Columns by

      *Tjan Sie Tek

     *Bayu  *Rahmat

     *Safriyansah *Yanto Koh

 

 
 
   
           

 

education

 

careers 

 

economy

 

health

 

finance

 

interviews

 

news

 

science-

tech

 

bimbingan

usaha

 

sworn

translators

 
   

Finance

Rupiah dan Obligasi RI semakin kuat

(dari kompasiana.com/tjansietek, 3 Maret 2019)

1. Indonesia yang sedang beruntung

1.1 Lembaga-lembaga negara bekerja sama dengan harmonis

Indonesia adalah salah satu negeri yang paling beruntung, terutama selama 5 tahun terakhir ini. Keberuntungan itu terlihat dari kerja sama yang baik di antara lembaga-lembaga negara. Dalam bidang ekonomi, Pemerintah dan Bank Indonesia (BI), sebagai dua lembaga penentu utama nasib ekonomi dan nilai rupiah terlihat harmonis dan bekerja sama sangat erat. Misalnya, selama tahun 2018, ketika the Fed (bank sentral defakto AS) menaikkan suku bunga jangka pendek untuk dananya, BI secara proaktif menaikkan suku bunga pinjaman jangka pendeknya bahkan sebelum the Fed melakukan yang sama untuk menjaga kurs IDR/USD. Pemerintah mengimbanginya dengan melakukan berbagai macam upaya untuk juga menjaga kurs tersebut, antara lain, dengan mengurangi impor barang-barang konsumsi dll yang tidak terlalu penting.

Di negeri lain, misalnya, India, pemerintah dan bank sentralnya saling bertentangan. Misalnya, untuk mendorong ekonomi, pemerintah India minta bank sentral India (RBI) menahan atau bahkan menurunkan suku bunga acuannya, yang jika dilakukan akan menjadikan kurs rupee terhadap USD dll turun. Tetapi, RBI memilih langkah yang dipuji oleh banyak ekonom dan analis, yaitu  menaikkan repo rate-nya (suku bunga repo, yaitu suku bunga yang dikenakan oleh RBI kepada bank-bank yang meminjam uang darinya), yaitu dari 6% menjadi 6,25% pada Juni 2018, yang pertama selama 41/2 tahun terakhir sd bulan tersebut, untuk membantu menjaga atau bahkan menaikkan kurs rupee terhadap USD. Merasa tidak cukup, pada 27 Agustus 2018, RBI menaikkannya lagi sehingga menjadi 6,5%.

Selebihnya; https://www.kompasiana.com/tjansietek/5c7ba22fc112fe2141008115/rupiah-obligasi-ri-semakin-kuat

 

Risiko adalah salah satu peluang bisnis

Oleh Tjan Sie Tek, CEO Center for New Indonesia & Business Mentor, 17 Februari 2019

A.      A. Asuransi untuk risiko serangan dan peretasan di dunia maya

Salah satu contohnya adalah risiko dari dan di dunia maya (cyber risk). Peretasan dan serangan di dunia maya semakin lama semakin berat dan sering.  Contoh: Tahun lalu, SingHealth, grup lembaga perawatan kesehatan yang terbesar di Singapura, mengalami pencurian data sekitar 1,5 juta orang data pasiennya, yang mencakup rincian obat-obat yang diberikan kepada sekitar 160.000 orang.  Tahun 2018, Chubb, sebuah perusahaan asuransi, meneliti 300 buah perusahaan UKM tahun lalu. Temuannya: tiga di antara lima UKM telah mengalami peretasan dan sehingga menimbulkan kekacauan (disrupsi) dan kebocoran data selama 12 bulan. Tetapi, mayoritas orang yang disurvei percaya bahwa perusahaan-perusahaan besar mengalami lebih banyak risiko serangan cyber daripada yang kecil.

