Faktor-Faktor Depresiasi Rupiah & Turunnya IHSG dan

Solusinya

oleh Tjan Sie Tek, M.Sc., Penasihat Investasi dan Analis Pasar Modal

1     Oktober 2015

A.    Ekonomi Makro:

1.    AS: Berakhirnya Program Quantative Easing (QE) I, II & III: yaitu program pembelian aset-aset keuangan seperti surat utang pemerintah AS (Treasury note), surat-surat utang swasta, misalnya obligasi bank, sekuritas beragun surat gadai property (MBS), oleh bank sentral AS (the Fed) untuk memasok USD ke pasar.

 

(i) QE I:Sebelum resesi tahun 2008 di AS, the Fed memegang antara USD 700 miliar dan 800 miliar Treasury note di neracanya. Pada November 2008 the Fed mulai membeli USD 600 miliar dalam bentuk MBS untuk membantu perbankan dan lembaga keuangan lain mendapatkan uang tunai. Per Maret 2009 the Fed memegang USD 1,75 triliun surat utang bank, MBS dan Treasury note, dan jumlah ini mencapai puncaknya, USD 2,1 triliun, pada Juni 2010. Program pembelian ini dihentikan ketika ekonomi mulai membaik tetapi dilanjutkan kembali pada Agustus 2010 ketika the fed memutuskan ekonomi tidak tumbuh kuat. Setelah dihentikan pada Juni tahun 2011, nilai tersebut mulai berkurang secara alami karena ada yang jatuh tempo dan diperkirakan turun menjadi USD 1,7 triliun per 2012. The Fed mengubah tujuannya sehingga menjaga kepemilikan surat-surat itu pada tingkat USD 2,054 triliun. Untuk memelihara tingkat itu, the Fed membeli Treasury note berjangka 2-10 tahun senilai USD 30 miliar setiap bulan. Pasokan USD ke dunia bertambah dan kurs USD otomatis melemah terhadap mata-mata uang kuat lainnya.

(ii) QE II: mulai November 2010 the Fed meluncurkan QE II dengan membeli Treasury note sampai senilai USD 600 miliar per akhir kuartal kedua 2011. Pasokan USD ke pasar bertambah lagi dan kurs USD melemah juga.

(iii) QE III& suku bunga dana the Fed mendekati nol persen:  pada 13 September 2012, the Fed memutuskan meluncurkan QE III, sebuah program baru yang bersifat “open-ended” (bisa diperjual-belikan lagi) untuk memasok USD 40 miliar/bulan ke pasar dengan membeli MBS yang dipegang oleh badan-badan keuangan pemerintah AS.  Selain itu, Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee ; FOMC) mengumumkan bahwa mereka akan mungkin mempertahankan suku bunga dana the Fed hampir nol persen “paling tidak sampai tahun 2015.” Menurut NASDAQ.com, itu sebenarnya merupakan program stimulus yang memungkinkan the Fed membebaskan USD 40 miliar per bulan dari risiko utang industry perumahan.  Karena sifat open-ended-nya, QE III diberi nama alias QE Infinity (QE Tanpa Batas). Pada per 12 Desember 2012 the Fed menaikkan jumlah pembeliannya menjadi USD 85 miliar/bulan; tetapi, sejak 19 Juni 2013 diturunkan sedikit-sedikit dan berakhir pada 29 Oktober 2014 setelah mengumpulkan asset senilai USD 4.5 triliun (en.wikipedia). Sebagian asset itu mulai jatuh tempo secara alami, dicairkan dan hasilnya disimpan. Akibatnya, pasokan USD ke pasar mulai berkurang dan USD mulai menguat; inilah yang turut melemahkan kurs rupiah dan IHSG;

(iv)         Rencana the Fed untuk menaikkan suku bunganya sehingga akan menaikkan kurs USD terhadap mata uang lain, terutama yang lemah, dan membuat banyak dana investasi lari dari banyak negeri lain, termasuk Indonesia,  ke AS; inilah yang sangat berpengaruh di seluruh dunia selain Yuan China;

(v)          GDP AS sekitar USD 17,9 triliun per akhir kuartal 2 tahun 2015 dan terbesar di dunia (22% dari total nominal GDP sedunia).

(vi)         Nilai kapitalisasi perusahaan-perusahaan di bursa saham New York (NYSE) sekitar USD 17 triliun, terbesar di dunia (BEI sekitar 275 miliar, atau 1/62-nya saja), dan NASDAQ sekitar USD 5 triliun.

