lijusu news

 

 

education

 

careers

 

 economy

 

health

 

 finance

 

interviews

 

 news

 

science-

tech

 

bimbingan

usaha

peluang usaha 

Sedikit tentang Sejarah Teori & Praktik Penerjemahan di China

(dikutip dari Advanced English Grammar for Translators & Teachers oleh Tjan Sie Tek, yang segera terbit)

  1. Sebelum Masehi dan Masuknya Ajaran Buddha

Di No. 2 Jilid 7 Translation Journal (2003): An Overview of Translation in China: Practice and Theory,  Prof. Zhong Wei He menulis bahwa China memiliki sejarah peradaban manusia lebih daripada 5.000 dan sejarah penerjemahan sekitar 3.000 tahun.

Pada jaman Dinasti Zhou (1046-256 SM), teori penerjemahan dibuat sebagai salah satu hasil komunikasi antara kekaisaran China dan negeri-negeri bawahannya. Dokumen-dokumen dari jaman itu menunjukkan bahwa penerjemahan dilakukan oleh para juru tulis pemerintah, yang terutama berurusan dengan penyampaian ideology. Dalam sebuah dokumen tertulis dari bagian akhir Dinasti Zhou, Jia Gongyan, seorang ilmuwan istana kaisar, mendefinisikan penerjemahan sebagai berikut:“ Penerjemahan adalah untuk menggantikan sebuah bahasa tertulis dengan bahasa lain tanpa mengubah artinya demi pengertian bersama.” Walaupun primitive, definisi itu membuktikan adanya teori penerjemahan di China kuno.

Teori Jia Gongyan itu merupakan salah satu tanggapan terhadap hal-hal umum yang dialami dalam penerjemahan dan juga terhadap seluk-beluk pengalaman penerjemahan dari sumber-sumber yang tertentu ke bahasa China. Teori itu juga berkembang dalam konteks tradisi sastra dan intelektual China.

Di kitab-kitab klasik China sebelum Dinasti Qin tercatat berbagai macam kata yang berarti translator atau interpreter, misalnya sheren, fanshe.

  1. Sejak Masuknya Ajaran Buddha

2.1 Selama Dinasti Han (206 SM-220 SM) teori penerjemahan menjadi salah satu alat untuk penyebaran pengetahuan dari luar negeri. Buddhisme mulai memasuki China menjelang pertengahan abad kesatu Masehi. Karena itu, kitab-kitab suci Buddhism yang ditulis dalam bahasa Sansekerta harus diterjemahkan ke bahasa China untuk memenuhi kebutuhan Buddhis China.

2.2 Pembabaran Agama Buddha sangat membantu kemajuan ilmu penerjemahan di China

2.2.1     Sebagian dari Penerjemah

2.2.1.1        An Shigao, seorang bhikshu dari Persia, menerjemahkan sutra-sutra Buddhis dari bahasa Sanseketra ke bahasa China dan sekaligus memperkenalkan astronomi India ke China.

2.2.1.2        Pada jaman yang sama, hiduplah Zhi Qian.

Prakata oleh Zhi Qian di salah satu karya Dinasti Liang merupakan salah satu pendapat tentang praktik penerjemahan. Prakata itu menceritakan kembali suatu anekdot bersejarah yang terjadi sekitar tahun 224 M, awal Jaman Tiga Kerajaan:”

Serombongan bhikshu Buddhis datang ke Wuchang. Salah seorang di antaranya, yang bernama Zhu Jiangyan, diminta menerjemahkan sebuah bacaan dari kitab suci Buddhisme. Bhikshu itu menerjemahkannya ke dalam bahasa China yang kasar. Ketika Zhi Qian mempertanyakan kurangnya keluwesan terjemahan, seorang bhikshu lain, yang bernama Wei Qi, menjawab bahwa arti yang dimaksudkan oleh Sang Buddha sebaiknya diterjemahkan dengan sederhana, tanpa kehilangan apa pun dan dengan cara yang mudah dipahami: hiasan sastra tidak perlu. Semua orang yang hadir setuju dan mengutip dua buah pepatah tradisional: Pepatah Laozi “Kata-kata yang indah tidak benar, kata-kata yang benar tidak indah” dan pepatah Konghucu “Perkataan tidak dapat sepenuhnya direkam oleh tulisan dan perkataan tidak dapat sepenuhnya mengungkapkan maksud.” Itulah direct translation, literal translation, atau word-for-word translation (terjemahan harfiah).

2.2.1.3 Dao An dan Sekolah Tinggi Penerjemahan pertama

Pada abad ke-5 Masehi, penerjemahan kitab-kitab suci Buddhisme secara resmi diselenggarkan secara besar-besaran di China. Sebuah Sekolah Tinggi Penerjemahan Negara didirikan untuk maksud itu. Seorang pejabat kekaisaran, yang bernama Dao An (314-385 M), diangkat sebagai direktur Sekolah Tinggi Penerjemahan yang pertama di China itu. Dao An mendukung penerjemahan harfiah yang ketat untuk kitab-kitab suci Buddhisme karena ia sendiri tidak tahu apa pun tentang bahasa Sansekerta.

