Belajar Penerjemahan

Belajar Penerjemahan (1.1)

Dhammapada 252

Penjelasan tentang Asli Bahasa Pali dan Terjemahan Inggeris & Indonesia

Pali

Pali-Inggeris 1, 2 & 3

Pali-Inggeris 4 & 5

Pali-Indonesia 1, 2 & 3

1         &  2

a. Tidak ada perbedaan kata;

b. Hanya ada beda dalam susunan kata dan kalimat, tanpa mengubah artinya sama sekali.

 

 

-Bagian awal-tengah: terjemahan harfiah

-Bagian akhir: kalim’va kitavā saţho, atau kalim kitavā saţho iva: terjemahan kesepadanan (Inggeris 1) like a cheat, an unlucky throw (harfiah Indonesia : seperti penipu menyembunyikan dadunya yang tidak menguntungkan) ; (Inggeris 2) just as a cheating gambler hides the ill-thrown dice from others’ eyes (harfiah Indonesia: persis seperti penjudi licik menyembunyikan dadu-dadunya yang berangka buruk dari mata para penjudi yang lain); (Inggeris 3) as a cheat hides the bad die from the player (terjemahan harfiah Indonesia: seperti penipu yang menyembunyikan dadu yang berangka buruk dari pemain yang bersangkutan); terjemahan Pali-Indonesia (i) harfiah: seperti pemburu burung yang menutupi tubuhnya dengan dedaunan dan ranting; atau (ii) kesepadanan: seolah-olah dirinya suci.

- Bagian awal-akhir: terjemahan harfiah;

 

- Inggeris 5: (i) penambahan kata into prominence (menonjol, membesar) yang sebetulnya tidak perlu karena, menurut kamus Pali-Inggeris terbitan Pali Text Society, kata kerja opunāti  berarti (i) to winnow  (menampi, menyaring); (ii) to lay bare (membeberkan, membuka/mengungkapkan penuh/tuntas) dan juga sudah ada perkataan yathābhusa, atau bhusa yathā, yang padanan Inggerisnya adalah like chaff (seperti dedak).

- Bagian awal: terjemahan harfiah;

 

- bagian tengah:

a. Paresa hi so vajjani opunāti yathābhusa, atau hi so paresa vajjani bhusa yathā opunāti: (i) terjemahan harfiah: membeberkan/membuka penuh kesalahan orang lain seperti (menampi) dedak; (ii) terjemahan kesepadanan:  membeberkan/ membuka penuh kesalahan orang lain yang kecil sekali;

- bagian akhir: kalim’va kitavā saţho, atau kalim kitavā saţho iva

(i) harfiah: seperti pemburu burung yang menutupi tubuhnya dengan dedaunan dan ranting; atau (ii) kesepadanan: seolah-olah dirinya suci.

 

 

CONTOH KOREKSI TERJEMAHAN BAHASA INDONESIA BUKU

THE ESSENCE OF BUDDHA ABHIDHAMMA

FOREWORD

KATA PENDAHULUAN

KATA PENDAHULUAN

The prophecy that an able person would soon appear to contribute to the world of knowledge in the field of Buddhist

Psycho-ethical-philosophy, which we commonly appreciate as Buddha Abhidhamma, has now come true.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The prophecy was made by my revered old teacher, Bhaddanta Narada Mahathera (Aggamahapandita) who was well-known as he original Patthana Master. He made the prophecy in 1952 while I was studying Yamaka and Patthana Treatises under his guidance. He assigned me and my colleague translator, Professor Thein Nyunt, to translate his writings on Abhidhamma. The task was never fully accomplished as I was occupied with teaching at the Pali and Abhidhamma Department of the University of Yangon and later transferred to the International Institute of Advanced Buddhistic Studies at Kaba-Aye as Head of Research Department.