(vii)        Dari total utang pemerintah AS senilai USD 17,8 triliun per September 2014 dalam bentuk Treasury securities, USD 12,8 triliun dipegang oleh masyarakat AS dan asing, termasuk pemerintah China, Jepang dll (en.wikipedia). Sekuritas ini mampu menyedot dana-dana investasi dari negeri-negeri lain yang dianggap kurang aman atau kurang menguntungkan daripada AS. Karena itu, kenaikan suku bunga dana the Fed biasanya menyedot USD ke AS. Rupiah dan IHSG pun guncang.

(viii)       Gabungan nilai kapitalisasi di bursa saham dan Treasury securities mampu mengguncangkan bursa saham di seluruh dunia ketika the Fed menaikkan suku bunga dananya dan/atau indeks NYSE (yang utama DJIA) naik. Rupiah dan IHSG pun semakin guncang.    

 

(2)  Uni Eropa: Rendahnya pertumbuhan GDP negeri-negeri anggota Uni Eropa selama bertahun-tahun sehingga mengurangi permintaan mereka terhadap produk-produk ekspor Indonesia; pasokan valas berkurang dan turut melemahkan rupiah maupun IHSG; untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, sejak 2009 sd sekarang Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England menurunkan suku bunga sedemikian rupa bahkan pernah mencapai minus di Inggeris; akibatnya, pasokan uang bertambah dan sebagian dibawa ke negeri-negeri sedang berkembang, antara lain Indonesia, untuk mencari imbal hasil yang jauh lebih tinggi walaupun berisiko; ini uang panas (hot money). Contoh: Bloomberg (30/9/2015) melaporkan bahwa para investor internasional menarik keluar sekitar USD 40 miliar dari pasar-pasar modal negeri sedang yang berkembang selama kuartal ketiga tahun ini saja;

(3)  Komoditi: Turunnya harga batubara (dari >USD 100/ton menjadi di <USD 60/ton)  dan minyak bumi (dari >USD 100/barel menjadi <USD 50/barel), gas, karet dan CPO (dari sekitar USD 800/ton menjadi USD 500-an/ton), selama lebih dari setahun belakangan ini sehingga mengurangi nilai ekspor Indonesia secara besar dan menimbulkan deficit di neraca dagang dll (kecuali tiga bulan belakangan ini); harga saham perusahaan-perusahaan penghasil CPO pun anjlok, misalnya AALI;

(4)  Persaingan di antara bahan energi: Untuk produksi energi, terutama listrik,  batubara dan minyak bumi semakin disaingi oleh bahan-bahan bakar yang lebih ramah lingkungan misalnya gas bumi yang harganya sedang turun dan yang dapat diperbarui (renewable) seperti tenaga angin, surya, air dll. Contoh: di AS, minyak bumi hanya dipakai untuk menghasilkan sekitar 1 persen dari tenaga listrik; mulai tahun ini gas adalah penghasil listrik utama (hampir 30%) (Bloomberg.com);

(5)  Harga minyak bumi turun tajam: Sejak 2006 AS menghasilkan banyak minyak bumi yang susah didapat (tight oil) misalnya dari formasi shale, batu pasir; per 2015, AS menghasilkan 4,2 juta barel tight oil per hari, atau  sekitar 49% dari produksi total minyak mentah AS/hari (Annual Energy Outlook 2015); lebih dari sejuta barel shale oil/hari diproduksi; hal ini membuat AS semakin mengurangi impor minyak mentah dari luar negeri; AS bahkan mulai mengekspor shale oil dan gas bumi ke Korea Selatan, Taiwan dll; mulailah OPEC dan negeri-negeri penghasil minyak lainnya bersaing dengan AS; OPEC belum menurunkan produksinya karena khawatir kehilangan pangsa pasar dan bahkan ingin menekan produsen tight oil AS agar tutup dengn cara menurunkan harga jual minyak anggota OPEC;

