Hati-Hati dengan Tawaran Kredit/Pinjaman LN

Selama 5 tahun terakhir ini, saya mendengar banyak pengusaha Indoensia
ditawari kredit/pinjaman luar negeri melalui L/C dan/atau Bank Guarantee
(BG) tanpa perlu memberikan jaminan. Hati-hati dengan tawaran tersebut
dan silakan baca dua buah cerita di bawah ini tentang
pengusaha-pengusaha yang terpedaya oleh tawaran tersebut.

Contoh I: Perusahaan investasi “tutup buku” karena didirikan dengan
mengandalkan tawaran pinjaman luar negeri melalui broker yang salah.

Melalui seorang rekannya, Individu A (“A”) menerima tawaran kredit
investasi dalam bentuk bank garansi (BG) maupun L/C dari Individu B
(“B”) yang orang asing. B menawarkan kepada A bahwa ia sanggup
memberikan BG maupun L/C senilai USD 100 juta dengan syarat: Ia diberi
ongkos kerja di muka sebesar USD 10 ribu dan komisi 6% dari USD 100 juta
tersebut setelah terbitnya sekuritas yang bersangkutan. Bunga: 10% per
tahun.

B berkata sumber dananya adalah raja-raja minyak Timur Tengah, bank-bank
AS maupun Eropa yang ternama. Untuk meyakinkan A, B membawa brosur
sebuah bank dan kelompok usaha asing dan minta A membuka website mereka.
Bagi orang yang tidak paham ilmu keuangan perusahaan maupun kemampuan
menilai besaran suatu usaha, brosur maupun website tersebut benar-benar
mengesankan bahwa bank atau kelompok usaha itu besar dan bonafid. Kami
mengadakan riset kecil tentang bank dan kelompok usaha asing tersebut
sekaligus mewawancarai B tentang latar belakang hubungan antara mereka
dan B. Setelah itu, saya memberitahu A bahwa bank tersebut tidak mungkin
akan menerbitkan L/C ataupun BG dan kelompok usaha asing tersebut juga
tidak mungkin akan mendapatkannya untuk A karena tidak ada bank asing
sebonafid itu akan menerbitkan L/C maupun BG dengan syarat seperti itu.
Juga, kelompok asing yang bonafid tidak akan mau meminjamkan uang
sebanyak itu kepada A dengan syarat yang sama. A menertawai kami.
Akibatnya: A pailit dan digulung banyak utang karena BG maupun L/C tidak
pernah terbit. Kalaupun ada, hanya yang palsu.

Rekomendasi: Kalau mendapat tawaran seperti di atas, silakan
konsultasikan bank, perusahaan sekuritas, bank investasi yang bonafid,
penasihat investasi resmi dll tentang kelayakan tawaran tersebut juga
tentang beratnya syarat penerbitan L/C dan BG dengan nilai jutaan USD.

Contoh II: Tutupnya perusahaan impor yang baru didirikan oleh seorang
tokoh masyarakat yang tidak punya pengalaman dan tidak punya penasihat
keuangan yang tepat.

Bersama-sama dengan beberapa orang temannya, A mendirikan perusahaan
untuk mengimpor salah satu jenis sembako untuk dijual kepada koperasi
dan badan pemerintah. Dia berkenalan dengan seorang pensiunan (“B”) yang
saat ini berpraktik sebagai konsultan dengan gelar S2 bidang keuangan &
perbankan. Sayangnya, B hanya ahli teori dan tidak punya pengalaman
praktik sama sekali dalam penerbitan BG maupun L/C. Proposalnya: Karena
pernah bekerja di sebuah bank, B akan mencarikan dana luar negeri dalam
bentuk BG maupun L/C. A tinggal tanda tangan kontrak saja. Prosesnya
mudah: Tidak perlu memberikan company profile, laporan keuangan, jaminan
dll. Cukup sewa ruangan kantor yang kelihatan "wah."

Setelah kami wawancarai, B ternyata tidak mengerti beda antara BG dan
L/C dan segala persyaratan yang harus dipenuhi sebelum instrumen
tersebut diterbitkan. Kebetulan kami kenal B dan kami tahu ia 'masih
hijau di pasar modal." Kami memberitahu A bahwa BG maupun L/C tidak akan
terbit dengan cara yang tidak benar itu. A menolak nasihat kami dan
bahkan mengangkat B sebagai direktur keuangannya. Akibatnya: 6 bulan
kemudian kantor A tutup dengan meninggalkan banyak masalah: A sudah
teken kontrak impor barang dalam jumlah besar dengan mengandalkan L/C
maupun BG yang dijanjikan oleh B tetapi tidak pernah terbit.

Rekomendasi: Sama seperti yang tertulis di bawah Contoh I di atas.
 

Silakan kirim komentar ke: indrasonny@tjansietek.com