 

 Thereupon my disappointed old teacher, Bhaddanta Narada Mahathera, with full expectation, prophesied that pretty soon an able scholar will emerge to accomplish the noble task of presenting Abhidhamma in English to the world. So now appears a novel and authentic treatise entitled The Essence of BUDDHA ABHIDHAMMA-- by Dr. Mehm Tin Mon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dr. Tin Mon is a man of science for he was trained in the University of Illinois, U.S.A for his master degree and doctorate degree in chemistry and then he served his country for several years as Professor of Chemistry. He is also a man of arts as he has written several illustrative books on education as well as on Buddhism and his books are widely read by the public. So his approach to Abhidhamma is very scientific as well as artistic.

 

Dr. Tin Mon has been conducting long courses as well as short intensive courses on Abhidhamma in many towns throughout Myamnar. His Abhidhamma-classes draw the attention of large crowds as his unique ability to compare Abhidhamma with science as well as with western philosophy makes the subject very interesting and stimulating.

 

He emphasized the fact that the teachings  of Lord Buddha in Abhidhamma are very scientific and that Abhidhamma goes much deeper than natural sciences encompassing a much wider field.

 

As I was trained at the Harvard Divinity School and Harvard Graduate School of Arts and Sciences three decades ago, and has engaged myself as a research scholar in the field of historical, philosophical and religious sciences for many years, I heartily agree with Dr. Tin Mon in regarding Abhidhamma as the Ultimate Science—the science of the Ultimate Truths.

 

Culture, Philosophy, History and many other common mundane subjects can be studied thoroughly through the media of natural and human sciences. But the divine elements in religious studies can be probed and realized only by means of Divine Sciences. However, the ultimate supramundane things which are beyond divinity can be realized only through the Ultimate Science. So Abhidhamma or Ultimate Science surpasses all other historical, philosophical and religious sciences.

 

 Philosophy is a noble science but it cannot be said to excel all other sciences because it does not embrace the whole universality of things in Abhidhamma.

 

 

 

Abhidhamma analyses mind and matter in minute detail into ultimate realities shows the way to eternal peace call Nibbana. These ultimate realities are unknown to philosophy and all other sciences.

 

Dr. Tin Mon enlightens the readers extremely well with his BUDDHA ABHIDHAMMA—Ultimate Science. A reader can derive more benefit from this book in one week that from a life-time of pondering the philosophies of others.

 

This treatise is really a new version of the Compendium of Buddhist Philosophy after the design of the well-known book called THE ABHIDHAMMA SANGAHA—The Compendium of Buddhist Philosophy written by U Shwe Zan Aung and published by the London Pali Text Society in 1910.

 

Dr. Tin Mon perfected and augmented it still further by the extraordinary quality of his intellect and all the superb patrimony of wisdom which he inherited from his predecessors.

 

As a matter of fact, I have studied the subject in conjunction with the Ultimate Science at the Department of History and Philosophy in Harvard University from the theological point of view. But I am more thoroughly convinced and lucidly enlightened in the conception and meaningfulness of the subject only now after I have read this new book presented by Dr.Tin Mon.

 

It is really a very hard task to write than to read such a profound work like this. May all scholars therefore unanimously and sincerely welcome this superb work on Abhidhamma and may Abhidhamma enlighten the whole world.

 

 

24 December 1994

 

Sao Htun Hmat Win

M.A., A.M., S.R.F. (Harvard)

MAHA SADDHAMMA JOTIKADHAJA

Adviser to the Ministry of Religious Affairs,

Union of Myanmar

Terjemahan oleh orang lain:

Sebuah ramalan mengatakan bahwa seseorang yang piawai akan segera hadir untuk berkontribusi bagi dunia ilmu pengetahuan didalam ranah Buddhist, Psycho-ethical-philosophy, yang mana secara umum kita mengenalnya sebagai Buddha Abhidhamma, sekarang telah menjadi kenyataan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Ramalan yang dinyatakan oleh guru senior saya yang terhormat, Bhaddanta Nārada Mahāthera (Aggamahāpandita) seseorang yang sangat dikenal sebagai  Master Patthana yang sejati.  Ia membuat ramalan pada tahun 1952 ketika saya masih belajar  risalah Yamaka dan Patthana dibawah bimbingan beliau. Beliau menugaskan saya dan teman sejawat saya, sesama penterjemah, Professor Thein Nyunt, untuk menterjemahkan tulisannya dibidang Abhidhamma. Tugas tersebut tidak pernah terselesaikan dengan sempurna oleh karena saya ditugaskan mengajar di  departemen bahasa Pali dan Abhidhamma  University of Yangon dan kemudian dipindahkan ke International Institute of Advanced Buddhistic Studies  di Kaba-Aye sebagai kepala  departemen research.

