari ilmu pengetahuan10 dan menjangkau sampai berbagai bidang secara luas11.

 

 

 Sebagaimana saya dididik di Harvard Divinity School dan Harvard Graduate School of Arts and Sciences tiga dekade yang lalu, dan telah melibatkan diri saya menjadi seorang peneliti12 dibidang sejarah, filsafat dan pengetahuan keagamaan selama beberapa tahun, Saya secara tulus setuju dengan Dr. M. bahwa  Abhidhamma adalah merupakan13 pengetahuan yang tertinggi – pengetahuan tentang kebenaran yang paling hakiki.

 

 

 Kebudayaan, ilmu filsafat, sejarah dan banyak subjek14 umum yang bersifat duniawi dapat dipelajari secara menyeluruh melalui media umum dan ilmu pengetahuan duniawi15.  Tetapi elemen yang tertinggi dalam bidang pelajaran keagamaan16 hanya dapat ditelusuri dan direalisasi melalui pengetahuan tertinggi17. Akan tetapi hal-hal adiduniawi tertinggi yang melampaui tingkat kesurgawian18 hanya dapat direalisasi melalui pengetahuan tertinggi19. Jadi Abhidhamma atau Ultimate science melampaui semua ajaran historical, filsafat dan pengetahuan keagamaan lainnya20.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terjemahan oleh Tjan Sie Tek:

Ramalan1 bahwa seseorang yang piawai akan segera hadir untuk memperluas2 dunia pengetahuan dalam ranah filsafat psiko-etika Buddhis, yang secara umum kita pahami sebagai Ajaran Khusus Sang Buddha (Abhidhamma Sang Buddha)3, sekarang telah menjadi kenyataan.

 Catatan: 1.a. Asli bahasa Inggeris kalimat ini mulai dengan kata sandang “the” yang menunjukkan bahwa “prophecy” (ramalan) sudah dibicarakan atau disebutkan sebelumnya, yaitu sebelum buku ini ditulis; 1.b. Kata sandang “sebuah”, “suatu” dan kata-kata sandang lain yang searti menunjukkan sesuatu yang belum dibicarakan atau disebutkan sebelumnya. Padanan kata-kata sandang tersebut dalam Bahasa Inggeris adalah “a” atau “an.”;

 2. Kata kerja Inggeris “contribute” yang diikuti “to” berarti “memperluas,” memperbanyak,” “menambah” atau kata kerja lain yang searti; dan

3.a. Dalam konteks ini, kata majemuk Inggeris “Buddha Abhidhamma” berarti “ Ajaran Khusus Sang Buddha” atau “Abhidhamma Sang Buddha;” 3.b.  Ungkapan “Buddha Abhidhamma” tidak mengikuti aturan tata Bahasa Inggeris tentang kasus kepemilikan untuk orang ketiga tunggal “Buddha”, yaitu “Buddha’s,” sehingga seharusnya menjadi “Buddha’s  Abhidhamma.” Namun, tata bahasa Inggeris mengijinkan penulis buku, novel, penyair, penyusun puisi dan lagu serta sejenisnya menyimpang dari aturan tata bahasa yang umum dan ijin ini kelihatan dimanfaatkan dengan baik oleh penulis buku ini, Dr. M.; 3.c. Dalam bahasa Pali, sebaiknya ditulis sebagai “Buddhāna Abhidhammam.”

 Ramalan itu dibuat oleh guru senior saya yang mulia,  Bhaddanta Nārada Mahāthera (Aggamahāpandita) yang terkenal sebagai  Ahli4 Patthana yang sejati.  Beliau membuat ramalan itu pada 1952 ketika saya sedang mempelajari5  Risalah-Risalah Yamaka dan Patthana di bawah bimbingan beliau. Beliau menugaskan saya dan sejawat saya yang penerjemah, Prof. T.N., untuk menerjemahkan tulisan-tulisan beliau tentang Abhidhamma. Tugas itu tidak pernah diselesaikan dengan sepenuhnya karena saya sibuk mengajar di  Bagian Bahasa Pali dan Abhidhamma  Universitas Yangon dan kemudian dipindahkan ke Lembaga Internasional Pengkajian Buddhisme Lanjut  di Kaba-Aye sebagai kepala  Bagian Penelitian.