Di Wikipedia: Dao An disebutkan mencela para penerjemah lain karena menghilangkan kata dan perkataan dalam terjemahan mereka sehingga ia pun bertanya:” Bagaimana perasaan mereka jika seorang penerjemah memotong bagian-bagian yang membosankan dari karya-karya klasik seperti Shi Jing atau Karya Klasik tentang Sejarah?”

Dao An menguraikan kesulitan penerjemahan dengan teorinya, Tiga Kesulitan, yaitu:

  1. Menyampaikan Ajaran Buddha kepada para pendengar yang berbeda dari para pendengar yang Sang Buddha ceramahi;
  2. Menerjemahkan perkataan seorang suciwan; dan
  3. Menerjemahkan teks-teks yang telah dengan susah-payah disusun oleh banyak generasi murid Sang Buddha.

 

Dia pun mengundang bhikshu India yang termasyur, Kumarajiva (350-410), yang lahir di Kashmir, untuk mengurus penerjemahan kitab-kita itu di sekolah tinggi itu.

Setelah melakukan riset naskah yang mendalam terhadap terjemahan sutra-sutra Sansekerta yang sebelumnya, Kumarajiva melakukan reformasi besar terhadap prinsip-prinsip dan cara-cara penerjemahan sutra-sutra itu. Ia menekankan ketepatan terjemahan sehingga ia menerapkan salah satu pendekatan penerjemahan bebas untuk menerjemahkan inti sesungguhnya sutra-sutra Sansekerta. Ia adalah orang pertama dalam sejarah penerjemahan yang menyarankan agar penerjemah membubuhkan nama-nama mereka ke karya terjemahan masing-masing. 

Di Wikipedia ada cerita sebagai berikut: suatu hari Kumarajiva mencela muridnya, Sengrui, karena menerjemahkan sebuah ungkapan bahasa Sansekerta ke bahasa China yang berarti “surga melihat manusia dan kedua-duanya saling melihat.” Kumarajiva berasa bahwa sebaiknya ditulis sebagai “manusia dan surga berhubungan, kedua-duanya dapat saling melihat,” yang menurutnya lebih bersifat perumpamaan walaupun perkataan “surga melihat manusia dan manusia melihat surga” sudah benar-benar bersifat perumpamaan.

Dalam cerita yang lain, Kumarajiva membahas penerjemahan kalimat/syair perlindungan (mantra) pada akhir sutra. Di naskah sumbernya, yaitu bahasa Sansekerta,  ada perhatian pada estetika, tetapi rasa keindahan dan bentuk sastranya (yang bergantung pada makna-makna khusus bahasa Sansekerta) hilang dalam terjemahan bahasa China-nya. Kejadiannya bagaikan kita mengunyah total nasi dan memberikannya sebagai makanan kepada orang lain.

2.2.1.3 Huiyuan (334-416 M)

Dia menerapkan teori jalan tengah dalam penerjemahan, dengan arti positif. Teorinya merupakan salah satu sintesa yang menghindarkan keekstriman keindahan dan kesederhanaan. Jika menerapkan penerjemahan yang indah, “bahasanya akan keluar dari arti” naskah sumber. “ Jika penerjemahan sederhana, “pikiran di naskah sumber melebihi perkataan.” Bagi Huiyuan, “perkataan sebaiknya tidak merusakkan arti.” Penerjemah yang baik sebaiknya “berjuang mempertahankan keaslian naskah sumber.”

2.2.1.4 Sengrui (371-438 M)

Sengrui menyelidiki masalah-masalah dalam penerjemahan benda. Tentu saja itu adalah salah satu urusan perhatian tradisional penting yang dasar klasiknya adalah nasihat Konghucu untuk “membetulkan nama-nama.” Itu bukan sekedar urusan akademis bagi Sengrui karena terjemahan yang buruk membahayakan Buddhisme. Sengrui meragukan pendekatan sambil lalu Kumarajiva dalam menerjemahkan nama-nama karena menganggap pendekatan itu berasal dari kurangnya pengetahuan Kumarajiva tentang tradisi China dalam menghubungkan nama dengan hal-hal yang sangat penting. 

2.2.1.5 Xuanzang (600-664 M) :

Teori Xuanzhang adalah Lima Hal yang Tidak Dapat Diterjemahkan, atau lima keadaan ketika seseorang sebaiknya melakukan pengalihan aksara (transliterasi). (wikipedia)

  1. Rahasia: Dharani 陀羅尼, ujaran ritual atau jampi-jampi dalam bahasa Sansekerta, yang mencakup mantra.
  2. Polisemi: bhaga (sebagaimana di Bhagavad Gita) 薄伽, yang berarti nyaman, sedang tumbuh dengan subur, martabat, nama, berutnung, dihargai.
  3. Tidak ada di China: pohon jambu閻浮樹.
  4. Penghormatan terhadap masa lalu: terjemahan untuk anuttara-samyak-sambodhi sudah ditetapkan sebagai Anouputi 阿耨菩提.
  5. Menimbulkan rasa hormat dan kebajikan: prajna 般若 sebagai pengganti kebijaksanaan (智慧).