 

 

 

 

 Oleh karena guru senior ku yang kecewa, Bhaddanta Narada Mahathera, dengan penuh pengharapan, meramalkan bahwa  dengan seorang putra yang baik akan datang untuk menunaikan tugas mulia ini untuk mempersembahkan Abhidhamma dalam bahasa Inggris ke dunia ini. Jadi, kini terbit  tulisan dan risalah asli yang berjudul ‘”The Essence of Buddha Abhidhamma – by Dr Mehm Tin Mon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Dr. Mehm Tin Mon adalah seorang ilmuan yang dididik di Universitas Illinois,  U.S.A., untuk mengambil gelar master dan doktor dalam bidang kimia dan kemudian  mengabdi untuk negaranya selama beberapa tahun sebagai professor dibidang ilmu kimia. Beliau juga adalah seorang seniman yang telah menulis beberapa buah buku ilustratif tentang pendidikan dan agama Buddha, yang juga banyak dibaca oleh kalangan luas. Jadi, pendekatannya dibidang Abhidhamma sangatlah saintifik dan juga artistic.

 

 

 

 

 

Dr. Mehm Tin Mon telah mengadakan kursus panjang maupun kursus intensif yang singkat tentang Abhidhamma di banyak kota di seluruh Myanmar. Kursus Abhidhamma beliau mendapat perhatian yang besar dari banyak kalangan karena kemampuan unik beliau dalam menyandingkan Abhidhamma dengan ilmu pengetahuan serta filosofi Barat sehingga membuat subjek tersebut sangat menarik dan menggoda rasa ingin tahu.

 

 

 

 Beliau menekankan pada fakta bahwa Ajaran dari Sang Buddha didalam Abhidhamma sangatlah saintifik dan Abhidhamma itu jauh lebih mendalam dari ilmu pengetahuan dan menjangkau sampai berbagai bidang secara luas.

 

 

 

Sebagaimana saya dididik di Harvard Divinity School dan Harvard Graduate School of Arts and Sciences tiga dekade yang lalu, dan telah melibatkan diri saya menjadi seorang peneliti dibidang sejarah, filsafat dan pengetahuan keagamaan selama beberapa tahun, Saya secara tulus setuju dengan Dr. Mehm Tin Mon bahwa  Abhidhamma adalah merupakan pengetahuan yang tertinggi – pengetahuan tentang kebenaran yang paling hakiki.

 

 

 

Kebudayaan, ilmu filsafat, sejarah dan banyak subjek umum yang bersifat duniawi dapat dipelajari secara menyeluruh melalui media umum dan ilmu pengetahuan duniawi. Tetapi elemen yang tertinggi dalam bidang pelajaran keagamaan hanya dapat ditelusuri dan direalisasi melalui pengetahuan tertinggi. Akan tetapi hal-hal adiduniawi tertinggi yang melampaui tingkat kesurgawian hanya dapat direalisasi melalui pengetahuan tertinggi. Jadi Abhidhamma atau Ultimate science melampaui semua ajaran historical, filsafat dan pengetahuan keagamaan lainnya.

 

 

 

 

 

 Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mulia tetapi tidak dapat dikatakan mengungguli semua ilmu pengetahuan lainnya karena tidak dapat menjangkau keseluruhan hal secara universal seperti halnya Abhidhamma.

 

 

Abhidhamma menganalisa batin dan materi sangat detail sampai ketingkat realitas hakiki dan menunjukkan jalan menuju ke kedamaian yang abadi yang disebut Nibbana. Realitas hakiki ini tidak diketahui oleh para ahli filsafat dan semua ilmu lainnya.

 

 

Dr. Mehm Tin Mon mencerahkan para pembaca dengan sangat baik melalui bukunya BUDDHA ABHIDHAMMAUltimate Science.

