Himbauan kepada Pemerintah dan Bangsa Indonesia:

Paradigma Baru Pengembangan Ekonomi Indonesia

Oleh Tjan Sie Tek, M.Sc.

Penasihat Investasi dan Analis Pasar Modal

16 Oktober 2016

 

A.   Latar belakang

a.    Jumlah Utang Luar Negeri Indonesia dan Cadangan Devisa

 

Menurut SULNI September 2015, per Juli 2015, utang luar negeri Indonesia (pemerintah plus swasta) berjumlah USD 303, 673 miliar). Cadangan devisa saat ini sekitar USD 102 miliar.

 

Menurut data bps.go.id, impor Indonesia Januari sd Agustus 2015 mencapai USD 96 miliar sehingga rata-rata USD 12 miliar/bulan. Menurut SULNI di atas, total utang jatuh tempo pemerintah dan swasta selama tahun 2015 sekitar USD 45,554 miliar, atau rata-rata sekitar USD 3,795 miliar per bulan. Aturan umum di dunia adalah sebuah negeri wajib memiliki cadangan devisa yang cukup untuk impor dan pembayaran cicilan pokok plus bunga utang luar negerinya minimum 3 bulan. Jadi, jumlah cadangan devisa saat ini cukup untuk lebih dari 6 bulan total kewajiban cicilan utang pokok plus bunga dan impor. Walaupun misalnya “hot money” berjumlah USD 20 miliar dari, cadangan itu masih aman. Kerentanan nilai rupiah terhadap USD biasanya karena ketakutan dan ketamakan yang berlebihan di kalangan pemegang modal. 

 

b.    China

Selama 2001-2011 ekonomi China adalah penggerak pertumbuhan ekonomi global yang terbesar karena laju GDP-nya di atas 10%/tahun. Ekspor dan impor China meningkat tajam setiap tahun. GDP-nya naik tajam dan pendapatan per capitanya demikian. Negeri-negeri maju seperti Jepang, AS, Uni Eropa, Inggeris dll mengalami deficit dalam neraca dagang mereka dengan China. Indonesia pun demikian.

Hasilnya: (i) Saat ini China adalah konsumen bahan baku industry yang terbesar di dunia, contoh: karet, aluminium, tembaga (45%), minyak bumi (6,25 juta barel per hari, di atas AS yang sekitar 5 juta barel). Selain itu, secara nilai nominal GDP China adalah nomor dua terbesar di dunia (sekitar USD 10 triliun) setelah GDP AS (hampir USD 18 triliun).

 (ii) Banyak sekali negeri pengekspor minyak, gas, misalnya anggota OPEC menikmati surplus meningkatkan cadangan devisa mereka secara besar-besaran. Contoh: per akhir tahun 2014, SAMA Foreign Holdings, milik Saudi Arabia Monetary Authority (SAMA), memiliki kekayaan USD 671.8 miliar, nomor empat terbesar di dunia setelah pengelola dana pemerintah Norwegia (GPF dengan USD 821.2 miliar); Abu Dhabi (ADIA, USD 773 miliar); China (CIC, USD 746.7 miliar).   Qatar adalah negeri dengan pendapatan per capita terbesar di dunia (USD 102,000 per 2013).

c. Keadaan ekonomi global saat ini

1. China

Sejak 2012 mereka tidak lagi menekankan pertumbuhan ekonomi pada ekspor melainkan konsumsi dalam negeri. Akibatnya, laju ekspor menurun dan impor bahan baku dan komoditi lainnya juga turun. Anjloklah harga minyak bumi (dari di atas USD 100/barel menjadi sekitar USD 50/barel saat ini) demikian juga batubara (dari di atas USD 100/ton menjadi sekitar USD 50/ton saat ini), karet, CPO dll.

 

2. Negeri-negeri anggota OPEC dll yang mengekspor minyak dan gas bumi ke China mengalami penurunan nilai dan volume ekspor dan pendapatan negara maupun rakyatnya. Akibatnya beberapa mulai deficit APBN masing-masing. Contoh: lewat SFH, SAMA baru-baru ini menarik pulang sekitar USD 45 miliar  guna membantu menutupi deficit APBN mereka. Akibat lanjutannya: Negara dan rakyat mereka mengurangi belanja dan impor barang konsumsi dll. Akibat lebih lanjut: negeri-negeri mitra dagang mereka yang produsen bahan baku industri dan konsumsi dll seperti Indonesia, Jepang, mengalami penurunan laju ekspor mereka. Laju GDP Indonesia turun dari di atas 6%/tahun diperkirakan akan di bawah 5% untuk tahun ini.

3. AS

Para analis ekonomi dll memperkirakan laju ekonomi AS masih rentan terhadap guncangan penarikan uang yang beredar oleh the Fed karena kenaikan jumlah tenaga kerja di luar pertanian masih di bawah 200.000 ornag per bulan. Banyak perusahaan AS bahkan mulai mengurangi tenaga kerja, contohnya Twitter akan mengurangi sampai lebih dari 300 orang. Pada 16 September 2015 Bloomberg.com memberitakan bahwa HP akan mengurangi 33,300 lagi orang karyawannya. Business Insider memberitakan pada 24 September 2015 bahwa Caterpillar akan mengurangi sd 10.000 orang karyawannya.

 

 

B.   Peluang

Saat ini kita sedang mengalami bonus demografi, yaitu tingginya persentase rakyat yang masih aktif bekerja (data bps.go.id). Juga, Pemerintah dan jajarannya inovatif dan berani bertindak cepat dan pasti.

Pemerintah dan swasta sedang membangun infrastruktur public secara besar-besaran mislanya listrik, jalan tol, pelabuhan, yang dalam 1-4 tahun ke depan bisa selesai.

