Inspirasi Bisnis (1): Modal China, Teknologi AS & Jepang

 

Perusahaan-perusahaan BUMN China dan pemerintah China memiliki kantong tebal. Perusahaan AS dan Jepang pun memanfaatkannya.

Pada 31 Desember 2016, media online Nikkei Asian Review memberitakan sebagai berikut:

Westinghouse Electric Corp., perusahaan AS yang merupakan salah satu unit usaha Toshiba, sekarang ini sedang berpartner dengan State Power Investment Corp. (SPIC; www.spic.com.cn) dari China untuk proyek pembangunan 4 buah reactor nuklir generasi ketiga yang terbaru sebagai  pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan kapasitas total 5.200 mW di Turki, dengan biaya sekitar USD 17 miliar (Rp 229 triliun).

 Westinghouse dan Toshiba akan sediakan peralatan tanpa ada saham sama sekali dan SPIC akan sediakan semua modal yang diperlukan. SPIC akan mendapatkan kembali uangnya plus laba dengan menjual listriknya kepada PLN Turki selama berpuluh-puluh tahun setelah proyek selesai dibangun dan menghasilkan listrik sesuai rencana.

 

SPIC, dengan aset sekitar USD 115 miliar, adalah perusahaan hasil merger State Nuclear Power Technology (SNPT) Corporation dan China Power Investment (CPI) Corporation pada tahun 2015.  Di China, SPIC adalah salah satu di antara lima buah BUMN pembangkit listrik yang terbesar. SPIC beroperasi di 36 buah negeri, a.l., Jepang, Australia, Malta, India, Turki, Pakistan, Brazil, Myanmar.

 

CPI di Kalimantan Utara

CPI adalah investor di proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Sungai Kayan, Kalimantan Utara, yang target kapasitasnya dinaikkan dari 6.080 mW menjadi 9.000 mW sehingga akan menjadi PLTA yang terbesar di Asia Tenggara (www.bulungan.prokal.co).

 

Proyek itu dirancang oleh desainer yang juga merancang bendungan terbesar di dunia yang ada di China, Three Gorges Dam (Bendungan Tiga Ngarai),  dengan kapasitas terpasang 22.500 mW (sekitar 40 % total kapasitas pembangkit listrik PLN di Indonesia), yang membendung sungai Yangtse.

ThreeGorgesDam-China2009.jpg

Bendungan Tiga Ngarai, China

 

Konstruksi PLTA Kayan akan dimulai tahun ini (2017) dan Presiden direncanakan akan melakukan peletakan batu pertamanya, dmulai dengan Bendungan Kayan I, berkapasitas 900 mW.

Ketika dirancang untuk mempunyai kapasitas 6.080 mW, investasinya diperkirakan akan mencapai USD 17 miliar (Rp 229 triliun). Dengan kenaikan target kapasitas menjadi 9.000 mW, tentu investasinya akan bertambah.

 

Kesimpulan:

1.    Silakan punya produk atau jasa yang bisa dijual di dalam negeri atau diekspor.

2.    Jika kurang modal, bisa kongsi dengan yang punya modal: keluarga, teman, tetangga, atau perusahaan atau individu asing.

3.    Untuk ekspor jasa dan produk, BUMN dan BUMD kita yang sudah jago di bidangnya masing-masing punya peluang memanfaatkan modal China untuk investasi maupun menjadi kontraktor proyek dengan cara turn key.

 

Semoga bermanfaat.