Pembaca dapat memperoleh lebih banyak manfaat dari buku ini dalam satu minggu dibandingkan seumur hidup mempelajari ilmu filsafat lainnya.

 

 

 Risalah tersebut benar-benar adalah sebuah versi baru dari kompendium filosofi Buddhist dengan disusunnya sebuah buku yang dikenal dengan baik sebagai ABHIDHAMMAATTHA SANGAHA—.kompendium filosofi Budhis yang ditulis oleh U Shwe Zan Aung dan dipublikasi melalui London Pali Text Society pada tahun 1910.

 

 

 

 

Dr. Mehm Tin Mon dengan begitu sempurna, melengkapinya lebih lanjut melalui kemampuan khusus dari kecerdasan dan kebijaksanaannya yang luar biasa yang diwariskan padanya dari para pendahulunya.

 

 Sesuai dengan kenyataannya, saya telah mempelajari subjek dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan yang tertinggi di Department of History and Philosophy in Harvard University dari sudut pandang teologi. Tetapi saya sepenuhnya yakin dan tercerahkan dengan baik dalam gagasan yang penuh makna atas subjek ini hanya setelah saya membaca buku baru yang dipersembahkan oleh Dr. Mehm Tin Mon.

 

 

 

 

Ini sungguh tugas yang sangat berat untuk menulis dari pada sekedar membaca hal yang mendalam seperti ini. Semoga para sarjana oleh karena itu tanpa eksepsi dan secara tulus berperan serta dalam tugas luar biasa untuk Abhidhamma ini dan semoga Abhidhamma dapat mencerahkan dunia ini.

 

 

 

24 Desember 1994

 

Sao Htun Hmat Win

M.A., A.M., S.R.F. (Harvard)

MAHA SADDHAMMA JOTIKADHAJA

Adviser to the Ministry of Religious Affairs,

Union of Myanmar

Terjemahan oleh Tjan Sie Tek:

Ramalan1 bahwa seseorang yang piawai akan segera hadir untuk memperluas2 dunia pengetahuan dalam ranah filsafat psiko-etika Buddhis, yang secara umum kita pahami sebagai Ajaran Khusus Sang Buddha (Abhidhamma Sang Buddha)3, sekarang telah menjadi kenyataan.

 

Catatan: 1.a. Asli Bahasa Inggeris kalimat ini mulai dengan kata sandang “the” yang menunjukkan bahwa “prophecy” (ramalan) sudah dibicarakan atau disebutkan sebelumnya, yaitu sebelum buku ini ditulis; 1.b. Kata sandang “sebuah”, “suatu” dan kata-kata sandang lain yang searti menunjukkan sesuatu yang belum dibicarakan atau disebutkan sebelumnya. Padanan kata-kata sandang tersebut dalam Bahasa Inggeris adalah “a” atau “an.”;

 

2. Kata kerja Inggeris “contribute” yang diikuti “to” berarti “memperluas,” memperbanyak,” “menambah” atau kata kerja lain yang searti; dan

3.a. Dalam konteks ini, kata majemuk Inggeris “Buddha Abhidhamma” berarti “ Ajaran Khusus Sang Buddha” atau “Abhidhamma Sang Buddha;” 3.b.  Ungkapan “Buddha Abhidhamma” tidak mengikuti aturan tata Bahasa Inggeris tentang kasus kepemilikan untuk orang ketiga tunggal “Buddha”, yaitu “Buddha’s,” sehingga seharusnya menjadi “Buddha’s  Abhidhamma.” Namun, tata bahasa Inggeris mengijinkan penulis buku, novel, penyair, penyusun puisi dan lagu serta sejenisnya menyimpang dari aturan tata bahasa yang umum dan ijin ini kelihatan dimanfaatkan dengan baik oleh penulis buku ini, Dr. Mehm Tin Mom; 3.c. Dalam bahasa Pali, sebaiknya ditulis sebagai “Buddhāna Abhidhammam.”