1.    Kerja Sama dengan Swasta untuk Produksi Barang Ekspor

Banyak perusahaan yang sudah beroperasi di dalam negeri, baik PMDN maupun PMA, sudah memiliki ekuitas besar. Contoh: Astra (IDR 123,6 triliun), Indofood (IDR 40,6 triliun), Kalbe Farma (IDR 10 triliun), Charoen Pokphand Indonesia (IDR 11,668 triliun)  per 30 Juni 2015.

Para pemilik dan manajemen mereka perlu diajak bicara dan didorong untuk mengubah arah kegiatan produksi mereka untuk lebih banyak mengekspornya dan Pemerintah memberikan insentif fiscal untuk kinerja ekspor mereka misalnya penurunan pajak penghasilan perseroan untuk perusahaan yang semakin besar porsi ekspornya dibandingkan dengan penjualan local mereka. Rumus tarifnya harus sedemikian rupa sehingga mereka tidak mengurangi nilai nominal pajak penghasilan mereka. Keuntungan bagi Pemerintah: pendapatan pajak penghasilan badan tidak akan turun karena walaupun persentase tariff pajak turun tetapi nilai sesungguhnya akan sama. Pajak penghasilan karyawan dll akan meningkat. Belanja mereka akan bertambah dan laju GDP-pun akan naik signifikan. Pengangguran akan berkurang dan kemiskinan pun demikian.

2.    Pemimpin bangsa sangat menentukan kemakmuran bangsanya

 

Negeri-negeri besar seperti Inggeris, AS, China, Jepang selalau punya pemimpin bangsa yang berani dan cerdas. Misalnya: AS memiliki George Washington yang namanya pun dijadikan ibukota mereka karena ia adalah pemimpin perang kemerdekaan AS dan presiden pertama AS selama 2 periode (8 tahun) tetapi hiodup sederhana dan tidak mau diangkat menjadi presiden untuk kali ketiga walaupun didesak oleh banyak orang padahal UUD AS pada saat itu belum membatasinya; Jepang: Jepang meluncurkan restorasi Meiji pada tahun 1866-1869 sehingga Jepang menjadi negeri Asia pertama yang modern dan masuk OECD; di China, alm. Deng Xiao Ping yang hidup sederhana tapi pragmatis dan hidupnya khusus untuk memakmurkan rakyatnya dan demikian juga para penerusnya saat ini, Xie jinping.   Tanpa mereka, riwayat negeri-negeri tersebut akan berbeda.

 

C.   Kesimpulan:

1.    Kita memiliki modal utama: pemimpin pemerintah sekarang ini yang bersih dan sederhana serta bertekad memakmurkan bangsanya. Mereka terbukti sudah bekerja amat keras dan akan mampu berbuat demikian karena memiliki mandat dari rakyat. Rakyat siap untuk bekerja keras guna mendukung program mereka karena semuanya ditujukan untuk memakmurkan rakyat.

2.    Peningkatan kemakmuran dan pembayaran utang LN Indonesia tidak cukup dengan mengandalkan keunggulan komparatif misalnya upah murah, sumder daya alam,  hasil ekspor saat ini saja, FDI maupun modal portfolio asing, melainkan hasil ekspor berbagai macam produk baik buatan pabrik yang sudah ada maupun pabrik yang akan berdiri dengan cara yang kompetitif, bukan bersifat pengganti (substitusi) saja.

3.    Fondasi ekonomi Indonesia harus diperdalam dan diperkuat melalui: pembesaran kue ekonomi dengan berbagai cara, misalnya peningkatan produksi barang yang sudah ada dengan lebih efisien dan kompetitif sehingga mampu mengekspor ke banyak negeri, termasuk China, dan inovasi, sehingga akan semakin banyak membuat produk olahan dan manufaktur lainnya dengan nilai tambah sedikit, sedang dan tinggi. Perlu banyak sekali pabrik komponen dan bahan pembantu. Bangsa kita juga bisa mengekspor produk-produk kreatif misalnya music, film, lukisan, software computer, tekstil dengan desain yang kreatif.

4.    FDI sebaiknya dibagi menjadi tiga golongan: (i) yang memasarkan mayoritas (>50,1 %) produknya ke pasar local, (ii) mengekspor mayoritas (>50,1%) produknya ke LN dan (iii) mengekspor 100% produknya. Perlakuan terhadap mereka: (i) PPh badan yang umum berlaku; (ii) PPh Perseroan dikurangi sd 10% dari laba bersih; (iii) PPh badan cukup 5% selama 10 tahun ke depan.

5.    Untuk mendorong R&D yang sangat penting untuk membantu pembesaran dan diversifikasi produk maupun jasa, Pemerintah sebaiknya menanggung biaya R&D dengan cara sebagai berikut: laba bersih setelah pajak dipotong dengan biaya R&D.

Khusus program R&D ini, sebaiknya semua perusahaan yang sudah go public dijadikan proyek percontohan selama 3-5 tahun karena umumnya system akunting dan pembukuan mereka dapat diandalkan dan takut berbuat curang karena akan mempengaruhi reputasi, harga saham, biaya utang, peringkat kredit,  dan pangsa mereka. Ini sekaligus mendorong perusahaan-perusahaan lain untuk go public sehingga nilai kapitalisasi BEI/IDX (saat ini sekitar USD 350 miliar) menjadi di atas USD 1 triliun dalam 10 tahun ke depan). Ini akan menjadikan Indonesia semakin masuk ke dalam radar investor-investor bonafid dari luar negeri. Rupiah otomatis akan semakin kokoh.

                                          Semoga bermanfaat