Nah, kejadian-kejadian itu menunjukkan peluang usaha, salah satunya asuransi data perusahaan maupun pribadi. Di Singapura saja, asuransi terhadap kejahatan di dunia cyber masih pada tahap awal. Orang Indonesia yang terkenal kreatif pasti dapat memanfaatkannya!!!

B   B. CDS, Asuransi Risiko Investasi di pasar modal

Salah satu contohnya dikenal sebagai credit default swap (CDS), yaitu salah satu bentuk “asuransi” yang paling umum terhadap gagal bayar (default) atau peristiwa kredit lainnya sehubungan dengan obligasi pemerintah maupun swasta. CDS adalah satu derivatif (produk turunan) atau kontrak keuangan yang memungkinkan seorang investor yang memegang suatu obligasi untuk”menukar” risiko kreditnya dengan risiko kredit investor lain.

Misalnya, tariff CDS obligasi RI yang bertenor 5 tahun saat ini adalah 110,595 point (atau 1,10595%) per tahun. Sebagai perbandingan, CDS untuk obligasi pemerintah China adalah 51,875 point (0,52875%) per tahun dan Yunani 405,52 point (4,0552%) per tahun.  Jadi, pemegang (investor A) obligasi pemerintah RI yang khawatir pemerintah RI akan mengalami default bisa bisa mencari investor lain (Investor B) untuk menjamin bahwa Investor B akan mengganti uang Investor A sebesar nilai obligasi jika terjadi default tersebut, dengan syarat Investor A membayar “asuransi” sebesar 1,10595% per tahun. Nah, Investor B bertindak sebagai “perusahaan asuransi” itu. Kontrak CDS biasanya berlaku sampai tanggal jatuh tempo obligasi yang bersangkutan. Kontraknya biasa menyebutkan bahwa Investor B akan juga membayar bunga-bunga yang gagal bayar untuk obligasi tersebut selama masa antara tanggal kontrak CDS dan tanggal jatuh tempo obligasi.

Catatan: Risiko tetap ada yaitu default dan/atau pailitnya Investor B (sebagai penjual CDS, atau "perusahaan asuransi"). Misalnya, Lehman Brothers dan Bear Stearns di AS pada tahun 2008 sehingga menimbulkan krisis kredit dan juga Resesi Besar.

Sebagian besar penerbit obligasi yang dijamin dengan hipotek perumahan, biasanya disebut sebagai mortgage-backed securities (MBS; Sekuritas Beragunan Hipotek), juga pailit. Tetapi, mayoritas penerbit obligasi dan surat utang yang lain , misalnya RI, tetap ada. Jadi, CDS mengurangi risiko kredit, tidak menghilangkannya.

Kontrak CDS diperdagangkan secara bebas, alias over-the-counter, sehingga tidak terlacak oleh regulator.

Di AS, Dinas Pengendali Mata Uang (OCC) memberikan ijin, mengatur dan mengawasi semua bank nasional dan lembaga simpan-pinjam di AS, yang juga mencakup cabang-cabang dan perwakilan bank asing yang diberi ijin oleh pemerintah Federal AS. OCC adalah salah satu biro independen yang didirikan berdasarkan UU Mata Uang Nasional AS tahun 1863 dan berada di bawah Departemen Keuangan AS. OCC menerbitkan laporan kuartalan tentang kontrak-kontrak derivatif kredit. Pada Juni 2018, OCC memperkirakan bahwa pasar total untuk kontrak-kontrak itu bernilai USD 4,2 triliun (sekitar 4 x GDP Indonesia), dengan CDS  menguasai USD 3,68 triliun.

Jadi, jika anda punya dana yang besar, anda bisa menjadi Investor B.

Utang pemerintah AS lebih berisiko daripada yang China

16 Februari 2019

Utang pemerintah Federal AS semakin menggunung sehingga saat ini sudah mencapai USD 22 triliun (IDR 308.000 triliun), atau sekitar 107% GDP AS tahun 2018 (USD 20.66 triliun).