 

 

 Ramalan itu dibuat oleh guru senior saya yang mulia,  Bhaddanta Nārada Mahāthera (Aggamahāpandita) yang terkenal sebagai  Ahli4 Patthana yang sejati.  Beliau membuat ramalan itu pada 1952 ketika saya sedang mempelajari5  Risalah-Risalah Yamaka dan Patthana di bawah bimbingan beliau. Beliau menugaskan saya dan sejawat saya yang penerjemah, Profesor Thein Nyunt, untuk menerjemahkan tulisan-tulisan beliau tentang Abhidhamma. Tugas itu tidak pernah diselesaikan dengan sepenuhnya karena saya sibuk mengajar di  Bagian Bahasa Pali dan Abhidhamma  Universitas Yangon dan kemudian dipindahkan ke Lembaga Internasional Pengkajian Buddhisme Lanjut  di Kaba-Aye sebagai kepala  Bagian Penelitian.

 

Catatan: 4. Jika diikuti oleh kata lain yang menunjukkan suatu bidang atau ilmu, kata benda Inggeris“master” berarti “ahli;” 5. Kata kerja “mempelajari” adalah padanan kata kerja Inggeris “study” yang berarti “mempertimbangkan dengan rinci atau menguraikan secara mendalam untuk menemukan ciri-ciri atau makna inti,” bukan sekedar “belajar.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 Setelah itu6, guru senior saya  yang kecewa tersebut, Bhaddanta Narada Mahathera, dengan pengharapan penuh, meramalkan bahwa  dengan segera sekali ilmuwan7 yang cakap  akan muncul untuk menunaikan tugas mulia mempersembahkan Abhidhamma dalam bahasa Inggris ke dunia. Karena itu, kini terbit  risalah baru dan asli yang berjudul “Intisari Abhidhamma Buddha oleh  Dr. Mehm Tin Mon.

 

Catatan:

6. Kata Inggeris  “thereupon” sama dengan “thereafter;”

7.a. Kata Inggeris “scholar” berarti “sarjana” atau “ilmuwan.” Mengingat kata “sarjana” sekarang berarti seseorang yang bergelar strata satu (S1), padahal dalam bahasa Inggeris, kata “scholar” berarti seseorang yang terpelajar dalam humaniora atau yang karena belajar lama telah menguasai sebuah bidang ilmu pengetahuan atau lebih, kata “ilmuwan” adalah padanan yang tepat untuk “scholar;”

7.b. Dalam konteks ini, akhiran “-wan” berarti “orang yang memiliki banyak,” misalnya “hartawan,” “ilmuwan,” “dermawan.” sehingga berbeda dari dari akhiran “-an” yang umumnya berarti “ yang di_“, misalnya “buatan,” “tulisan.”

 

Dr. Mehm Tin Mon adalah ilmuwan karena beliau berkuliah di Universitas Illinois,  AS, untuk mendapatkan gelar S2 (magister) dan S3 (doktor) dalam  ilmu kimia dan kemudian beliau  mengabdi untuk negara beliau selama beberapa tahun sebagai profesor  ilmu kimia. Beliau juga adalah seniman karena  beliau telah menulis beberapa buah buku bergambar tentang pendidikan dan agama Buddha. Buku-buku beliau banyak dibaca oleh masyarakat. Jadi, pendekatan beliau  terhadap Abhidhamma sangat ilmiah dan berseni.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dr. Mehm Tin Mon telah mengadakan kursus-kursus yang panjang maupun yang singkat dan padat tentang Abhidhamma di banyak kota di seluruh Myanmar. Kelas-kelas Abhidhamma beliau mendapat perhatian banyak orang karena kemampuan unik beliau dalam membandingkan Abhidhamma dengan ilmu pengetahuan serta filosofi Barat sehingga membuat mata pelajaran tersebut sangat menarik dan menimbulkan semangat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Beliau menekankan fakta bahwa Ajaran Sang Buddha dalam Abhidhamma sangat ilmiah dan bahwa Abhidhamma menembus jauh lebih dalam daripada ilmu pengetahuan alam sehingga mencakup bidang yang jauh lebih luas.