(6)  China: karena krisis di Uni Eropa dan rapuhnya pemulihan ekonomi AS, sejak 2012 pertumbuhan ekonomi China mulai turun menjadi sekitar 7,5% dari 9,2% pada 2011 dan 10,3% pada 2010 (The Guardian) dan tahun ini diperkirakan akan di bawah 7%; akibatnya, impor bahan baku dan bahan bakarnya berkurang; mulailah penurunan harga minyak bumi, gas, nikel, batubara, karet, CPO dll. GDP China (nominal sekitar USD 10 triliun) adalah yang terbesar kedua di dunia setelah GDP AS. Turun-naiknya pertumbuhan ekonomi China mempengaruhi pertumbuhan ekonomi banyak sekali negeri di dunia, antara lain Indonesia, yang memasok bahan-bahan mentah dan komoditi lain ke China. Ketika Bank Sentral China (PBOC) mendevaluasi Yuan pada awal Agustus 2015, pasar modal di seluruh dunia terguncang berat dan harga-harga saham rontok sampai sekitar USD 11 triliun (sekitar USD 5 triliun di China, USD 2 triliun di AS, USD 1,7 triliun di Eropa, dll) (Bloomberg.com). IHSG ikut rontok.

(7)  Irak: semakin meningkatkan produksi minyak mereka dan mengekspornya sehingga oversupply semakin naik dan harganya pun semakin turun;

(8)  Iran: setelah embargo terhadapnya dicabut oleh AS dan para sekutunya, mulai menyiapkan kenaikan produksi minyak mereka untuk diekspor. Ini semakin menekan harga minyak bumi.

(9)  Nasional:

(i)            turunnya harga komoditi ekspor seperti batubara, karet, CPO dll

menjadikan neraca berjalan mengalami deficit; deficit ini kadang-kadang ditutup oleh investasi portofolio asing yang masuk ke BEI; jadi, ketika portofolio itu “cabut,” cadangan valas di BI berkurang dan IHSG turun.

(ii)           Naiknya harga bensin dan solar sejak November 2010 sehingga menurunkan daya beli masyarakat, terutama yang kelas bawah; puluhan triliun rupiah milik masyarakat tersedot untuk membelinya sehingga mengurangi kemampuan belanja mereka untuk barang-barang lain; angka pertumbuhan ekonomi semakin turun;

(iii)          Turunnya cadangan valas di BI dari di atas USD 110 miliar menjadi hampir USD 100 miliar; inilah yang sangat diperhatikan oleh banyak orang karena menyangkut nasib ekonomi dan bahkan social, politik bangsa kita;

(iv)         Depresiasi rupiah terhadap dollar AS yang sulit diperkirakan kapan akan berhenti atau  bahkan kembali menguat (dari Rp 12.000/USD menjadi Rp 14.600/USD saat ini saja); banyak investor menjual saham dan IHSG pun turun.

v)            Pertumbuhan GDP Indonesia cenderung turun terus dan tahun ini diperkirakan akan di bawah 5% per tahun; akibatnya beberapa perusahaan mulai PHK karyawan karena bisnis lesu dan stok produk menumpuk; IHSG pun tertekan

(v)          Pemerintah, baik secara langsung maupun lewat sejumlah BUMN, terutama yang tercatat di BEI, terus-menerus menambah utang luar negerinya secara besar-besaran dalam bentuk valas dan dalam negerinya dalam bentuk rupiah untuk membiayai pembangunan infrastruktur maupun menutupi deficit APBN. Contoh: Garuda Indonesia meneken pinjaman USD 3,5 miliar dengan China Aviation di Paris Air Show; Mandiri, BNI dan BRI baru-baru ini meneken utang masing-masing sejumlah USD 1 miliar dengan CDB di Beijing, China; hal ini mengakibatkan para pengusaha, terutama manajer investasi, semakin mencemaskan  pertambahan utang LN Indonesia [sekarang total sekitar USD 300 miliar (SULNI Juli 2015)]; akibatnya, sejumlah perusahaan investasi (misalnya Amundi Asset Management, Morgan Stanley) berpendapat rupiah overvalued; IHSG pun tertekan.

vi)           Karena semakin banyaknya kelas menengah akibat kenaikan GDP kita, jumlah orang Indonesia yang ke LN untuk berbagai keperluan: bisnis, pendidikan, social dll, bertambah dan semakin menurunkan cadangan valas nasional.

(10)        Timur Tengah: Otoritas Moneter Arab Saudi (SAMA) dilaporkan menjual kepemilikan portotofolio mereka di LN sejumlah USD 70 miliar untuk dibawa pulang guna menutupi deficit APBN mereka (Bloomberg, 28 September 2015); ini jelas mengurangi dana investasi yang beredar di pasar modal internasional;

(11)        Depresiasi mata uang sejumlah negeri di Asia: Yen, ringgit, dollar Singapura dll; dollar Australia pun ikut; ini seperti perang kurs mata uang. Jika rupiah coba diperkuat, ekspor kita bisa tambah berkurang dan deficit neraca berjalan pun akan meningkat.