 

Catatan: 4. Jika diikuti oleh kata lain yang menunjukkan suatu bidang atau ilmu, kata benda Inggeris“master” berarti “ahli;” 5. Kata kerja “mempelajari” adalah padanan kata kerja Inggeris “study” yang berarti “mempertimbangkan dengan rinci atau menguraikan secara mendalam untuk menemukan ciri-ciri atau makna inti,” bukan sekedar “belajar.”

 

 Setelah itu6, guru senior saya  yang kecewa tersebut, Bhaddanta Narada Mahathera, dengan pengharapan penuh, meramalkan bahwa  dengan segera sekali ilmuwan7 yang cakap  akan muncul untuk menunaikan tugas mulia mempersembahkan Abhidhamma dalam bahasa Inggris ke dunia. Karena itu, kini terbit  risalah baru dan asli yang berjudul “Intisari Abhidhamma Buddha oleh  Dr. M.

 

Catatan: 6. Kata Inggeris  “thereupon” sama dengan “thereafter;” 7.a. Kata Inggeris “scholar” berarti “sarjana” atau “ilmuwan.” Mengingat kata “sarjana” sekarang berarti seseorang yang bergelar strata satu (S1), padahal dalam bahasa Inggeris, kata “scholar” berarti seseorang yang terpelajar dalam humaniora atau yang karena belajar lama telah menguasai sebuah bidang ilmu pengetahuan atau lebih, kata “ilmuwan” adalah padanan yang tepat untuk “scholar;” 7.b. Dalam konteks ini, akhiran “-wan” berarti “orang yang memiliki banyak,” misalnya “hartawan,” “ilmuwan,” “dermawan.” sehingga berbeda dari dari akhiran “-an” yang umumnya berarti “ yang di_“, misalnya “buatan,” “tulisan.”

 

Dr. M. adalah ilmuwan karena beliau berkuliah di Universitas Illinois,  AS, untuk mendapatkan gelar S2 (magister) dan S3 (doktor) dalam  ilmu kimia dan kemudian beliau  mengabdi untuk negara beliau selama beberapa tahun sebagai profesor  ilmu kimia. Beliau juga adalah seniman karena  beliau telah menulis beberapa buah buku bergambar tentang pendidikan dan agama Buddha. Buku-buku beliau banyak dibaca oleh masyarakat. Karena itu, pendekatan beliau  terhadap Abhidhamma sangat ilmiah dan berseni.

 

 

 

 

Dr. M. telah mengadakan kursus-kursus yang panjang maupun yang singkat dan padat tentang Abhidhamma di banyak kota di seluruh Myanmar. Kelas-kelas Abhidhamma beliau mendapat perhatian banyak orang karena kemampuan unik beliau dalam membandingkan8 Abhidhamma dengan ilmu pengetahuan serta filosofi Barat sehingga membuat mata pelajaran tersebut sangat menarik dan menimbulkan semangat9.

 

 

 

 

 

 

Beliau menekankan fakta bahwa Ajaran Sang Buddha dalam Abhidhamma sangat ilmiah dan bahwa Abhidhamma menembus jauh lebih dalam daripada ilmu pengetahuan alam10 sehingga mencakup bidang yang jauh lebih luas11.

 

 

 

 Sebagaimana saya berkuliah di Fakultas Teologi Harvard dan Fakultas Pascasarjana Seni dan Ilmu Pengetahuan Harvard tiga dekade yang lalu dan telah melibatkan diri saya sebagai ilmuwan peneliti12 dalam ilmu sejarah, filsafat dan keagamaan selama beberapa tahun, saya secara tulus setuju dengan Dr. M. dalam memandang13  Abhidhamma sebagai Ilmu Pengetahuan yang Tertinggi – yaitu ilmu pengetahuan tentang Kebenaran-Kebenaran yang Tertinggi.

 

 

 

Kebudayaan, filsafat, sejarah dan banyak soal14 duniawi yang umum dapat dipelajari secara mendalam melalui perantaraan ilmu-ilmu alam dan kemanusiaan15. Namun, hal-hal surgawi dalam pengkajian keagamaan16 dapat diselidiki  dan dicapai hanya melalui Ilmu Pengetahuan Surgawi17. Namun, hal-hal di atas duniawi dan tertinggi yang di luar teologi18 dapat dicapai hanya melalui llmu Pengetahuan yang Tertinggi tersebut19. Jadi,  Abhidhamma atau Ilmu Pengetahuan yang Tertinggi melampaui semua ilmu sejarah, filsafat dan keagamaan lainnya20.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Semoga Bermanfaat