 

 

 

 

 

 

 

Sebagaimana saya berkuliah di Fakultas Teologi Harvard dan Fakultas Pascasarjana Seni dan Ilmu Pengetahuan Harvard tiga dekade yang lalu dan telah melibatkan diri saya sebagai ilmuwan peneliti dalam ilmu sejarah, filsafat dan keagamaan selama beberapa tahun, saya secara tulus setuju dengan Dr. Mehm Tin Mon dalam memandang  Abhidhamma sebagai Ilmu Pengetahuan yang Tertinggi – yaitu ilmu pengetahuan tentang Kebenaran-Kebenaran yang Tertinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 Kebudayaan, filsafat, sejarah dan banyak soal duniawi yang umum dapat dipelajari secara mendalam melalui media ilmu-ilmu alam dan kemanusiaan. Namun, hal-hal surgawi dalam pengkajian keagamaan dapat diselidiki  dan dicapai hanya melalui Ilmu Pengetahuan Surgawi. Namun, hal-hal di atas duniawi dan tertinggi yang di luar teologi dapat dicapai hanya melalui llmu Pengetahuan yang Tertinggi tersebut. Jadi,  Abhidhamma atau Ilmu Pengetahuan yang Tertinggi melampaui semua ilmu sejarah, filsafat dan keagamaan lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Filsafat adalah salah satu ilmu pengetahuan yang mulia tetapi tidak dapat dikatakan mengungguli semua ilmu pengetahuan lainnya karena filsafat tidak mencakup sifat umum keseluruhan  hal-hal yang ada dalam Abhidhamma.

 

 

 

 

 

Abhidhamma menguraikan batin dan materi dengan amat rinci menjadi kenyataan-kenyataan yang tertinggi dan menunjukkan jalan menuju ke kedamaian abadi yang disebut Nibbana. Kenytaan-kenyataan yang tertinggi tersebut tidak diketahui oleh filsafat dan semua ilmu pengetahuan lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

Dr. Mehm Tin Mon mencerahkan para pembaca dengan teramat baik melalui buku beliau “ABHIDHAMMA SANG BUDDHA—Ilmu Pengetahuan yang Tertinggi”

Pembaca dapat memperoleh lebih banyak manfaat dari buku ini dalam satu minggu dibandingkan dengan seumur hidup merenungi falsafah-falsafah orang lain.

 

 

 

 

 

 Risalah ini benar-benar versi baru The Compendium of Buddhist Philosophy (Ringkasan Filsafat Buddhis) menurut rancang bangun buku terkenal yang berjudul “The ABHIDHAMMATTHA SANGAHA - The Compendium of Buddhist Philosophy” (Kitab Penjelasan Abhidhamma – Ringkasan Filsafat Buddhis) yang ditulis oleh U Shwe Zan Aung dan diterbitkan oleh Himpunan Ahli Naskah Pali London pada 1910.

 

 

 

 

 

 

 

Dr. Mehm Tin Mon telah menyempurnakan dan melengkapinya lebih lanjut melalui mutu luar biasa kecerdasan beliau dan semua warisan kebijaksanaan hebat yang beliau dapatkan dari para pendahulu beliau.

 

 

 

 

 

 Sebenarnya, saya telah mempelajari soal itu bersama-sama dengan Ilmu Pengetahuan yang Tertinggi di Bagian Sejarah dan filsafat di Universitas Harvard dari sudut pandang teologi. Tetapi, saya lebih benar-benar yakin dan dengan jernih tercerahkan dalam gagasan dan kepenuh-maknaan soal itu baru sekarang ini setelah saya membaca buku baru ini yang dipersembahkan oleh Dr. Mehm Tin Mon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sungguh tugas yang sangat berat untuk menulis daripada membaca karya sedemikian mendalam seperti buku ini. Karena itu, semoga para ilmuwan secara bulat dan tulus menyambut karya yang hebat tentang Abhidhamma ini dan semoga Abhidhamma mencerahkan seluruh dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

24 Desember 1994

 

Sao Htun Hmat Win

M.A., A.M., S.R.F. (Harvard)

MAHA SADDHAMMA JOTIKADHAJA

Penasihat  Kementerian Agama,

Uni Myanmar