Prediksi Nilai Tukar IDR:USD

oleh Tjan Sie Tek, M.Sc.

Penasihat Investasi & Analis Pasar Modal

13 Oktober 2015

Ada banyak sekali factor yang dapat menaikkan atau menurunkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Beberapa yang sangat penting:

A.     Jangka Pendek: rupiah menguat karena modal portofolio asing (atau investasi asing yang tidak langsung) saat ini mulai kembali ke Indonesia setelah penundaan kenaikan suku bunga dana jangka pendek the Fed (bank sentral AS). Melihat rendahnya inflasi dan data ekonomi AS yang lain serta pertumbuhan ekspor-impor China yang mengesankan perlambatan pertumbuhan ekonomi China, yang merupakan konsumen bahan industri terbesar di dunia, misalnya karet alam, aluminium; saat ini sekitar 45% produksi tembaga sedunia dikonsumsi oleh China, the Fed tidak akan menaikkan suku bunga dananya dalam waktu 6 bulan ke depan.

      Harga aset di Indonesia rendah. Debt to equity ratio (DER) perusahaan-perusahaan blue chip rata-rata sehat menurut bidangnya masing-masing. Bahkan Astra International melaporkan net DER-nya hanya 0,2% per 30 Juni 2015. 

      Contoh lain: Laba perbankan di Indonesia paling tinggi di ASEAN karena net interest margin (NIM)-nya >5% sedangkan perbankan di negeri-negeri lainnya hanya menikmati NIM sebesar 2-3%. Tidak heran BCA, BRI dan Mandiri adalah bank-bank dengan nilai pasar tertinggi ketiga, kelima dan ketujuh di Asia Tenggara.

Daftar Bank Terbesar di Asia Tenggara berdasarkan Nilai Pasar 

Dikutip dari Forbes per Mei 2015

Ranking

Nama bank

Negeri

Nilai pasar
(miliar USD)

1

DBS Bank

 Singapura

37.5

2

OCBC Bank

 Singapura

31.2

3

Bank Central Asia

 Indonesia

28.9

4

United Overseas Bank

 Singapura

27.5

5

Bank Rakyat Indonesia

 Indonesia

24.9

6

Malayan Banking

 Malaysia

24.5

7

Bank Mandiri

 Indonesia

22.0

8

Public Bank Berhad

 Malaysia

20.4

9

Siam Commercial Bank

 Thailand

18.6

10

Kasikornbank

 Thailand

17.1

 

 

Naik-turunnya suku bunga dana jangka pendek the Fed mempengaruhi pasokan modal ke seluruh dunia karena jumlahnya yang besar (bisa mencapai triliunan dolar) sehingga juga mempengaruhi mata uang negeri-negeri lain, terutama yang lemah seperti rupiah karena datangnya maupun keluarnya modal, terutama sebagian yang dijadikan modal portofolio, sedangkan factor-faktor lainnya konstan. Karena itu, semua pelaku pasar modal dan ekonomi mengikuti berita-berita tentang kemungkinan naik atau turunnya suku bunga dana tersebut yang antara lain bergantung pada target inflasi, pertumbuhan GDP AS yang dipantau antara lain dengan naik-turunnya jumlah tenaga kerja yang baru direkrut di luar sector pertanian. Saat ini kenaikan jumlahnya di bawah perkiraan the Fed sehingga menunda kenaikan suku bunga dana jangka pendeknya. Hasilnya: saat ini rupiah menguat. Prediksi: pasar modal Indonesia belum dalam sehingga rentan terhadap guncangan dari dalam maupun luar negeri. Saat ini banyak spekulan mencari untung. Ada yang menganggap rupiah kemahalan dan ada yang menganggap sebaliknya.

 

B.     Jangka Sedang-Panjang: jika factor-faktor lainnya konstan, rupiah akan menguat karena pemerintah Indonesia sudah melakukan banyak hal untuk meningkatkan pertumbuhan GDP, menurunkan laju inflasi dan biaya transportasi dalam negeri (saat ini sekitar 25% dari biaya produksi barang dalam negeri), antara lain dengan mempercepat pembangunan dan memperbanyak  proyek infrastruktur, terutama prasarana transportatsi seperti jalan raya, jalan kereta api, pelabuhan udara dan laut. Pemerintah juga sudah mengeluarkan beberapa paket kebijakan yang bertujuan meningkatkan investasi dengan berbagai kemudahan, insentif fiscal, penurunan tarif listrik dan gas dll.