Ada sejumlah penyebabnya: Lebih besar pasak daripada tiang. Pemerintah Federal berutang semakin banyak, terutama sejak 2007-2008 dan sebagian besar untuk mengatasi kebangkrutan banyak sekali bank umum dan investasi AS, misalnya Lehman Brothers dan Bear Stern. Citibank pun dijadikan BUMN AS selama beberapa tahun. Anggaran militer AS adalah yang terbesar di dunia, yang sekitar USD 450-500 miliar per tahun sd tahun 2016 untuk menjadi “polisi dunia” sehingga memiliki lebih dari 700 pangkalan militer di seluruh dunia: Jepang, Korea Selatan, Eropa Barat, Afrika dll. Sejak 2017, pemerintahan Trump terus-menerus menaikkannya sehingga menjadi sekitar USD 770 miliar selama 2018 saja. Selain itu, pemerintahan Trump memotong pajak perusahaan AS dari 35% menjadi hanya 21% dan mengakibatkan deficit tambahan sekitar USD 1,5 triliun selama 10 tahun mendatang.

Selama tahun 2018 saja, deficitnya USD 1 triliun (IDR 14.000 triliun).

Pada 12 Desember 2018 Bloomberg melaporkan bahwa Donald Trump adalah presiden AS pertama yang harus menderita keadaan normal baru di mana China menjadi lebih layak dipercaya daripada AS, yaitu Amerika sekarang harus membayar lebih banyak untuk pinjam uang daripada China.

Sejak 2015, ketika the Fed mulai menaikkan suku bunga, beda antara surat-surat utang kedua negeri itu telah menyempit dan kemudian berbalik sehingga sekarang AS harus membayar yield (imbal-hasil) yang lebih tinggi daripada China ketika menjual surat utang yang berjangka satu tahun (T-bill). Itu terjadi untuk kali pertamanya pada November 2018 ketika beda (spread) antara obligasi 10 tahun China dan AS juga rontok sehingga menjadi hanya 45 basis point (0,45%), menurut data yang disusun oleh Bloomberg.

Tetapi, keunggulan historis itu, yang timbul berbarengan dengan penerapan aliansi multilateral yang telah membuat AS besar tetapi diremehkan oleh Trump, dapat hilang total ketika para investor kehilangan keyakinan dan kepercayaan penuh pada AS.

Ada empat bendera merah di dalam utang pemerintah AS: 1. Turunnya laju pertumbuhan ekonomi AS, 2. semakin menggunungnya utang pemerintah AS, 3. Semakin berkurangnya pendapatan Kementerian Keuangan AS yang disebabkan oleh pemotongan pajak, dan 4. Kebijakan the Fed yang menjaga suku bunga tetap jauh di atas rata-ratanya selama 10 tahun terakhir ini.  (IST)

Utang mahasiswa/-i AS semakin menggunung dan  tunggakannya mencapai USD 166 miliar

oleh Indra S.T. , 17 Februari 2019

Per akhir 2018, utang sekitar 44,2 juta orang mahasiswa/-i (student loans) di AS sudah mendekati USD 1,46 triliun (IDR 20.440 triliun), terbesar sepanjang sejarah AS dan kemungkinan harus dihapus-bukukan, dengan tingkat tunggakan  dan macet antara 7,5% dan 11%.

Untuk data per akhir 2017, lihat diagram perbandingan di bawah ini berdasarkan generasi:

Jadi, per akhir 2017, secara rata-rata, setiap mahasiswa/-i AS berutang sekitar USD 33.000 (IDR 462 juta). Karena itu, menurut penelusuran penulis, banyak sekali lulusan perguruan tinggi AS tidak mampu melunasi utang mereka walaupun mereka sudah lulus 5-10 tahun karena gaji mereka hanya naik 2-3% per tahun dan biaya hidup, cicilan mobil, kartu kredit, cicilan kredit rumah atau apartemen mereka semakin tinggi, apalagi selama 2 tahun terakhir ini the Fed (Bank Sentral defakto AS) terus-menerus menaikkan suku bunga dananya.