B.    Ekonomi mikro:

1.    Sebagian besar perusahaan penambang dan penghasil sumber daya alam, termasuk perkebunan dan pertanian, telah melaporkan turunnya penjualan dan laba mereka; bahkan beberapa di antaranya melaporkan kerugian; harga saham mereka pun anjlok;

2.    Banyak sekali perusahaan lain melaporkan hal yang sama; Contoh: sebagian ebsar perusahaan property;

3.    Banyak perusahaan mempunyai utang valas yang besarannya sampai dengan 100% dari utang berbunga mereka. Contoh: Lippo Cikarang Tbk, MNC Sky Vision, Global Mediacom, XL Axiata, dll sehingga mengurangi laba mereka bahkan menimbulkan kerugian.

C. Yang khusus terkait dengan investasi di BEI:

1. Reksa dana (kecuali RDPT) wajib melaporkan nilai bersih asset (NAB) mereka setiap hari (melalui cara mark to market) sehingga banyak yang terpaksa menjual atau menukar saham-saham portofolio mereka dan/atau membeli obligasi atau surat utang, misalnya SUN.

2. Sebagian besar manajer investasi asing yang memiliki portofolio saham di BEI juga terpaksa menjual saham-saham yang nilainya sudah turun melewati batas ambang masing-masing padahal saham-saham tersebut belum tentu turun terus atau bahkan akan rebound.

D.   Turunnya kurs IDR:USD menurut Purchasing Power Parity (PPP)

Sejak tahun 2005, yaitu di mana kurs IDR:USD umunya stabil, perbedaan kurs IDR:USD menurut PPP dan nilai sesungguhnya di pasar semakin melebar karena nilai kurs IDR:USD di pasar selalu lebih tinggi daripada nilainya menurut PPP padahal lajut inflasi harga barang konsumsi di Indonesia selalu di atas laju inflasi harga barang konsumsi di AS. Celah itu selama ini ditutupi oleh masuknya modal portofolio asing yang bersifat panas. Begitu modal tersebut “cabut,” kurs IDR:USD pun anjlok.

Laju inflasi (%) di Indonesia dan AS (sumber: US Inflation Calculator & BPS):

Negeri

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015* perkiraan

Indonesia (BPS)

17,11

6,6

6,59

11,06

2,78

6,96

3,79

4,3

8,38

8,36

5-6%

AS (US Inflation Calculator)

3,4

2,5

4,1

0,1

2,7

1,5

3

1,7

1,5

0,8

0,2

Selisih

13,71

4,1

2,49

10,96

0,08

5,46

0,79

2,6

6,88

7,5

4,8-5,8

 

E.    Faktor-faktor non-teknis

1.    Persepsi investor tentang prospek pertumbuhan GDP, cadangan valas di BI, rupiah, IHSG, situasi social, politik dll, turut mempengaruhi kurs rupiah dan IHSG.

Semua hal di atas mengakibatkan IHSG tertekan sementara berita positif untuk menahannya atau bahkan menaikkannya kurang tersedia. Pemerintah sudah dan terlihat masih akan melakukan berbagai macam tindakan untuk mengatasinya.

F.    SOLUSI

  1. Perbesar selisih antara harga jual dan harga beli USD di semua money changer dan bank di dalam negeri sehingga spekulasi akan agak tertahan.
  2. Ciptakan pasar jual beli USD di antara eksportir, importer, investor dalam dan LN (FDI dan portofolio), dan bank. Mulai dengan 500 eksportir dan importir terbesar. Ini akan mengurangi kebutuhan USD oleh importir untuk menukar IDR dengan USD melalui pasar yang biasa.
  3. Kejar calon-calon investor asing maupun dalam negeri yang akan memproduksi barang di dalam negeri dan mengekspor sd 100% hasilnya. Beri mereka insentif perpajakan, percepatan perijinan dll., kurs tukar yang menarik dll.
  4. Kurangi PPN untuk semua barang dan jasa sd 5% secara universal sehingga mendorong banyak sekali transaksi. Cara ini akan langsung mendorong konsumsi dan investasi.

Semoga bermanfaat.