     

      Selain itu, pertumbuhan ekonomi China di masa dekat ini juga akan mendorong semakin banyaknya impor China dari Indonesia, misalnya CPO, karet. Saat ini China, antara lain, (1) meluncurkan program untuk mengeluarkan 70 juta orang lagi rakyatnya dari kemiskinan dengan memberikan kredit senilai 50,000 Yuan (sekitar Rp 110 juta) kepada pengusaha kecil; berarti akan ada kredit baru sebesar Rp 2.500 triliun (USD 180 miliar) tersedia untuk mendongkrak pertumbuhan ekonominya; (2) sebagian faktor penurunan laju GDP China adalah rendahnya penyerapan APBN mereka karena kasus yang mirip dengan Indonesia: karena banyaknya pejabat yang takut melaksanakan program-program belanja pemerintah mengingat sekitar 100.000 orang pejabat dan tokoh Partai Komunis China sudah diperiksa dan ditangkapi oleh Komisi Pemerintah Pusat untuk Pemeriksaan Disiplin. Jika ketakutan itu mereda dan penyerapan APBNnya naik, GDP China akan ikut naik dan impor bahan baku dan komiditi lainnya mereka pun akan naik; dan (3) program restrukturisasi sekitar 150.000 BUMN dan BUMD China, dengan aset total sekitar USD 15 triliun sedang berjalan melalui penutupan, penggabungan, go public dll. Hasil proses ini diperkirakan akan mendorong pertumbuhan GDP di atas 7% per tahun dan menjadikan banyak di antara mereka menanam modal di luar negeri, termasuk Indonesia. Contohnya: China Railway Rolling Stock Corporation (CRRC).

 

C.     Jangka sedang-panjang: jika factor-faktor lainnya konstan, laju inflasi Indonesia yang selalu di atas laju inflasi AS akan menekan nilai rupiah terhadap dolar AS.

 

Laju inflasi (%) di Indonesia dan AS (sumber: US Inflation Calculator & BPS)

Negeri

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015* perkiraan

Indonesia (BPS)

17,11

6,6

6,59

11,06

2,78

6,96

3,79

4,3

8,38

8,36

5-6%

AS (US Inflation Calculator)

3,4

2,5

4,1

0,1

2,7

1,5

3

1,7

1,5

0,8

0,2

Selisih

13,71

4,1

2,49

10,96

0,08

5,46

0,79

2,6

6,88

7,5

4,8-5,8

 

Berdasarkan teori Purchasing Power Parity (PPP), dua buah negeri yang berdagang dengan satu sama lainnya akan menjadikan surplus atau deficit perdagangan di antara mereka sebagai dasar untuk menurunkan atau menaikkan nilai tukar mata uang negeri mitra dagangnya. Negeri yang surplus akan mengalami kenaikan nilai tukar mata uangnya sehingga neraca dagang mereka normal

Selain itu, nilai tukar mata uang negeri yang inflasinya lebih tinggi akan mengalami penurunan. [Catatan: tetapi, negeri yang inflasinya lebih rendah dapat mengendalikan nilai tukar mata uangnya terhadap mata uang mitra dagangnya itu dengan memperlambat laju apresiasi mata uangnya. Contoh: Pada Januari 2015 Otorita Keuangan Singapura berupaya melambatkan apresiasi dolar Singapura terhadap mata uang-mata uang para mitra dagangnya karena inflasi harga barang-barang konsumsi di Singapura telah turun selama 10 bulan berturut-turut belakangan ini. Inilah penurunan terlama di Singapura sejak krisis 1997-1998 (Bloomberg.com, 13 Oktober 2015)].

Kedua hal itu berdasarkan anggapan bahwa factor-faktor lain yang merupakan penentu nilai tukar mata uang mereka adalah konstan.  Jika pemerintah dan rakyat Indonesia berhasil menurunkan laju inflasi dengan berbagai cara, ancaman depresiasi rupiah karena factor PPP akan berkurang, bahkan teratasi.