Pada 16 Februari 2019, Bloomberg melaporkan bahwa persentasenya tetap sekitar 11% sejak pertengahan 2012, tetapi jumlahnya mencapai USD 166 miliar, rekor tunggakan selama sejarah utang mereka. Sebagian besar kenaikan angka itu terjadi karena biaya kuliah semakin tinggi di AS.%

 Tidak memukul ekonomi AS sebesar utang hipotek  perumahan  2007-2008

 Sebagian besar utang di atas ditanggung oleh pemerintah Federal AS sehingga diperkirakan tidak merugikan ekonomi AS seperti krisi utang hipotek perumahan selama 2007-2008, yang menimbulkan Resesi Besar dan kebangkrutan banyak sekali bank umum dan bank investasi, misalnya Lehman Brothers dan Bear Stern. Tetapi, tunggakan dan kemacetan utang di atas akan menambah besar defisit pemerintah Federal AS jika utang itu tidak dibayar kembali oleh yang berutang.

Menurut catatan penulis, saat ini jumlah utang pemerintah Federal AS sudah mencapai USD 22 triliun, atau sekitar 106% dari GDP AS tahun 2018 sekitar USD 20,66 triliun. Defisit APBN AS  sekitar USD 1 triliun selama 2018. (IST)

 

Prospek Rupiah versus Baht dan Ringgit berdasar NIIP, Cadangan Devisa dan Utang LN

Ringkasan: karena NIIP Indonesia selalu negatif dan besar, Indonesia membayar yield (imbal hasil) SUN hampir 3 X yield SUN Thailand dan 2 x yield SUN Malaysia. IDR juga lemah terhadap THB (baht Thailand) dan MYR (ringgit Malaysia)...

Ringkasan: Selama puluhan tahun NIIP, nilai negatif NIIP Indonesia selalu di atas Thailand dan Malaysia; cadangan forex Indonesia di bawah mereka.  Utang LN selalu berjumlah di atas utang LN mereka. Hanya utang pemerintah Malaysia yang saat ini di atas utang pemerintah RI secara persentase GDP masing-masing.

 Selama puluhan tahun, kurs IDR merosot terhadap baht Thailand (THB) dan ringgit Malaysia (MYR).

 

    (Sumber: Bloomberg: Diagram Kurs Baht/IDR selama 5 tahun terakhir ini)

Prospek Dolar AS dan Rupiah versus Yuan (RMB):

Ringkasan: secara jangka menengah panjang, USD dan IDR cenderung melemah terhadap Yuan (RMB, atau CNY) karena kekuatan ekonomi, politik, teknologi, keuangan dan militer China semakin besar.

dari kompasiana.com/tjansietek:

https://www.kompasiana.com/tjansietek/5a768b2bf133446a472d9b22/prospek-dolar-as-rupiah-versus-yuan-rmb?page=all

Perang Besar Petroyuan lawan Petrodollar semakin sengit:

Ringkasan: secara jangka menengah panjang, USD dan IDR cenderung melemah terhadap Yuan (RMB, atau CNY) karena kekuatan ekonomi, politik, teknologi, keuangan dan militer China semakin besar. China sudah meluncurkan Petroyuan untuk menggeser Petrodollar sebagai alat bayar untuk minyak dan gas bumi.

dari kompasiana.com/tjansietek:

https://www.kompasiana.com/tjansietek/5a7fe5efcf01b45aa81a1583/petro-yuan-perang-besar-yuan-cny-v-usd-ipo-saudi-aramco?page=all

Terbesar di Dunia, USD 39,9 Triliun Aset perbankan China

 

Inspirasi Bisnis (1): Modal China, Teknologi AS & Jepang

Etc.

S

 

 

Comment on this article

 Back to top

 

Science

 

Techno

 

Travel

 

Society

 

About us

 

 
 

 

Copyright (c) @ 2019 www.lijusu.com All rights reserved.

Design by Company Webmaster